Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS., membagikan refleksi mendalam usai menonton film dokumenter biografi Lost in Translation, Found in Power yang mengisahkan perjalanan hidup Erica Laurie. Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University itu menilai film tersebut mengandung pelajaran penting tentang proses panjang dalam membangun kredibilitas dan kompetensi.
"Baru saja selesai menonton film Lost in Translation, Found in Power, yang mengisahkan perjalanan hidup Erica Laurie. Dari film ini saya kembali diingatkan pada satu hal penting, kredibilitas dan kompetensi tidak pernah lahir dalam satu malam," kata Prof. Rokhmin Dahuri, dikutip pada Jumat (21/8/2026).
Menurut Prof. Rokhmin, film tersebut menunjukkan bahwa di balik setiap pencapaian besar yang terlihat oleh publik, terdapat proses panjang yang kerap tidak terlihat. Ia menilai keberhasilan tidak pernah hadir secara instan, melainkan melalui perjalanan yang penuh kerja keras dan konsistensi.
"Saya membayangkan perjalanan itu seperti sebatang pohon yang tumbuh ke dua arah, ke atas dan ke bawah. Yang terlihat oleh mata adalah bagian yang tumbuh di permukaan, batang yang kokoh, daun yang rimbun, dan buah yang lebat. Tetapi jauh di bawah tanah, ada akar yang terus bekerja dalam kesunyian," ujarnya.
Melalui analogi pohon tersebut, Prof. Rokhmin menjelaskan bahwa fondasi utama keberhasilan justru dibangun dalam proses yang sering kali tidak mendapatkan sorotan. Menurutnya, akar yang bekerja dalam diam menjadi penopang utama agar pohon tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan.
"Begitu pula dengan manusia. Yang terlihat publik adalah jabatan, pencapaian, reputasi, jaringan, dan keberhasilan. Tetapi di balik semua itu ada proses panjang yang tidak selalu menarik untuk diceritakan," ucap Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu.
Ia menuturkan bahwa proses panjang tersebut mencakup kebiasaan belajar tanpa henti, bekerja tanpa menunggu pujian, bangkit dari kegagalan, menerima kritik dengan lapang dada, serta terus memperbaiki diri ketika orang lain mungkin sudah merasa cukup.
Dalam pandangannya, terdapat lima pilar yang menjadi fondasi dari apa yang ia sebut sebagai pohon kredibilitas. Pilar pertama adalah kompetensi yang dibangun melalui kerja keras dan kemauan untuk terus belajar dengan prinsip learn, re-learn, and un-learn. Kedua, integritas yang dibangun melalui konsistensi, terutama ketika tidak ada sorotan. Ketiga, loyalitas yang hanya dapat dibuktikan oleh waktu. Keempat, jejaring yang harus dirawat jauh sebelum dibutuhkan. Dan kelima, persistensi yang lahir dari kemampuan untuk terus berjalan meski hasil belum terlihat.
"Dalam Manajemen Stratejik, proses panjang semacam ini dikenal melalui konsep Path Dependence, bahwa posisi dan pilihan kita hari ini tidak pernah sepenuhnya berdiri sendiri. Ia merupakan akumulasi dari keputusan, pengalaman, pembelajaran, relasi, reputasi, dan konsistensi yang dibangun pada masa lalu," jelas Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu.
Prof. Rokhmin menilai konsep Path Dependence menjelaskan bahwa keberhasilan seseorang merupakan hasil dari rangkaian keputusan dan pengalaman yang dibangun secara konsisten dalam jangka panjang. Karena itu, posisi yang dicapai seseorang saat ini tidak dapat dipisahkan dari proses yang telah dilalui sebelumnya.
Menutup refleksinya, Prof. Rokhmin menegaskan bahwa hasil yang terlihat di permukaan merupakan cerminan dari kerja keras yang dilakukan secara konsisten dalam diam.
"Sebab pada akhirnya, apa yang tumbuh di permukaan selalu merupakan cermin dari apa yang selama ini kita kerjakan dalam diam di bawah permukaan. Jika seluruh pekerjaan rumah itu dikerjakan dengan sabar, konsisten, dan tanpa jalan pintas, suatu saat buahnya akan terlihat. Bukan karena kita sibuk menunjukkan bahwa kita layak, tetapi karena perjalanan panjang itu sendiri telah menjadi bukti," tegasnya.
"Kredibilitas bukan sesuatu yang kita klaim. Ia adalah sesuatu yang waktu akhirnya tidak bisa lagi sembunyikan," sambung Ketua Umum Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GNTI) ini.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat di tengah era yang serba instan, ketika banyak orang ingin segera terlihat berhasil, namun kerap melupakan pentingnya membangun fondasi yang kuat melalui proses panjang, konsistensi, dan integritas.

















































































