Ikuti Kami

Prof. Rokhmin Bongkar Penyebab 70 Persen Bantuan Bioflok KKP Gagal

"Mesin aerasi yang diberikan dalam paket bantuan daya-nya terlalu kecil, hanya sekitar 100 watt. Mana kuat mengaduk air kolam

Prof. Rokhmin Bongkar Penyebab 70 Persen Bantuan Bioflok KKP Gagal
Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan sekaligus Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan sekaligus Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S., mengungkap persoalan mendasar yang menyebabkan sekitar 70 persen program bantuan budidaya ikan sistem bioflok dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) belum berjalan maksimal. 

Berdasarkan hasil peninjauan di Desa Belawa, Kabupaten Cirebon, persoalan tersebut salah satunya bersumber dari kapasitas mesin aerasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan kolam.

"Mesin aerasi yang diberikan dalam paket bantuan itu daya-nya terlalu kecil, hanya sekitar 100 watt. Mana kuat mengaduk air kolam diameter besar? Akibatnya oksigen di dasar kolam sangat rendah, proses biologisnya terganggu, flok tidak terbentuk sempurna. Ikannya mabuk, pakannya boros, dan akhirnya merugi," tegas Prof. Rokhmin, dikutip dari Instagram wewara_rctv, Minggu (1/11/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan RI periode 2001–2004 itu saat mengunjungi Kelompok Belawa Selfish di Desa Belawa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon. Kelompok tersebut merupakan salah satu penerima bantuan program budidaya ikan sistem bioflok dari KKP.

Menurut Prof. Rokhmin, persoalan teknis berupa kapasitas aerasi yang tidak memadai dapat mengganggu proses pembentukan flok sebagai sumber pakan alami ikan. Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya kadar oksigen di dasar kolam, terganggunya proses biologis, hingga meningkatnya penggunaan pakan pelet yang berujung pada kerugian pembudidaya.

Namun, di tengah berbagai persoalan pelaksanaan program bioflok, Kelompok Belawa Selfish justru menunjukkan keberhasilan melalui inovasi yang dilakukan secara mandiri. Kelompok yang digawangi pembudidaya muda bernama Bayu tersebut memodifikasi mesin aerasi dengan meningkatkan daya menjadi 200 hingga 300 watt untuk setiap kolam.

Inovasi tersebut memberikan hasil positif terhadap produktivitas budidaya. Dengan sirkulasi dan suplai oksigen yang lebih optimal, pembentukan flok berjalan lebih baik sehingga mampu menekan kebutuhan pakan dan meningkatkan pertumbuhan ikan.

"Di sini buktinya. Penggunaan pakan pelet bisa dihemat hingga 30 persen, kebutuhan ganti air jauh berkurang, pertumbuhan ikan lebih cepat, dan hasil panen meningkat drastis. Kuncinya hanya satu: kecukupan aerasi," jelas Prof. Rokhmin sambil menunjuk kolam bioflok yang airnya terus berputar kencang.

Melihat keberhasilan tersebut, Prof. Rokhmin menilai Kelompok Belawa Selfish layak dijadikan contoh pengembangan budidaya ikan sistem bioflok di tingkat nasional. Ia juga menegaskan akan membawa temuan tersebut sebagai bahan evaluasi dan pembelajaran dalam rapat resmi bersama KKP di DPR RI.

Menurutnya, program bantuan pemerintah harus disusun berdasarkan kebutuhan teknis dan kondisi nyata di lapangan. Dengan demikian, bantuan yang diberikan tidak sekadar memenuhi target penyaluran, tetapi benar-benar mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat pembudidaya.

"Kelompok Belawa Selfish harus menjadi model nasional. Bantuan yang baik itu harus sesuai kebutuhan lapangan, bukan sekadar menggugurkan kewajiban program. Dengan aerasi yang tepat, bioflok ini luar biasa, bisa benar-benar menghemat pakan, meningkatkan produktivitas, dan menyejahterakan pembudidaya," ujarnya.

Selain meninjau budidaya bioflok, kunjungan kerja Prof. Rokhmin juga menyentuh potensi wisata konservasi dan edukasi Kura-Kura Belawa yang menjadi salah satu kekhasan Desa Belawa.

Ia menilai desa tersebut memiliki dua potensi unggulan yang dapat dikembangkan secara beriringan, yakni budidaya perikanan untuk memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat serta konservasi kura-kura endemik sebagai daya tarik wisata edukasi.

"Ini paket komplit. Bioflok untuk memperkuat kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat. Sementara konservasi Kura-Kura Belawa untuk menjaga kelestarian plasma nutfah endemik yang tidak ada di tempat lain, sekaligus mendorong ekonomi baru berbasis wisata edukasi. Keduanya harus saling mendukung," ungkapnya.

Kunjungan tersebut diakhiri dengan dialog bersama para pembudidaya serta komitmen untuk mengawal perbaikan pelaksanaan program bantuan bioflok di berbagai daerah. Prof. Rokhmin berharap persoalan teknis, khususnya ketidaksesuaian kapasitas mesin aerasi, menjadi perhatian serius KKP agar program bantuan pemerintah benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Quote