Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI 2024–2029 Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS membagikan kisah perjalanan hidup serta nilai-nilai yang menjadi pegangan hidupnya dalam perbincangan santai di program "Beranda Joni" TV Parlemen. Guru Besar IPB University itu menekankan pentingnya ikhlas, silaturahim, kerja keras, dan doa sebagai kunci menjalani kehidupan.
“Bapak saya nelayan buta huruf. Ibu saya kelas satu SD,” kenang Prof. Rokhmin, dikutip Minggu (21/6/2026).
Pernyataan tersebut menggambarkan latar belakang sederhana yang membesarkan dirinya di lingkungan kampung nelayan pesisir Cirebon pada era 1960-an. Dari keluarga yang serba terbatas, ia tumbuh menjadi akademisi, Guru Besar IPB University, Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004, hingga kini menjabat sebagai Anggota DPR RI.
Dalam obrolan yang berlangsung hangat, Prof. Rokhmin mengisahkan momen ketika dirinya dipanggil Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur untuk bergabung dalam kabinet sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Menurutnya, Gus Dur memiliki pesan khusus yang hingga kini selalu diingat.
“Dan beliau bilang, tetapi saya lebih tertarik lagi karena Mas Romin anak nelayan buta huruf dan dari keluarga bawah kan. Oke. Maka tolong amanah pesan saya jadi Menteri Kelautan tugas utamanya kata beliau nih mensejahterakan nelayan gitu,” ucapnya.
Menurut Prof. Rokhmin, latar belakangnya sebagai anak nelayan menjadi salah satu alasan Gus Dur mempercayainya mengemban amanah tersebut. Ia menilai Gus Dur menginginkan sosok yang memahami langsung kehidupan masyarakat pesisir dan tantangan yang dihadapi nelayan.
Ia juga mengungkapkan jauh sebelum menjadi menteri, tulisan-tulisannya di Harian Kompas telah mendapat perhatian dari Gus Dur.
“Cuman beliau kan... maksud saya rupanya beliau mengikutin tulisan saya jadi saya sejak mahasiswa aktif menulis di Kompas,” ujarnya.
Prof. Rokhmin menjelaskan menembus halaman opini Kompas bukan perkara mudah karena proses seleksinya sangat ketat.
“Bilang Mas Rahmin, kalau seseorang bisa masuk di Kompas eh halaman opini. Itu berarti dia mempunyai analis capability yang jago dan problem solving. Karena kalau Kompas kan bayangin ya setiap hari enam puluh tulisan tuh. Yang di-publish kan hanya tiga atau maksimum empat kan? Jadi very selective tuh. Jadi harus concise bahasanya mengalir,” jelasnya.
Baginya, menulis menjadi salah satu sarana penting untuk menunjukkan kemampuan berpikir dan menyampaikan gagasan kepada publik.
“Kita punya kemampuan apa pun kalau enggak publish, menulis, ya bos-bos di Jakarta enggak tahu,” ujarnya.
Selain berbagi kisah perjalanan karier, Prof. Rokhmin juga menyampaikan filosofi hidup yang selama ini ia pegang teguh. Salah satunya adalah pentingnya menjaga silaturahim sebagai modal sosial yang sangat berharga.
“Faedah dari silaturahim itu, aduh saya mau nangis, banyak sahabat, banyak teman. Indah sekali itu,” ungkapnya.
Menurutnya, dalam kehidupan modern, jaringan pertemanan dan hubungan baik merupakan aset yang sangat penting. Dalam perspektif agama, hal tersebut dikenal sebagai silaturahim yang harus terus dijaga.
Prof. Rokhmin juga memberikan pesan kepada generasi muda, khususnya anak-anak dari keluarga petani, nelayan, maupun buruh agar tidak pernah menyerah menghadapi keadaan.
“Jangan pernah putus asa dari rahmat Allah. Yang penting do the best. Jadilah yang terbaik, mau jadi SD, SMP, wartawan, DPR, nelayan, apa pun. Niatkan untuk yang terbaik,” tegasnya.
Ia mengingatkan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang selama memiliki kemauan untuk belajar, berusaha, dan terus memperbaiki diri.
Dalam kesempatan itu, Prof. Rokhmin juga menekankan pentingnya tetap berbuat baik kepada sesama tanpa mengharapkan balasan.
“Jangan pernah lelah untuk berbuat baik. Jangan pernah lelah untuk menolong orang. Walaupun kita acap kali air susu dibalas air tuba,” kata Rokhmin.
Menurutnya, keikhlasan menjadi kunci agar seseorang tidak mudah kecewa dalam menjalani kehidupan.
“Kalau nolong orang jangan niat dapat balasan. Ikhlas saja karena Allah, karena Tuhan menurut agama kita masing-masing. Itu enggak ada hard feeling. Hidup kita jadi take it easy, enggak ada beban,” imbuhnya.
Lebih jauh, Prof. Rokhmin mengingatkan bahwa manusia pada dasarnya hanya memiliki dua hak dalam kehidupan, yaitu berikhtiar dan berdoa.
“Jangan pernah berharap sama manusia. Tapi berharaplah kepada Tuhan. Kita hidup hanya punya dua hak: hak ikhtiar dan hak doa,” tuturnya.
Selain berbicara mengenai kehidupan dan karier, obrolan tersebut juga menyinggung sisi personal Prof. Rokhmin. Ia mengaku memiliki kecintaan khusus terhadap musik dangdut karena lekat dengan kehidupan kampung nelayan tempat dirinya dibesarkan.
“Yang menghunjam ke hati, dangdut tuh. Ada rasanya.”
Menurutnya, musik dangdut memiliki kedekatan emosional dengan kehidupan masyarakat pesisir yang menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sejak kecil.
Tak hanya dangdut, ia juga menggemari lagu-lagu barat bertempo lambat dari era 1960-an, termasuk lagu First Love yang dipopulerkan Diana Ross.
“Genre musik yang lain sepanjang itu tidak ingar-bingar ya. Kemudian narasinya ada. Narasi edukasi, saya senang,” ungkapnya.
Saat ditanya lagu dangdut yang paling membekas pada masa remaja, Prof. Rokhmin menjawab dengan nada bercanda.
“Wah itu masa dulu kan remaja itu ya. Jadi ya itulah... kegagalan cinta itu,” ucapnya sambil tertawa.
Di akhir perbincangan, Prof. Rokhmin kembali menegaskan pesan yang ingin ia sampaikan kepada generasi muda Indonesia. Menurutnya, kesuksesan tidak ditentukan oleh latar belakang keluarga, melainkan oleh kesungguhan dalam berikhtiar, menjaga silaturahim, dan menjalani setiap proses kehidupan dengan penuh keikhlasan.
“Jadilah yang terbaik pada setiap fase kehidupan yang sedang dijalani. Berikhtiar dengan sungguh-sungguh, perbanyak doa, dan jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah SWT,” pungkasnya.

















































































