Ikuti Kami

Sonny Danaparamita Gandeng LPPNU Dorong Penguatan Ketahanan Pangan

"Kalau yang diperjuangkan di NU ini biasa disebut kaum mustadhafin (golongan yang dilemahkan), di kami mengistilahkannya kaum marhaen."

Sonny Danaparamita Gandeng LPPNU Dorong Penguatan Ketahanan Pangan
Anggota Komisi IV DPR RI Sonny T. Danaparamita.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI Sonny T. Danaparamita mendorong penguatan ketahanan pangan melalui kolaborasi dengan Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Kabupaten Banyuwangi. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyaluran 1.000 bibit tanaman produktif, seperti alpukat dan durian okulasi.

"Kalau yang diperjuangkan di NU ini biasa disebut kaum mustadhafin (golongan yang dilemahkan), di kami mengistilahkannya kaum marhaen. Dua diksi tersebut hakikatnya memiliki makna yang sama," kata Sonny.

Bantuan hasil sinergi dengan Kementerian Kehutanan melalui BPDAS tersebut diserahkan dalam pelantikan Pengurus LPPNU Banyuwangi masa khidmat 2026-2030 di Yayasan Roudlotul Huda, Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu, dikutip Minggu (16/8/2026).

Sebanyak 500 bibit langsung ditanam dan diserahkan secara simbolis dalam kegiatan bertema “Menghijaukan Bumi, Memperkuat Ketahanan Pangan: Khidmah LPPNU untuk Banyuwangi”. Sementara 500 bibit lainnya akan didistribusikan secara bertahap melalui LPPNU di tingkat Majelis Wakil Cabang (MWC) NU.

Sonny mengatakan kolaborasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi dan lingkungan, tetapi juga menjadi bentuk sinergi kelompok nasionalis dan Nahdliyin dalam memperjuangkan kesejahteraan masyarakat.

Politisi PDI Perjuangan itu menyebut semangat tersebut memiliki akar sejarah yang panjang antara kelompok nasionalis dan Nahdlatul Ulama. Ia mengingatkan hubungan tersebut telah terjalin sejak era Presiden pertama RI Soekarno.

Sonny juga menyinggung pemberian gelar Waliyul Amri Ad-Dharuri bis-Syaukah kepada Soekarno oleh ulama NU dalam forum Konferensi Alim Ulama se-Indonesia.

Menurut dia, kaum marhaen dan mustadhafin sama-sama menggambarkan kelompok masyarakat yang membutuhkan keberpihakan agar dapat keluar dari kondisi yang menekan.

"Menurut Bung Karno, kaum marhaen pada dasarnya adalah masyarakat yang dimiskinkan oleh sistem yang menindas, sama halnya dengan kaum mustadhafin yang selalu dibela oleh NU," ujarnya.

Wakil Ketua Umum DPP Persatuan Alumni GMNI itu juga mengaitkan kolaborasi tersebut dengan sejarah lahirnya Hari Santri Nasional. Ia menyebut penetapan Hari Santri tidak terlepas dari dorongan dua alumni GMNI, yakni KH Thoriq bin Ziyad dan Dr Achmad Basarah.

"Dari dorongan dua tokoh inilah, lahir kontrak politik pada Pemilu 2014 yang berujung pada penetapan Keppres tentang Hari Santri. Kehadiran saya di sini adalah upaya menjaga soliditas sesama syubbanul wathon yang akan terus bergerak bersama," tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Sonny juga menegaskan pentingnya pengurus LPPNU tidak hanya menjalankan tugas administratif. Menurutnya, pendampingan langsung kepada petani diperlukan agar program ketahanan pangan benar-benar memberikan dampak.

Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi H Achmad Turmudzi sebelumnya meminta pengurus LPPNU aktif turun ke lapangan dan mendengarkan persoalan yang dihadapi petani.

"Pengurus LPPNU harus rajin turun ke bawah, mendengarkan keluhan di sawah-sawah, dan mencarikan solusi atas persoalan pertanian," kata Achmad.

Sonny menyatakan siap mendukung langkah tersebut melalui kapasitasnya sebagai anggota Komisi IV DPR RI yang membidangi pertanian, kehutanan, kelautan dan perikanan, serta lingkungan hidup.

Kesiapan tersebut juga disampaikan menyusul rencana LPPNU Banyuwangi menyalurkan tiga alat pertanian kepada MWC NU Songgon, Singojuruh, dan Kabat pada Oktober mendatang.

"Insyaallah, sebagai Anggota Komisi IV DPR RI saya siap berkolaborasi penuh. Mari kita dampingi petani kita demi terwujudnya masyarakat yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur, yang dalam bahasa konstitusi kita adalah terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," ungkap Sonny.

Selain membahas pertanian dan ketahanan pangan, Sonny juga berbicara mengenai pentingnya menghidupkan nilai-nilai yang melekat pada karakter santri. Meski mengaku tidak pernah mengenyam pendidikan pesantren, Sonny mengatakan terus berupaya menerapkan nilai tawadhu, semangat belajar sepanjang hayat, sikap moderat, serta kecintaan terhadap tanah air.

Ia mengutip pandangan KH A Mustofa Bisri atau Gus Mus bahwa karakter santri tidak semata-mata ditentukan oleh pengalaman mondok, tetapi juga tercermin dari sikap dan perilaku sehari-hari.

Sonny mencontohkan sikap tawadhu yang ia praktikkan saat tiba di lokasi acara. Ia memilih berjalan kaki dari tempat parkir karena merasa kurang pantas membawa kendaraan terlalu dekat dengan panggung tempat para kiai duduk.

"Saya merasa kurang adab kalau mobil saya harus berhenti hanya beberapa meter dari panggung tempat para kiai duduk. Ini bentuk tawadhu saya," ujarnya, disambut tawa hadirin.

Ia juga menyebut semangat belajar harus terus dijaga. Saat ini, Sonny tengah menyelesaikan pendidikan doktoral dan berpegang pada filosofi Ki Hadjar Dewantara bahwa setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah.

Melalui penyaluran bibit produktif dan komitmen pendampingan petani, Sonny berharap sinergi dengan LPPNU Banyuwangi dapat terus berkembang. Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya menghijaukan lingkungan, tetapi juga meningkatkan produktivitas pertanian dan memperkuat ketahanan pangan masyarakat.

Quote