Ikuti Kami

Sofyan Tan Rancang Budidaya Hidroponik Perkotaan yang Dikelola Anak Disabilitas

Teknik hidroponik menjadi solusi ideal untuk aktivitas produktif di kawasan perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan.

Sofyan Tan Rancang Budidaya Hidroponik Perkotaan yang Dikelola Anak Disabilitas
Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan,

Medan, Gesuri.id – Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, menginisiasi rencana pengembangan budidaya tanaman berbasis hidroponik yang pengelolaannya akan melibatkan anak-anak penyandang disabilitas.

Gagasan tersebut disampaikan Sofyan saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Budidaya Tanaman Berbasis Hidroponik yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Komisi X DPR RI, Sabtu (12/9/2026).

Menurut Sofyan, teknik hidroponik menjadi solusi ideal untuk aktivitas produktif di kawasan perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan. Masyarakat tidak lagi memerlukan lahan luas untuk menghasilkan sayuran berkualitas dengan penggunaan air serta nutrisi yang lebih efisien dibanding pertanian konvensional.

Baca: Ganjar Bangga dengan Kualitas Bahan Aspal Karya Anak Bangsa

"Ruang-ruang yang ada lebih baik kita isi dengan tanaman hidroponik daripada gosip. Selain menghasilkan tanaman, kegiatan ini juga bisa memberikan nilai ekonomi dan keuntungan," ujar Sofyan di hadapan para peserta.

Untuk mewujudkan niat tersebut, Sofyan mengungkapkan bahwa ia telah menyiapkan dan membeli sebidang lahan khusus. Ia menegaskan, pelibatan anak-anak penyandang disabilitas dalam pengelolaan hidroponik ini merupakan langkah nyata untuk membuka ruang pemberdayaan serta kemandirian ekonomi bagi kelompok tersebut.

"Saya sudah beli lahan. Saya mau membuat tanaman hidroponik dan nanti yang mengerjakan anak-anak disabilitas," ungkapnya.

Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda

Sofyan juga menekankan bahwa penyandang disabilitas memiliki potensi besar yang harus difasilitasi, bukan dipandang sebelah mata. Siklus produksi hidroponik yang relatif cepat, seragam, dan fleksibel dipanen dinilai sangat cocok untuk menjadi sarana berkarya bagi mereka.

"Anak-anak disabilitas tetap berguna sekalipun mereka dianggap tidak berguna. Disabilitas bukan sesuatu yang haram dan bukan sampah. Saya ingin melibatkan disabilitas dengan tanaman hidroponik," tegas Sofyan.

Dalam kegiatan Bimtek tersebut, hadir pula sebagai pemateri yakni Prof. Aris Pramudia dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN. Ia memaparkan konsep dasar pertanian perkotaan serta prinsip fotosintesis, sekaligus memandu para peserta melakukan praktik langsung budidaya hidroponik menggunakan dua wadah berbeda.

Quote