Ikuti Kami

Rieke Diah Pitaloka Kutuk Keras Serangan Rudal AS ke Sekolah Putri di Iran: "Ini Kejahatan Kemanusiaan Keji!"

Rieke mempertanyakan efektivitas retorika global mengenai hak perempuan jika agresi militer masih bebas menyasar mereka di zona konflik.

Rieke Diah Pitaloka Kutuk Keras Serangan Rudal AS ke Sekolah Putri di Iran:
Anggota DPR RI sekaligus aktivis perempuan, Dr. Rieke Diah Pitaloka, M.Hum

Jakarta, Gesuri.id  – Peringatan Hari Perempuan Internasional (HPI) 2026 yang jatuh hari ini diwarnai duka mendalam. 

Anggota DPR RI sekaligus aktivis perempuan, Dr. Rieke Diah Pitaloka, M.Hum, menyampaikan pernyataan sikap keras terkait tragedi serangan rudal Amerika Serikat yang menghantam Sekolah Putri Shajerah Tayyebeh di Minab, Iran, 28 Februari 2026 lalu.

Insiden brutal tersebut merenggut nyawa 165 orang, yang mayoritas korbannya adalah siswi berusia 7 hingga 12 tahun serta para guru perempuan yang tengah mengabdi.

Baca: Ganjar Pranowo Ungkap Masyarakat Takut dengan Pajak 

Ironi Tema "For All Women and Girls"

Rieke menilai tragedi ini merupakan tamparan keras bagi tema global HPI 2026, "For All Women and Girls". 

Menurutnya, seruan perlindungan hak perempuan dan anak menjadi tidak berarti ketika ruang pendidikan yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru menjadi sasaran militer.

"Fakta bahwa sekolah menjadi target rudal menunjukkan kegagalan total sistem perlindungan warga sipil dalam konflik internasional. Saya mengutuk keras pembunuhan ini. Menjadikan perempuan dan anak sebagai target 'teror' untuk melumpuhkan musuh adalah kejahatan kemanusiaan yang sangat keji," tegas Rieke dalam pernyataan tertulisnya di Jakarta, Minggu (8/3).

165 Mimpi yang Dipadamkan Paksa

Bagi Rieke, angka 165 korban jiwa bukan sekadar statistik. Ia menekankan bahwa serangan tersebut telah memadamkan paksa mimpi anak-anak yang seharusnya tumbuh menjadi pilar peradaban.

"Mereka adalah anak-anak yang seharusnya belajar dan guru-guru yang gugur di medan pengabdian. UNESCO telah menegaskan bahwa menyerang fasilitas pendidikan adalah pelanggaran berat hukum humaniter internasional. Pertanyaannya, di mana tindakan dunia?" lanjutnya dengan nada getir.

Rieke mempertanyakan efektivitas retorika global mengenai hak perempuan jika agresi militer masih bebas menyasar mereka di zona konflik. "Untuk perempuan dan anak perempuan mana dunia ini bicara, jika rudal masih bebas membunuh mereka di ruang kelas?"

Baca: Ganjar Tekankan Kepemimpinan Strategis 

Tuntutan Investigasi Internasional

Menutup pernyataannya, aktivis yang dikenal vokal ini mendesak komunitas internasional untuk segera mengambil langkah konkret:

1. Investigasi Independen: Menuntut dilakukannya penyelidikan menyeluruh atas dugaan kejahatan perang ini.

2. Hentikan Agresi: Mendesak penghentian segera keberingasan militer yang menjadikan warga sipil, khususnya perempuan dan anak, sebagai sasaran antara.

3. Solidaritas Global: Mengajak dunia untuk mendengar "gugatan nurani" dari tangisan para ibu di Iran.

"Di Hari Perempuan Sedunia ini, saya memilih untuk tidak merayakan. Saya memilih untuk bersuara lantang: Hentikan membunuh masa depan! Hentikan kekerasan terhadap perempuan di zona konflik!" pungkas Rieke.

Quote