Ikuti Kami

Hizkia Darmayana: Salib Merah Dalam Aksi 28 Oktober, Manifestasi Teologi Pembebasan

Teologi Pembebasan merupakan gerakan pemikiran teologis yang berkembang di Amerika Latin pada dekade 1960-an dan 1970-an.

Hizkia Darmayana: Salib Merah Dalam Aksi 28 Oktober, Manifestasi Teologi Pembebasan
Pengamat Sosial Hizkia Darmayana. (istimewa)

Jakarta, Gesuri.id - Pengamat Sosial Hizkia Darmayana menilai kemunculan salib merah berukuran besar yang digotong massa Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dalam aksi demonstrasi di Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026), dapat dimaknai sebagai manifestasi Teologi Pembebasan. Menurutnya, simbol tersebut menunjukkan bagaimana nilai-nilai keagamaan dapat hadir di ruang publik sebagai ekspresi solidaritas dan perlawanan terhadap ketidakadilan sosial.

Hizkia menjelaskan, Teologi Pembebasan merupakan gerakan pemikiran teologis yang berkembang di Amerika Latin pada dekade 1960-an dan 1970-an sebagai respons terhadap kemiskinan struktural, ketimpangan sosial, penindasan politik, dan rezim otoriter-militeristik.

Gerakan ini salah satunya dipelopori oleh imam Katolik asal Peru, Gustavo Gutiérrez, melalui bukunya A Theology of Liberation (Teología de la liberación). Karya tersebut menjadi salah satu fondasi intelektual penting bagi perkembangan Teologi Pembebasan.

“Teologi Pembebasan mengajarkan bahwa iman tidak boleh berhenti sebagai renungan spiritual yang terpisah dari realitas kehidupan masyarakat. Iman juga harus diwujudkan melalui keberpihakan kepada kaum miskin, kelompok tertindas, dan mereka yang hak-haknya dirampas,” ujar Hizkia, Kamis (29/10/2026).

Ia menerangkan, Teologi Pembebasan memadukan pembacaan Kitab Suci dengan analisis sosial untuk memahami akar kemiskinan dan ketidakadilan. Dalam perkembangannya, sejumlah pemikir gerakan ini juga menggunakan analisis yang dipengaruhi Marxisme untuk mengkritik relasi kuasa, eksploitasi ekonomi, serta struktur sosial yang melanggengkan penindasan.

“Yang dikritik bukan sekadar kemiskinan sebagai keadaan individual, melainkan struktur sosial, ekonomi, dan politik yang membuat kemiskinan serta ketidakadilan terus direproduksi. Dalam perspektif ini, iman menuntut keterlibatan nyata untuk mengubah keadaan yang merendahkan martabat manusia,” tegasnya.

Hizkia mengungkapkan, kemunculan salib merah dalam demonstrasi terinspirasi oleh film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale. Dokumenter tersebut mengangkat kehidupan masyarakat adat Papua Selatan yang menghadapi tekanan akibat ekspansi proyek pembangunan, pembukaan hutan, serta konflik atas tanah adat dan ruang hidup mereka.

Dalam konteks tersebut, salib merah yang digunakan masyarakat adat tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga menjadi penanda wilayah adat dan simbol penolakan terhadap aktivitas yang dianggap mengancam tanah leluhur mereka.

Menurut Hizkia, simbol salib merah memperoleh makna sosial-politik ketika digunakan untuk menyuarakan penderitaan masyarakat adat yang mempertahankan hak atas tanah, hutan, dan keberlanjutan kehidupan mereka.

“Ketika masyarakat adat Papua menggunakan salib merah untuk menegaskan keberadaan dan mempertahankan tanah leluhurnya, simbol tersebut hadir sebagai pernyataan bahwa tanah bukan sekadar komoditas ekonomi. Tanah adalah ruang hidup, identitas, sejarah, dan sumber penghidupan yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat adat,” ujarnya.

Bagi Hizkia, kehadiran salib merah dalam aksi demonstrasi memperlihatkan bahwa simbol keagamaan dapat memperoleh makna yang lebih luas ketika dibawa ke tengah persoalan sosial. Agama tidak hanya berbicara mengenai hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mengenai tanggung jawab moral manusia terhadap sesamanya.

Ia menilai, pembacaan tersebut sejalan dengan gagasan utama Teologi Pembebasan, yakni keberpihakan kepada kaum miskin dan kelompok marginal. 

“Ketika agama berpihak kepada mereka yang tertindas, iman tidak lagi menjadi sekadar urusan pribadi. Ia hadir di tengah masyarakat sebagai kekuatan moral untuk menentang ketidakadilan dan memperjuangkan kehidupan yang lebih bermartabat. Itulah semangat Teologi Pembebasan yang dapat kita baca dari simbol salib merah tersebut,” pungkas Hizkia.

Quote