Ikuti Kami

Rokhmin Dahuri: Ilmu Pengetahuan, Agama, dan Akhlak Fondasi Utama Bangun Peradaban yang Maju dan Berkeadilan

Tradisi keilmuan Islam pada masa keemasan menunjukkan seseorang dapat menguasai berbagai bidang ilmu sekaligus.

Rokhmin Dahuri: Ilmu Pengetahuan, Agama, dan Akhlak Fondasi Utama Bangun Peradaban yang Maju dan Berkeadilan
Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan sekaligus Guru Besar IPB University, Rokhmin Dahuri.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan sekaligus Guru Besar IPB University, Rokhmin Dahuri, menegaskan ilmu pengetahuan, agama, dan akhlak merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban yang maju dan berkeadilan. 

Pandangan tersebut disampaikannya dalam Podcast Pejuang bertajuk "Bukan Sembarang Politisi PDI Perjuangan, Sosok Ini Ternyata Pendakwah dan Penasihat ICMI" yang dipandu M. Chozin Amirullah, Jumat (5/6/2026).

"Saya ingat Ibnu Al-Khawarizmi itu bukan hanya ahli algoritma Aljabar, tetapi juga ahli kimia. Pencipta pesawat terbang, Ibnu Firnas, selain ahli matematika, dia ahli biologi juga," ungkap Prof. Rokhmin.

Menurut mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu, tradisi keilmuan Islam pada masa keemasan menunjukkan seseorang dapat menguasai berbagai bidang ilmu sekaligus. Ia menilai kemampuan tersebut lahir dari kebiasaan membaca serta kemampuan berpikir analitis yang kuat.

Kuncinya, kata dia, adalah membangun quantitative thinking serta terus memperluas wawasan melalui literasi yang baik.

“Yang penting kita banyak baca. Sama berdoa kepada Allah supaya kita punya kemampuan menganalisis dan mensintesis,” ucapnya.

Sebagai Ketua Umum MAI, Prof. Rokhmin menilai persoalan pembangunan bangsa saat ini tidak mungkin diselesaikan hanya melalui satu disiplin ilmu. Kompleksitas tantangan yang dihadapi membutuhkan pendekatan multidisiplin agar solusi yang dihasilkan lebih komprehensif.

“Nggak mungkin suatu masalah pembangunan tuh hanya dipecahkan oleh satu disiplin ilmu. Nah jadi betul. Yang penting kita banyak baca,” uajrnya.

Ia mengaku tidak mempermasalahkan jika ada pihak yang menyebut dirinya sebagai seorang generalis. Baginya, pengalaman mempelajari sejarah kejayaan umat Islam justru memperkuat keyakinannya bahwa penguasaan lintas bidang ilmu merupakan sesuatu yang wajar.

“Setelah saya banyak baca mengenai kegemilangan umat Islam, saya nggak begitu sedih tuh kalau dituduh, ‘Wah ini generalis nih’,” ungkapnya. 

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Rokhmin juga menjelaskan pandangannya mengenai hubungan antara nasionalisme dan religiusitas dalam kehidupan berbangsa. Menurutnya, PDI Perjuangan memiliki semangat nasionalis-religius yang tidak dapat dipisahkan dari pemikiran Bung Karno.

“Bung Karno kan, dia tahajud, sangat Islami. Beliau menantunya tokoh Muhammadiyah di Demak. Gurunya A. Hassan, HOS Tjokroaminoto, Kyai Haji Ahmad Dahlan, ulama-ulama besar. Nah jadi, cuman dia nasionalis,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa sebagai seorang Muslim, pedoman hidup yang bersumber dari Tuhan harus menjadi dasar dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

“Sila pertama Pancasila kan Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi tafsiran saya, monggo. Setiap umat beragama ber-fastabiqul khairat, berlomba-lomba untuk sistem perundangan di Indonesia itu diwarnai oleh keyakinan agamanya masing-masing,” tuturnya. 

Prof. Rokhmin kemudian memaparkan tiga alasan mengapa manusia harus menjalani kehidupan berdasarkan pedoman yang diturunkan oleh Tuhan. Pertama, menurutnya, secara rasional setiap pencipta pasti menyediakan pedoman bagi ciptaannya.

“Setiap pencipta menciptakan ciptaannya, itu pasti membuat manual, buku pedoman. Kalau kita menjalani hidup tidak berdasarkan pedoman yang dibuat oleh Penciptanya, pasti gagal,” imbuhnya.

Kedua, ia mengingatkan mengenai konsep istidraj, yakni kondisi ketika seseorang tampak memperoleh kesuksesan duniawi meski menjauh dari nilai-nilai ketuhanan.

“Ijazah palsu pun jadi-jadi orang top. Tapi itu istidraj. Mohon maaf ya, lihat istana keluarganya hancur. Istrinya kena narkoba, anaknya segala macam. Tidak ada kebahagiaan,” ucapnya.

Ketiga, ia merujuk pada dalil-dalil Al-Qur'an yang menurutnya menegaskan pentingnya menjadikan petunjuk Tuhan sebagai pedoman hidup.

“Bahwa barang siapa manusia yang tidak berpedoman hidup pada pedoman yang diturunkan oleh Tuhannya, maka amalannya ditolak. Dan di akhirat, khasirin. Merugi kalau merugi kan masuk neraka.”

Ia juga mengutip ayat lain yang menekankan pentingnya menjadikan ketentuan Tuhan sebagai dasar dalam mengambil keputusan di berbagai bidang kehidupan.

“Wa mal lam yahkum bima anzalallahu fa ula’ika humul-kafirun. Artinya, manusia yang menetapkan perkara ekonomi, waris, pendidikan, tidak berdasarkan pedoman Tuhan, kafir dia.”

Lebih lanjut, Prof. Rokhmin mengkritik praktik sekularisme yang memisahkan ajaran agama dari berbagai aspek kehidupan, termasuk ekonomi, pendidikan, dan teknologi.

“Nah, ini yang banyak Muslim sekuler dan nggak PD. Karena kalau mengungkapkan seperti saya, pasti nggak jadi menteri di era Jokowi kemarin. Dibilang radikal. Padahal tidak.”

Menurutnya, ajaran Islam harus diterapkan secara menyeluruh agar mampu melahirkan peradaban yang maju dan berkeadilan.

“Nggak bisa kalau umrah, kalau ibadah mahdhah, ya salat pakai Islam, tapi ekonomi, teknologi, pendidikan pakai kapitalis. Itu hancurnya.”

Dalam pembahasannya mengenai sistem ekonomi global, Prof. Rokhmin menyoroti tingginya ketimpangan kekayaan yang menurutnya merupakan dampak dari sistem kapitalisme.

“7 tahun berikutnya, yang 338 tuh menurun jadi 8. Jadi 8 orang itu kekayaannya sama 50%. Jadi artinya makin senjang.”

Ia juga mengutip data yang menunjukkan tingginya konsentrasi kekayaan di Amerika Serikat.

“1% orang Amerika terkaya sama dengan 99% kekayaan Amerika.”

Menurut Prof. Rokhmin, kondisi tersebut terjadi karena kapitalisme berorientasi pada maksimalisasi keuntungan tanpa memperhatikan aspek pemerataan dan keadilan sosial.

“Karena memang ajaran dasar dari kapitalisme ya itu profit maximization. Nggak peduli lingkungan hidup, nggak peduli zakat, pemerataan nggak ada. Sehingga yang namanya teori trickle down effect nggak ada.”

Ia bahkan mengkritik sejumlah tokoh dan kebijakan yang menurutnya mencerminkan dampak negatif sistem kapitalisme terhadap kehidupan masyarakat global.

“Lihat si Elon Musk makin kaya, NASA planning mau ke Mars. Mohon maaf, Pak Donald Trump, ya terbukti di pengadilan Anda ngemplang pajak 370.000.000 US dollar. Anda itu tidak tahan dengan wanita cantik. Terbukti semua. Anda pembohong, terpilih. Mana demokrasi itu bener?”

“Kapitalisme itu policy-nya seolah-olah hanya untuk Amerika aja. Soal kenaikan tarif, menghajar Palestina segala macam. Dunia kan saling tergantung.”

Sebagai solusi, Prof. Rokhmin menilai sistem ekonomi Islam yang menekankan zakat, infak, dan kepedulian sosial terbukti mampu menciptakan pemerataan kesejahteraan ketika diterapkan secara konsisten.

“Kenapa waktu Islam berjaya itu menguasai 23 wilayah dan tidak ada satu mustahik zakat pun? Karena memang ada hadits: kalau ada seorang Muslim yang bisa tidur nyenyak, lalu tetangganya kiri kanan ada yang nganggur, ada yang kelaparan, kalau bukan umatku. Dalam keyakinan kami, di akhirat masuk neraka.”

Menutup perbincangan, Prof. Rokhmin mencontohkan kesederhanaan dan kepedulian sosial yang ditunjukkan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan bagi umat Islam dalam membangun kehidupan yang lebih adil dan sejahtera.

“Kalau zaman sekarang 20% aja nuruti akhlak Nabi Muhammad, akhlak Sayyidina Abu Bakar Siddiq, wah Indonesia itu sudah baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” pungkasnya.

Quote