Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., menegaskan Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang digagas pemerintah tidak boleh hanya berhenti pada pembangunan infrastruktur fisik di darat.
Menurutnya, program tersebut harus dirancang sebagai solusi menyeluruh untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan melalui pembangunan ekosistem usaha perikanan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
"Kami di Komisi IV DPR RI menegaskan bahwa Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) jangan hanya berfokus pada pembangunan fasilitas darat, tetapi harus menjawab persoalan nelayan secara menyeluruh," kata Prof. Rokhmin dalam unggahan di akun Instagram pribadinya @rokhmindahuriid, Kamis (6/8/2026).
Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004 itu menjelaskan, berbagai program pemberdayaan nelayan selama ini kerap tidak memberikan hasil optimal karena hanya menyentuh sebagian persoalan.
Menurutnya, pembangunan dermaga, balai pertemuan, maupun gudang penyimpanan tidak akan cukup apabila nelayan masih menghadapi keterbatasan teknologi penangkapan, minimnya fasilitas penyimpanan hasil tangkapan, hingga belum adanya kepastian pasar.
Oleh sebab itu, Prof. Rokhmin mendorong agar KNMP dibangun sebagai ekosistem usaha perikanan yang saling terintegrasi, mulai dari modernisasi teknologi penangkapan ikan, sistem penanganan dan penyimpanan hasil tangkapan, penguatan rantai dingin (cold chain), hingga sistem distribusi yang mampu memotong ketergantungan nelayan terhadap tengkulak.
"Nah, sarannya, untuk Kampung Nelayan terutama, karena tujuan utamanya adalah peningkatan kesejahteraan nelayan, maka komponen kegiatannya jangan hanya fasilitas darat. 'Kalau sekarang kan hanya pembangunan cold storage, pabrik es, BBM nelayan, kemudian tambat labuh kapal dan seterusnya'," ucapnya.
Menurut Prof. Rokhmin, terdapat empat komponen tambahan yang harus menjadi bagian dari pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat pesisir.
Komponen pertama adalah penerapan teknologi penangkapan ikan yang lebih efisien sekaligus ramah lingkungan agar hasil tangkapan meningkat tanpa merusak sumber daya laut.
"Teknologi Penangkapan yang efisien sekaligus ramah lingkungan, supaya hasil tangkapnya lebih besar dan penghasilannya lebih besar," ujarnya.
Komponen kedua adalah penguatan sistem penanganan ikan sejak di laut hingga tiba di pelabuhan perikanan. Ia menilai persoalan ini masih menjadi masalah struktural yang menyebabkan kerugian besar bagi nelayan.
"Handling Ikan dari laut sampai ke pelabuhan perikanan. Karena problem struktural nelayan sampai saat ini salah satunya adalah nelayan tidak membawa es, tidak membawa cool box, tidak ada cold storage di dalam kapal. Jadi 20 persen hasil tangkapan di laut terbuang karena busuk," ungkapnya.
Komponen ketiga adalah memastikan adanya pembeli atau buyer yang siap menyerap hasil tangkapan nelayan sehingga seluruh infrastruktur yang dibangun benar-benar memberikan nilai ekonomi.
"Harus ada Pembeli atau Buyer. Jangan sampai kita membangun cold storage, pabrik es, tapi pembelinya nggak datang. Sama saja nanti derita untuk nelayan, begitu mendaratkan ikan nggak ada pembelinya," jelasnya.
Sementara komponen keempat ialah penyediaan armada angkutan berpendingin untuk mendukung distribusi hasil tangkapan dari kampung nelayan menuju pusat-pusat pemasaran.
"Angkutan Berpendingin. Mobil yang berpendingin dari kampung nelayan itu sendiri ke daerah-daerah pemasaran. Misalnya di kampung saya Cirebon, harusnya Kampung Nelayan itu memiliki armada angkutan berpendingin untuk memasarkan ikan dari Cirebon ke Bandung, ke Kuningan dan daerah-daerah market yang lain," tuturnya.
Selain pembangunan infrastruktur dan ekosistem usaha, Prof. Rokhmin juga menekankan pentingnya tata kelola program yang profesional. Menurutnya, pengelolaan KNMP melalui Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) harus dilakukan oleh sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan integritas.
"Pengelolaannya melalui KDMP juga harus dijalankan oleh SDM yang profesional, kompeten, dan berintegritas agar program tepat sasaran serta benar-benar meningkatkan produktivitas, pendapatan, dan kesejahteraan nelayan secara berkelanjutan," tegasnya.
Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University itu menambahkan, kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penentu keberhasilan Program Kampung Nelayan Merah Putih. Tanpa pengelola yang profesional dan berintegritas, program yang telah dirancang dengan baik berpotensi tidak mencapai tujuan dan tidak memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan nelayan.

















































































