Ikuti Kami

Rocky Gerung di Public Lecture Jogja: "Saya Percaya Jogja Takkan Jadi Kandang Gajah!"

Rocky menegaskan bahwa Yogyakarta harus tetap menjadi benteng terakhir akal sehat.

Rocky Gerung di Public Lecture Jogja:
Pengamat politik dan filsuf Rocky Gerung.

Yogyakarta, Gesuri.id – Pengamat politik dan filsuf Rocky Gerung memberikan pernyataan  yang membakar semangat ratusan intelektual muda di Yogyakarta.

Dalam acara Public Lecture Series 002 yang diinisiasi oleh wadah Pandu Negeri, Rocky menegaskan bahwa Yogyakarta harus tetap menjadi benteng terakhir akal sehat dan menolak menjadi "Kandang Gajah" bagi para pemburu kekuasaan pragmatis.

Berbicara di hadapan mahasiswa, aktivis, dan akademisi di kawasan Embung Giwangan, Rocky menyebut Yogyakarta sebagai daerah yang memiliki "imunitas" terhadap pendangkalan intelektual. Baginya, Jogja adalah sebuah Community of Thought (Komunitas Berpikir) yang tidak boleh tunduk pada desain politik yang hanya mengandalkan elektabilitas tanpa intelektualitas.

Baca: Ganjar Pranowo Tegaskan PDI Perjuangan Tetap Kokoh

"Jogja ini adalah tempat di mana orang datang untuk bertengkar secara akademis. Jangan sampai ruang ini dirampas oleh makhluk-makhluk pragmatis dan rakus yang ingin merampas hak generasi," tegas Rocky, Senin (18/2/2026).

Ia berbicara dalam acara yang di-host Pandu Negeri dengan Youtube (https://www.youtube.com/live/BtDbDUN58as?si=ZSv3FIZZRUvKZoT1).

Metafora "Kandang Gajah" yang dilemparkan Rocky merujuk pada kekhawatiran akan dominasi kekuatan besar atau elit politik yang mencoba menjinakkan nalar kritis masyarakat Yogyakarta demi kepentingan kekuasaan sesaat.

Dalam orasi yang penuh gaya akrobatik berpikir itu, Rocky juga menyentil kondisi pendidikan tinggi saat ini. Ia menilai banyak institusi yang terjebak dalam formalitas gelar namun kehilangan substansi nilai.

"Kita hari ini mengalami surplus ijazah, tapi defisit value. Banyak lulusan S3 akhirnya hanya jadi supir ojek karena negara tidak mampu menyediakan ruang bagi pikiran mereka. Kenapa? Karena struktur teknokratis kita lebih banyak dikuasai oleh para dealer (pedagang kekuasaan), bukan leader," sindir Rocky disambut tepuk tangan riuh.

Rocky juga memperingatkan adanya potensi creeping authoritarianism atau otoritarianisme yang merangkak naik. Menurutnya, satu-satunya cara untuk menghalangi hal tersebut adalah dengan menghidupkan kembali "Komunitas Epistemik"—kelompok masyarakat yang mendasarkan tindakannya pada kebenaran rasional dan argumentasi ilmiah.

"Mem-back up negeri ini dengan ide dan pikiran dimaksudkan untuk mengembalikan nalar publik menjadi grammar of the town (bahasa sehari-hari warga). Itu pentingnya oposisi, itu pentingnya Jogja tetap kritis," tambahnya.

Baca: Ganjar Tekankan Kepemimpinan Strategis 

Respon Peserta: Antara Harapan dan Skeptisisme

Pernyataan Rocky ini seolah menjadi jawaban atas keresahan yang disampaikan penanggap dari kalangan pelajar. Otniel Rahadianta dari Forum Komunikasi Pengurus OSIS Yogyakarta sebelumnya mengeluhkan betapa kaku dan bungkamnya sistem pendidikan saat ini terhadap ide-ide baru anak muda.

Menanggapi hal itu, Rocky mengajak generasi muda Jogja untuk tidak takut dicap subversif jika itu demi mempertahankan hak atas pikiran mereka.

"Kalau universitas marah, kanalisasinya apa? Pasti demonstrasi. Jadi kalau pemerintah menganggap demonstrasi berbahaya, lho mereka sendiri yang menciptakan kondisi sehingga hanya demonstrasi yang bisa menjadi bentuk partisipasi generasi," tegasnya.

Acara yang dipandu oleh Aryo Seno Bagaskoro ini ditutup dengan harapan besar agar spirit "Anti-Kandang Gajah" ini terus diseminasi ke kampus-kampus lain di seluruh Indonesia, menjadikan Yogyakarta sebagai episentrum perlawanan intelektual terhadap pragmatisme politik.

Quote