Sleman, Gesuri.id – Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, terus memperkuat komitmennya dalam menekan angka stunting dan tuberkulosis (TBC).
Salah satu strategi utama yang diambil adalah dengan mengoptimalkan peran Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) hingga ke tingkat kalurahan (kelurahan).
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menegaskan bahwa TP-PKK merupakan mitra strategis pemerintah yang bersentuhan langsung dengan akar rumput.
Baca: Kisah Perjuangan Ganjar dari Mahasiswa Sampai Jadi Capres
"Tim Penggerak PKK menjadi mitra strategis untuk mengedukasi masyarakat terkait pentingnya mencegah stunting sejak dini," ujar Danang saat memimpin diskusi bersama TP-PKK Kabupaten Sleman di Rumah Dinas Bupati Sleman, Kamis.
Danang, yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Sleman, menjelaskan bahwa penanganan stunting harus dilakukan secara hulu ke hilir. Menurutnya, pencegahan stunting tidak bisa mendadak, melainkan harus dipersiapkan bahkan sebelum pernikahan terjadi.
"Mencegah stunting itu tidak dilakukan saat ibu sudah mengandung. Bahkan, sudah harus kita lakukan jauh sebelum itu, yaitu sejak calon ibu masih dalam masa remaja. Hal ini penting untuk kita pahami bersama," tutur Danang.
Oleh karena itu, ia meminta setiap Kelompok Kerja (Pokja) PKK mengambil peran aktif sesuai bidangnya. Mulai dari edukasi pola asuh, pendidikan keluarga, pemenuhan ketahanan pangan, hingga perbaikan sanitasi lingkungan yang layak.
Selain stunting, Danang juga menyoroti pentingnya peran keluarga dalam memutus rantai penularan TBC. Sinergi TP-PKK dari tingkat kabupaten hingga kalurahan dinilai menjadi kunci utama dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat.
Ia pun meminta agar fungsi Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) kembali diperkuat di tengah masyarakat. "Posyandu bisa menjadi media yang baik untuk menyampaikan edukasi kepada orang tua agar memahami langkah yang tepat untuk membangun keluarga yang kuat," tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua TP-PKK Kabupaten Sleman, Parmilah Harda Kiswaya, memaparkan data capaian kesehatan di wilayahnya. Ia mengungkapkan bahwa angka prevalensi stunting di Sleman menunjukkan tren positif.
Baca: Ganjar Pranowo Pimpin Demo Hari Antikorupsi
Pada tahun 2025, angka stunting di Sleman berhasil ditekan menjadi 4,29 persen, turun dari tahun 2024 yang berada di angka 4,41 persen. Kendati demikian, tantangan besar masih ada pada penanganan TBC. Berdasarkan data tahun 2025, jumlah kasus TBC di Sleman tercatat masih menyentuh angka 2.542 kasus.
Parmilah menegaskan, TP-PKK berkomitmen untuk terus mengawal upaya pencegahan ini, termasuk memberikan pendampingan psikologis maupun sosial bagi keluarga yang anggotanya terjangkit TBC.
"Dibutuhkan kerja sama seluruh pihak untuk menyatukan komitmen dalam menekan stunting dan TBC. Upaya pencegahan dan pendampingan harus berjalan beriringan," pungkas Parmilah.

















































































