Medan, Gesuri.id - Suasana di SD Muhammadiyah 09 Medan pada Rabu (24/6) pagi terasa berbeda. Senyum kepala sekolah dan para guru merekah lebih lebar dari biasanya. Sejumlah pengurus Muhammadiyah yang hadir tampak bersemangat menyambut tamu istimewa yang selama ini hanya mereka lihat melalui pemberitaan dan media sosial.
Di tengah kesibukan menyambut kedatangan Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, Kepala SD Muhammadiyah 09 Medan, Rini Rahmayani, mengaku sulit menyembunyikan rasa harunya.
Baginya, kunjungan ini bukan sekadar agenda formalitas anggota dewan, melainkan jawaban atas doa-doa yang selama ini ia panjatkan.
"Kalau diibaratkan, saya seperti anak kecil yang mendapat boneka. Saya sampai melompat-lompat kegirangan di depan para guru ketika mendapat kabar Bapak Sofyan Tan akan datang ke sekolah kami," kenang Rini sambil tersenyum.
Baca: Ini Resep Ganjar Pranowo Yang Selalu Fit dan Bugar

Tiga hari sebelum kunjungan, Rini dihubungi oleh staf Sofyan Tan. Awalnya ia mengaku sempat bingung. Namun, rasa bingung itu segera berubah menjadi kebahagiaan luar biasa begitu mengetahui bahwa legislator yang dikenal peduli pada dunia pendidikan tersebut berniat mengunjungi sekolahnya.
"Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Saya sering melihat sekolah-sekolah yang dikunjungi Pak Sofyan Tan dan selalu berharap suatu hari beliau hadir ke SD Muhammadiyah 09. Alhamdulillah, doa itu akhirnya terkabul," ujarnya.
Kebahagiaan tersebut sangat beralasan. Selama ini, Sofyan Tan secara konsisten mengawal penyaluran beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) untuk sekolah tersebut. Tahun ini, sebanyak 124 dari sekitar 200 siswa SD Muhammadiyah 09 Medan tercatat sebagai penerima manfaat PIP—jumlah terbanyak sepanjang sejarah sekolah tersebut berdiri.
Kunjungan ini terasa kian krusial karena SD Muhammadiyah 09 Medan saat ini tengah berjuang memberikan pendidikan terbaik di tengah keterbatasan fasilitas. Beberapa ruang kelas yang digunakan siswa sudah berusia lebih dari tiga dekade dan kondisinya tidak lagi layak.

Pada bangunan lantai atas, lantainya masih menggunakan papan kayu yang mulai melapuk dimakan usia. Sementara di lantai bawah, plafon bangunan tampak usang dan membutuhkan perbaikan serius demi menjamin keselamatan kegiatan belajar mengajar.
Mendengar kondisi tersebut, usai menggelar silaturahmi bersama orang tua siswa, Sofyan Tan spontan berinisiatif meninjau langsung ruang kelas yang dimaksud. Ia memperhatikan setiap sudut bangunan dengan saksama sembari berdialog mengenai tantangan yang dihadapi pihak sekolah.
Momen dramatis yang membuat seluruh guru dan kepala sekolah terkejut sekaligus terharu terjadi di sela-sela peninjauan. Di hadapan kepala sekolah, para guru, dan jajaran Pimpinan Cabang Muhammadiyah, Sofyan Tan langsung menelepon Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti.
Melalui sambungan telepon tersebut, Sofyan Tan memaparkan kondisi mendesak ruang kelas SD Muhammadiyah 09 Medan yang membutuhkan revitalisasi. Respons cepat pun langsung datang dari Menteri Abdul Mu’ti. Ia meminta pihak sekolah segera mengajukan proposal usulan agar proyek rehabilitasi gedung sekolah dapat diprioritaskan.

Suasana seketika berubah haru. Harapan yang semula hanya tertuang dalam doa, kini selangkah lagi menjadi kenyataan.
"Ruang kelas berlantai kayu itu usianya sudah lebih dari 30 tahun dan papan-papannya mulai lapuk. Kami sangat berharap rehabilitasi ini segera terealisasi agar anak-anak bisa belajar dengan aman dan nyaman," harap Rini.
Bagi Sofyan Tan, memperjuangkan fasilitas pendidikan bukan sekadar menjalankan tugas konstitusi. Ia meyakini bahwa pendidikan adalah akar utama untuk memutus mata rantai kemiskinan dan masalah sosial, termasuk tingginya angka kriminalitas di Kota Medan seperti aksi begal.
"Kenapa orang membegal, mencuri, dan melakukan tindak kriminal lainnya? Karena miskin. Kenapa miskin? Karena tidak ada pekerjaan. Kenapa tidak ada pekerjaan? Karena investor atau pelaku usaha tidak mau membuka usaha di daerah yang kualitas sumber daya manusianya belum baik. Dan semua itu bermula dari pendidikan yang belum dijadikan prioritas," tegas Sofyan Tan.
Oleh karena itu, ia mengapresiasi konsistensi Muhammadiyah yang sejak awal fokus pada sektor pendidikan dan kesehatan. "Simbol Muhammadiyah adalah Sang Surya yang menerangi. Artinya, menerangi masa depan bangsa melalui pendidikan dan kesehatan," tambahnya.

Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda
Di hadapan para guru dan orang tua murid, legislator asal Sumatra Utara ini juga membagikan kisah hidupnya yang penuh keterbatasan. Lahir sebagai anak seorang penjahit miskin, Sofyan tumbuh bersama sembilan saudaranya di sebuah rumah berdinding tepas, berlantai tanah, dan beratap nipah di kawasan Sunggal.
"Saya bahkan hampir diberikan kepada orang lain karena kondisi keluarga saat itu sangat miskin. Di daerah tempat tinggal saya dulu, hampir tidak ada sarjana. Namun, keterbatasan tidak membuat saya menyerah. Saya ngotot harus sekolah," kenangnya.
Tekad kuat itulah yang berhasil mengantarkannya menjadi seorang dokter, hingga akhirnya kini dipercaya menjadi anggota DPR RI yang konsisten memperjuangkan hak-hak pendidikan bagi masyarakat kurang mampu.
Hubungan erat Sofyan Tan dengan Muhammadiyah sendiri telah terjalin lama sejak ia menjabat sebagai Ketua Presidium Forum Nasional Usaha Kecil Menengah (UKM), di mana ia aktif melakukan pembinaan terhadap ibu-ibu Aisyiyah di Kota Medan.
Kegiatan kunjungan ini turut dihadiri oleh Pembina dan Pengawas SD Muhammadiyah 09 Medan Iwan Darmawan, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Jhon April, Ketua Majelis Dikdasmen dr. Wahyu, serta jajaran guru dan pengurus Muhammadiyah setempat.

















































































