Ikuti Kami

Yeremia Mendrofa Tegaskan Desil 10 Bukan Otomatis Kaya, Desil 1 Bukan Berarti Tak Berpenghasilan

Yeremia meminta masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan status kesejahteraan hanya dari besaran pengeluaran bulanan.

Yeremia Mendrofa Tegaskan Desil 10 Bukan Otomatis Kaya, Desil 1 Bukan Berarti Tak Berpenghasilan
Anggota Komisi V DPRD Banten, Yeremia Mendrofa.

Jakarta, Gesuri.id - Anggapan bahwa masyarakat dengan pengeluaran sekitar Rp3 juta per bulan otomatis masuk kategori sangat kaya dinilai tidak tepat. Penentuan tingkat kesejahteraan masyarakat tidak dapat disederhanakan hanya melalui satu indikator angka nominal.

Anggota Komisi V DPRD Banten, Yeremia Mendrofa, menegaskan bahwa penentuan desil dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) merupakan pemeringkatan kondisi sosial ekonomi rumah tangga secara relatif yang melibatkan banyak variabel.

Baca: Ini 3 Faktor yang Membuat Ganjar Pranowo Menjadi Capres Terkuat!

“Belum bisa kita katakan demikian karena belum ketahuan variabel yang digunakan saat pengelompokan dan survei. Perlu diluruskan, desil bukan berarti seseorang yang masuk Desil 10 otomatis 'orang kaya', atau Desil 1 otomatis berarti tidak memiliki penghasilan,” ujar Yeremia, Senin (18/8).

Menurut Yeremia, masyarakat perlu memahami bahwa posisi desil 1 hingga desil 10 menggambarkan skala peringkat sosial ekonomi, bukan label absolut atas tingkat kekayaan seseorang. Oleh karena itu, ia meminta masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan status kesejahteraan hanya dari besaran pengeluaran bulanan.

Ia mendesak pemerintah agar memberikan penjelasan secara transparan mengenai mekanisme pengelompokan DTSEN. 

Baca: Kisah Perjuangan Ganjar dari Mahasiswa Sampai Jadi Capres

Menurutnya, transparansi ini penting agar tidak menimbulkan kesalahpahaman publik, sekaligus memberi ruang bagi masyarakat untuk melakukan koreksi jika data yang tercatat tidak sesuai dengan realita di lapangan.

Penguatan pemahaman publik terkait DTSEN dinilai sangat krusial mengingat data tersebut menjadi acuan utama berbagai kebijakan strategis, khususnya penyaluran bantuan dan perlindungan sosial.

“Jangan sampai data menjadi lebih penting daripada kenyataan di lapangan,” tegas Yeremia.

Quote