Ikuti Kami

Terganjal Data Desil Tinggi, Seribu Calon Mahasiswa di Medan Terancam Gagal Dapat KIP Kuliah

Al Fadri pun tak kuasa menahan tangis menyaksikan perjuangan ayahnya.

Terganjal Data Desil Tinggi, Seribu Calon Mahasiswa di Medan Terancam Gagal Dapat KIP Kuliah

Jalarta, Gesuri.id - Napas Muhammad Surya Simatupang tersengal. Setiap kali menyelesaikan satu kalimat, buruh harian lepas itu harus menarik napas panjang untuk mengumpulkan sisa tenaganya. Namun, bukan sekadar lelah fisik yang membebani tubuhnya, melainkan impian sang anak untuk duduk di bangku kuliah yang kini terancam kandas.  

​Pada Senin (31/8/2026), Surya mendampingi putranya, Muhammad Al Fadri Simatupang, mendatangi Rumah Aspirasi dr. Sofyan Tan di Medan. Mereka membawa harapan sederhana: perbaikan data desil agar Al Fadri berhak menerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.  

​Namun, harapan itu kembali diuji. Data terbaru menunjukkan status mereka masih tertahan pada Desil 6–10—kategori yang menilai keluarga mereka tergolong mampu sehingga tidak berhak menerima bantuan. Surya terdiam dengan mata berkaca-kaca. Setelah berulang kali mengurus perbaikan data sejak Juli, ia akhirnya hanya bisa pasrah.  

Baca: Kisah Perjuangan Ganjar dari Mahasiswa Sampai Jadi Capres

​"Tinggal berserah diri saja ini, Nak. Apabila tidak ada perubahan desil, kita jalani lah nasib ini," ucap Surya lirih sambil menahan air mata.

Padahal, kondisi ekonomi keluarga Surya jauh dari kata mampu. Tim Rumah Aspirasi dr. Sofyan Tan yang melakukan survei ke kediaman mereka di Jalan Kapten Muslim, Kelurahan Dwikora, Medan Helvetia, mendapati rumah sewa berdinding papan lapuk ber cat putih dengan lantai semen yang retak-retak. 

Sehari-hari, Surya mengandalkan pendapatan sebagai buruh harian dan pengemudi ojek online di tengah kondisi fisiknya yang sering sakit-sakitan, sementara istrinya bekerja sebagai asisten rumah tangga.  

​Surya mengaku telah mengurus perubahan data ke kepala lingkungan, Dinas Sosial, hingga pengisian mandiri melalui aplikasi Badan Pusat Statistik (BPS) sejak awal Agustus, namun status desilnya tak kunjung berubah.  

​Al Fadri pun tak kuasa menahan tangis menyaksikan perjuangan ayahnya. Bagi keluarga ini, kuliah bukan sekadar meraih gelar, melainkan jalan keluar untuk memutus rantai kemiskinan.  

Baca: Ganjar Bangga dengan Kualitas Bahan Aspal Karya Anak Bangsa

​Surya bukan satu-satunya orang tua yang memendam cemas. Puluhan keluarga lain turut mendatangi Rumah Aspirasi dengan keluhan serupa. 

Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat lebih dari seribu calon mahasiswa di Medan yang nasibnya menggantung akibat terkendala tingginya angka desil pada sistem. ​Salah satunya Purnama Siregar yang mendampingi putrinya, Christy Natalia Nababan. 

"Sudah hampir sebulan kami tunggu, tidak berubah juga desilnya. Masih bisakah anak saya kuliah?" tuturnya pilu.  

​Bagi para orang tua ini, masa pendaftaran tahun ajaran baru makin mendesak. Namun, selama pintu kesempatan belum sepenuhnya tertutup, mereka memilih untuk terus berjuang—sebab bagi seorang ayah dan ibu, impian anak meraih pendidikan terlalu berharga untuk dilepaskan begitu saja.

Quote