Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Rokhmin Dahuri, menyampaikan keprihatinan atas lonjakan harga gabah yang kini tembus lebih dari Rp7.000/kg.
Hal ini terungkap saat dirinya menyerap aspirasi petani dan pelaku usaha penggilingan padi di Indramayu yang mengaku kesulitan menyesuaikan harga beras di tengah permintaan tinggi.
“Lonjakan ini dipicu keputusan petani menjual gabah dengan harga lebih tinggi. Di satu sisi menguntungkan petani, tapi di sisi lain menekan penggilingan padi,” ujar Rokhmin melalui akun TikTok @rokhmindahuriofficial, Jumat (29/8).
Namun, lonjakan ini membawa tantangan baru bagi penggilingan padi. Harga beras kualitas medium super kini berkisar Rp13.800–Rp14.000 per kilogram, dengan margin keuntungan yang sangat tipis—hanya sekitar Rp1.500 per kilogram.
"Sayangnya, margin keuntungan bagi penggilingan sangat tipis, hanya sekitar Rp1.500/kg karena rendahnya rendemen (57–58%). Membuat pelaku usaha harus putar otak agar tetap bertahan," ujarnya.
Rektor Universitas UMMI Bogor ini menegaskan, kebijakan pangan nasional harus mampu menjaga keseimbangan antara kesejahteraan petani dan keterjangkauan harga bagi masyarakat.
“Ini akan saya perjuangkan di DPR. Jangan sampai rakyat menjerit saat petani panen raya,” tegasnya.
Situasi ini menjadi perhatian khusus bagi Prof. Rokhmin untuk diperjuangkan di parlemen. Ia menekankan pentingnya kebijakan stabilisasi pangan yang tidak hanya menguntungkan petani, tetapi juga menjaga keterjangkauan harga beras bagi masyarakat.
“Yang kita perjuangkan adalah keseimbangan: harga gabah yang menguntungkan petani, dan harga beras yang tetap terjangkau,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu.