Ikuti Kami

HUT ke-51 PDI Perjuangan, Ethos Marhaenisme GIG Society 

Marhaenisme mengajarkan mereka tidak boleh kalah dengan ketakutan, ketidakpastian, dan penindasan.

HUT ke-51 PDI Perjuangan, Ethos Marhaenisme GIG Society 
Anak Generasi Z, Adam Gabriel Mounir. 

Jakarta, Gesuri.id - Generasi muda saat ini dihadapkan pada tantangan unik yang mencakup kompleksitas dinamika pekerjaan modern. Fenomena seperti gig economy dan perkembangan teknologi telah mengubah paradigma seputar makna dan tujuan pekerjaan. Menjadi website developer atau data engineer bukan hanya sekadar pekerjaan, melainkan simbol prestasi yang diakui dan dihormati secara sosial. Namun, di balik penghargaan itu, terbentanglah ketidakpastian yang meresahkan.

Pertumbuhan pesat teknologi dan informasi telah memberikan opsi baru, seperti menjadi pekerja gig yang menawarkan kemerdekaan yang begitu diimpikan oleh Gen Z dan Millennial akhir. Namun, kenyataannya, ketidakpastian finansial dan stabilitas pekerjaan juga menyertainya. Dalam menjawab pertanyaan tentang arti sebenarnya dari pekerjaan, generasi muda harus merangkul semangat untuk menghadapi dinamika ketidakpastian yang menjadi keniscayaan zaman.

Bayangkan, seorang Designer Website muda berusia dua puluhan tahun yang bangga dengan pekerjaannya. Ia memulai setiap hari dengan keyakinan yang tak tergoyahkan dan dedikasi yang kuat. Ia menjalankan tugas-tugas harian dengan semangat, terhubung dengan koleganya dalam pembicaraan cerdas tentang fluktuasi pasar kripto, dan bahkan merencanakan untuk mengembangkan hobi fotografi pada akhir hari. Namun, semua mimpi dan rencananya hancur pada pukul lima sore ketika diumumkan bahwa ia termasuk dalam daftar lay-off yang diberlakukan oleh perusahaan tanpa peringatan sebelumnya dan bahkan tanpa pesangon yang diyakini sebagai haknya. Peristiwa ini meninggalkannya dalam ketakutan yang tersembunyi namun meluap.

Baca: Ternyata Ini Zodiak Ganjar Pranowo, Berikut Karakternya

Pengalaman pahit menghadapi ketidak pastian ini telah mengubahnya dari individu yang penuh percaya diri menjadi seseorang yang merasa kehilangan arti. Kontribusi dan haknya yang diabaikan oleh kesewenang wenangan perusahaan memunculkan perasaan tertindas. Perasaan itu menjadi membekaskan ketakutan akan kegagalan, memicu trauma di masa kini maupun di masa mendatang.

Di tengah ketidak pastian yang semakin kronis, kisah ini secara kontekstual merepresentasikan alasan kenapa semangat Marhaenisme perlu terus dikobarkan. Karena penjajahan selalu menemukan bentuk dan wajah baru. Semangat penegakan keadilan, kesetaraan, dan penghargaan terhadap diri sendiri, perlu mengakar lebih kuat untuk membendung persaingan dan kehidupan semakin permisif pada diskriminasi. 

Baca: Ganjar Pranowo Berpeluang Dapatkan Trah Gelar Wahyu Mataram

Pemuda ini pada akhirnya menemukan titik balik setelah berkenalan dengan nilai Marhaenisme. Tumbuh Kembali dalam dirinya kekuatan untuk mengukur kandungan asset dirinya sebagai modal untuk maju bersaing dan berkembang. Hingga, meski pekerjaan gig menawarkan kebebasan dan fleksibilitas, dia masih memandang pentingnya terlibat aktif dalam perubahan sosial demi memperjuangkan keadilan dan kesetaraan.

Meskipun pengalaman pahitnya tidak sepenuhnya sejalan dengan semangat Marhaenisme dalam konteks politik, namun kisah perjuangan-nya menghadapi ketidak adilan dan menemukan nilai-nilai pribadi serta kemandirian, adalah cerminan dari ethos seorang Marhaen.

Semoga nilai Marhaenisme yang menjadi semangat PDI Perjuangan terus deras menyerbuki perjuangan kaum muda Indonesia. Menanamkan aspirasi untuk mengembangkan potensi dan daya saing diri untuk memenangkan setiap tantangan, memperkuat kemandirian, dan memperjuangkan keadilan. Marhaenisme mengajarkan mereka tidak boleh kalah dengan ketakutan, ketidakpastian, dan penindasan. Generasi muda harus terus maju bersama semangat Marhaenisme dalam aksi nyata mereka. Lanjutkan semangat untuk bergerak dan lawan ketidakpastian. Bersama PDI Perjuangan, kita bangkit.

Dirgahayu PDI Perjuangan!


Jakarta, 9 Januari 2024

Oleh: Anak Generasi Z, Adam Gabriel Mounir. 

Quote