Surabaya, Gesuri.id - Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memimpin lantunan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dilanjutkan dengan penyerahan bendera Merah Putih dari perwakilan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) kepada Eri, yang memerankan sosok Kolonel Sungkono dalam kegiatan pertunjukan teatrikal kolosal bertajuk “Suroboyo Wani” yang digelar di kawasan Tugu Pahlawan, Senin (2/11/2026).
Bendera kemudian diserahkan kepada Paskibraka Surabaya sebagai tanda pemberangkatan Parade Surabaya Juang 2026.
Parade tahun ini diikuti sekitar 2.150 peserta dari berbagai unsur masyarakat. Mereka terdiri atas anggota TNI, Polri, seniman, komunitas pecinta sejarah, serta kelompok lainnya. Keterlibatan ribuan peserta tersebut menjadikan parade sebagai ruang pertemuan berbagai elemen masyarakat dalam mengenang perjuangan arek-arek Surabaya.
Di hadapan para penonton, Eri mengajak masyarakat tidak melupakan peristiwa heroik 10 November 1945. Ia mengingatkan bagaimana arek-arek Suroboyo menghadapi pasukan Sekutu dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
“Surabaya warganya luar biasa. Harapan kita, bagaimana semua bisa jadi pahlawan. Dikarenakan kita arek Suroboyo, dilahirkan punya jiwa pahlawan. Jadi masyarakat, ayo kita bersama menjadi pahlawan untuk mengentaskan kemiskinan, mengentaskan anak putus sekolah, dan menjaga lingkungan,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya kebersamaan antara Pemerintah Kota Surabaya, Forkopimda, dan seluruh pemangku kepentingan. Ego sektoral perlu dikesampingkan agar berbagai persoalan masyarakat dapat diselesaikan secara bersama-sama.
Bagi Eri, nilai-nilai Pancasila juga tidak cukup hanya diucapkan dalam seremoni. Nilai tersebut harus hadir dalam sikap saling menghormati, kepedulian sosial, dan upaya menciptakan kesejahteraan yang merata.
“Maka saya berharap kemerdekaan itu tidak hanya menjadi slogan, tapi kita bertempur bersama hari ini, menjadi pahlawan bersama untuk Surabaya lebih sejahtera,” pungkasnya.
Dari permainan bola Soegiharto yang terhenti oleh suara sirene hingga barisan pejuang dengan bambu runcing, teatrikal “Suroboyo Wani” membawa pesan bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu. Semangat keberanian, pengorbanan, dan gotong royong yang diwariskan para pejuang tetap dibutuhkan untuk menjawab tantangan zaman.
Sebuah permainan bola berlangsung riang di kawasan Tugu Pahlawan, Surabaya. Seorang pemuda bernama Soegiharto bersama kawan-kawannya larut dalam suasana.
Namun, keriangan itu mendadak terhenti ketika suara sirene meraung. Kabar ultimatum Sekutu datang, mengubah suasana menjadi tegang.
Musik pengiring yang semula mengalun berubah menjadi genderang perjuangan. Para pemain berganti atribut, membawa bambu runcing, lalu membentuk barisan Laskar Rakyat Kapasan. Adegan demi adegan membawa penonton kembali pada suasana Surabaya menjelang pertempuran 10 November 1945.
Itulah pembuka pertunjukan teatrikal kolosal bertajuk “Suroboyo Wani” yang digelar di kawasan Tugu Pahlawan. Pertunjukan ini menjadi bagian dari rangkaian Parade Surabaya Juang 2026 untuk menyambut peringatan Hari Pahlawan.
Sekitar 170.000 penonton menyaksikan pertunjukan yang memadukan seni peran, musik, dan napak tilas perjuangan arek-arek Suroboyo. Sejarah tidak hanya diceritakan melalui narasi, tetapi dihadirkan kembali lewat gerak para pemain yang memerankan tokoh dan laskar perjuangan.
Cerita berlanjut ketika seruan pertempuran digelorakan Kolonel Sungkono kepada arek-arek Suroboyo. Soegiharto yang semula bermain bola kemudian menukar sepatunya dengan senjata. Ia bergabung dengan barisan laskar dan tiba di markas Badan Keamanan Rakyat (BKR), tempat Kolonel Sungkono menyambut para pejuang.
Salah satu adegan yang menyentuh hadir ketika Kolonel Sungkono menghampiri sosok Ibu Pertiwi. Di sekelilingnya berdiri Laskar Putri dan ibu-ibu Dapur Umum. Sang komandan kemudian bersimpuh, memohon doa restu demi keselamatan para pejuang yang akan menghadapi pertempuran.
Adegan itu mengingatkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan bukan hanya dilakukan mereka yang mengangkat senjata. Ada pula perempuan dan masyarakat yang menopang perjuangan melalui dapur umum serta berbagai bentuk dukungan lainnya.

















































































