NTT, Gesuri.id - Mantan Sekretaris DPD BaraJP NTT yang juga Kader PDI Perjuangan, Hildebertus Seli, meminta mantan presiden ke-7 Jokowi untuk stop lakukan pencitraan sebab rakyat lagi susah.
Ia menyebut dirinya adalah bagian dari BaraJP (Barisan Relawan Jokowi Presiden) yang sejak 2013 berada di garis depan memenangkan Joko Widodo di Nusa Tenggara Timur.
"Bersama rekan-rekan relawan, saya mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan nama baik untuk meyakinkan rakyat bahwa Jokowi adalah harapan baru bagi demokrasi Indonesia," ungkapnya, Jumat (31/7/2026).
Pada tahun 2018, lanjutnya, BaraJP menyelenggarakan Rakornas di Rote Ndao yang dihadiri langsung oleh Joko Widodo. Momentum itu menjadi salah satu bagian dari kerja politik yang ikut memperkuat kemenangan Jokowi di NTT pada Pilpres 2019.
"Saya masih ingat bagaimana setiap kedatangan Jokowi ke NTT kami sambut dengan semangat yang luar biasa. Kami memperlakukannya dengan penghormatan yang begitu tinggi; dalam perasaan saya saat itu, seolah-olah Tuhan sendiri datang mengunjungi NTT. Begitu besar keyakinan dan harapan yang kami letakkan pada sosok yang kami percaya akan menjaga demokrasi dan kepentingan rakyat."
"Hari ini, saya menyesali kepercayaan itu," tandasnya.
Hildebertus menilai di penghujung masa kekuasaannya, Jokowi tidak lagi mencerminkan harapan yang dahulu mereka perjuangkan. Arah politik yang berkembang justru membuat pertanyaan komitmen terhadap demokrasi, etika kekuasaan, dan semangat reformasi.
Sebagai mantan relawan Jokowi, ia merasa perjuangan mereka telah disia-siakan. "Kami tidak berjuang untuk melahirkan politik yang, menurut penilaian saya, justru menimbulkan kesan bahwa kepentingan kekuasaan ditempatkan di atas kualitas demokrasi," ujarnya.
Sementara itu, saat ini rakyat Indonesia sedang menghadapi berbagai kesulitan. Karena itu, menurutnya, yang dibutuhkan bukan lagi pencitraan politik atau manuver untuk menjaga popularitas, melainkan sikap kenegarawanan, tanggung jawab moral, dan dukungan nyata terhadap pemerintahan yang sedang menghadapi berbagai tantangan.
"Saya tidak akan diam hanya karena pernah menjadi relawan. Kesetiaan kepada demokrasi harus lebih besar daripada kesetiaan kepada seorang tokoh. Ketika saya menilai demokrasi mengalami kemunduran, maka berbicara adalah kewajiban moral."
"Jokowi, stop pencitraan. Rakyat lagi susah. Dengarkan suara rakyat, bukan tepuk tangan kekuasaan," pungkasnya.

















































































