Jakarta, Gesuri.id - Jajaran Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Jakarta Timur bersama Ketua Pengurus Anak Cabang (PAC) se-Jakarta Timur menggelar audiensi dengan Wali Kota Administrasi Jakarta Timur, Munjirin, beserta jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) di Gedung Pola, Senin (6/4/2026).
Ketua DPC PDI Perjuangan Jakarta Timur, Dwi Rio Sambodo, mengapresiasi sikap kooperatif Pemkot Jakarta Timur selama ini. Menurutnya, PDI Perjuangan memegang teguh konsep tiga pilar—partai, legislatif, dan eksekutif—yang harus bersinergi dalam menjalankan kerja-kerja kerakyatan.
"Dari tiga pilar partai, kami rutin mengadakan pertemuan setiap empat bulan, salah satunya melalui agenda reses. Sejauh ini, koordinasi reses yang melibatkan lurah dan camat berjalan sangat baik dan partisipatif," ujar Rio yang juga menjabat sebagai Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Jakarta.
Meski demikian, Rio memberikan catatan kritis mengenai persoalan sosial di Jakarta Timur. Ia menegaskan bahwa kemiskinan dan ketimpangan masih menjadi "Pekerjaan Rumah" (PR) besar bagi partai berlambang banteng tersebut.
"Dengan tema 'Setia Menempuh Jalan Rakyat', PDI Perjuangan konsisten berjuang mengatasi masalah pengangguran dan ketersediaan sembilan bahan pokok bagi warga Jakarta Timur," tegas mantan Ketua GMNI tersebut.
Rio juga menyoroti pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Ia menyayangkan masih banyak warga yang belum mengetahui proses Musrenbang hingga tingkat kelurahan. Selain itu, masalah mikro seperti saluran air tersumbat penyebab banjir, parkir liar, pengelolaan sampah, hingga jalan rusak tetap menjadi keluhan utama.
Di sektor pendidikan, Rio menyinggung fenomena putus sekolah yang masih ditemukan. "Ada siswa sekolah negeri yang putus sekolah bukan karena faktor ekonomi. Ini menunjukkan perlunya pembinaan lebih mendalam terhadap orang tua murid," tambahnya.

Respon Wali Kota Jakarta Timur
Wali Kota Jakarta Timur, Munjirin, menyambut baik masukan tersebut. Ia mengakui bahwa penataan wilayah Jakarta Timur tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah, melainkan butuh kolaborasi dari berbagai stakeholder.
Munjirin mengungkapkan salah satu tantangan sanitasi yang cukup serius di wilayahnya. "Terkait kemiskinan dan ketimpangan, ada sekitar 23.000 warga yang masih buang air besar (BAB) sembarangan. Ini problematik yang harus diselesaikan, salah satunya dengan percepatan pembangunan septic tank bagi masyarakat," jelas Munjirin.
Selain itu, ia memaparkan inovasi Pemkot dalam menekan angka tawuran pelajar dan konflik antarwarga, yakni dengan memfasilitasi sasana tinju. "Di bawah Tol Pasar Rebo, kami merangkul sekitar 9 hingga 10 kelompok gangster untuk diarahkan ke kegiatan positif melalui olahraga tinju," pungkas mantan Wali Kota Jakarta Selatan tersebut.
Audiensi ini turut dihadiri oleh Wakil Wali Kota Jakarta Timur Uus Kusmanto, Sekretaris Kota (Sekko) Eka Darmawan, serta 10 Camat se-Jakarta Timur.

















































































