AWAN mendung Perang Dunia II kian pekat menaungi bumi Nusantara. Pada 4 Agustus 1945, langkah strategis bangsa mulai diayunkan.
Rencana pengeboman Hiroshima oleh Sekutu telah matang disetujui di pasifik. Sementara itu, suhu politik di Asia Tenggara bergolak sangat hebat.
Bung Karno bersiap melakukan perjalanan rahasia yang amat menentukan sejarah. Ia memenuhi panggilan Marsekal Terauchi menuju Dalat, Vietnam.
Langkah berani ini diambil Bung Karno bersama Mohammad Hatta dan Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat. Mereka melangkah pasti demi membahas masa depan kemerdekaan Indonesia.
Ketokohan Bung Karno memancar kuat dalam memimpin rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) di awal Agustus 1945. Kharismanya membakar semangat juang para tokoh bangsa yang hadir.
Di hadapan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Bung Karno berpidato lantang. Ia menyerukan rakyat untuk segera mengakhiri penindasan penjajah Jepang.
Mengutip Tempo yang digali dari berbagai sumber, Bung Karno mengajak rakyat Indonesia untuk segara mengakiri masa penjajahan Jepang. Istilah "jagung matang" mengacu kepada ramalan Jayabaya tentang kependudukan Jepang selama 3,5 tahun di Indonesia.
Dua hari sebelum Amerika Serikat meluluhlantakkan Hiroshima dengan bom atomnya, Indonesia berdiri tegak di ambang fajar kemerdekaan sejati.

















































































