Surabaya, Gesuri.id — Peran mantan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, dinilai sangat krusial dalam menyelamatkan dan mengoneksikan nilai sejarah di kawasan Peneleh.
Hal tersebut disampaikan oleh penggiat cagar budaya dan sejarah Surabaya, Kuncarsono, saat ditemui di Rumah Sejarah HOS Tjokroaminoto, Senin (11/8).
Kuncarsono mengungkapkan bahwa tanpa inisiasi dan intervensi kebijakan dari Risma pada masa jabatannya, revitalisasi kawasan Peneleh sebagai salah satu ekosistem penting lahirnya bangsa Indonesia mungkin tidak akan terhubung dengan baik.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
"Kalau tidak ada Bu Risma, mungkin tidak connecting. Jika kita bedah lebih dalam, Soekarno, HOS Tjokroaminoto, dan Kampung Peneleh merupakan satu kesatuan ekosistem sejarah berdiri Indonesia," ujar Kuncarsono.
Ia menjelaskan bahwa Peneleh menyimpan rekam jejak sejarah yang sangat kaya. Kawasan ini tidak hanya menjadi saksi lahir dan bertumbuhnya tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, HOS Tjokroaminoto, Cokro Sudarmo (Syarikat Islam), Dario Kecik, hingga Des Alwi, tetapi juga menjadi tempat pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-1, 2, dan 3 di Hotel Telusini.
"Kami selalu menegaskan bahwa Indonesia dimulai dari sini. Langkah awal itu setidaknya sudah dimulai oleh Bu Risma melalui penataan dan aktivasi lingkungan, meski tentu prosesnya harus terus berlanjut," tambahnya.
Kuncarsono menilai bahwa penataan fisik kawasan—seperti perbaikan trotoar dan ruang publik yang digagas sejak era kepemimpinan Risma telah mengubah cara generasi muda mempelajari sejarah. Melalui konsep walking tour, sejarah tidak lagi dipelajari secara kaku lewat buku pelajaran atau sekadar narasi peperangan.
Baca: Ganjar Bangga dengan Kualitas Bahan Aspal Karya Anak Bangsa
"Harapannya, anak-anak muda tidak bosan belajar sejarah. Sekarang program walking tour setiap minggu makin ramai diikuti anak muda. Mengenalkan tokoh sejarah kini dilakukan dengan menghadirkan ruang dan lingkungannya secara langsung," jelasnya.
Ia mencontohkan, narasi pernikahan Soekarno dan Siti Oetari menjadi jauh lebih hidup ketika pengunjung diajak langsung berdiri di atas jembatan sejarah tempat Soekarno menyatakan perasaannya. Jembatan, gang, jalan kecil, hingga sumur tua menjadi media edukasi yang interaktif.
Pendekatan peninggian dan pelebaran trotoar yang sempat menuai pro-kontra di masa lalu kini terbukti menjadi pilar utama hidupnya pariwisata sejarah berbasis jalan kaki (walking tour) di Surabaya, seperti yang juga terlihat di kawasan Jalan Tunjungan.

















































































