Ikuti Kami

Tiga Stanza, Satu Keberpihakan

Oleh: Eri Irawan, Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya.

Tiga Stanza, Satu Keberpihakan
Penulis, Eri Irawan, di kompleks makam WR Supratman, pencipta lagu “Indonesia Raya”.

Jakarta, Gesuri.id - Tidak banyak orang tahu bahwa lagu kebangsaan ”Indonesia Raya” dibuat pertama kali sebagai lagu dengan tiga stanza, tiga pengelompokan baris-baris lirik—stanza bisa dikatakan semacam ”paragraf” dalam prosa. ”Indonesia Raya” tiga stanza adalah versi yang dibawakan sang pencipta, W.R Supratman, di Kongres Pemuda pada 28 Oktober 1928, Surat kabar ”Sin Po” membantu lagu ini kian popular dengan mendistribusikan 5.000 pamflet lirik ”Indonesia Raya”.

“Indonesia Raya” tiga stanza pertama kali direkam berkat jasa saudagar keturunan Tionghoa, Yo Kim Tjan. Namun, karena durasi dan liriknya panjang, yang kini banyak dikenal dan dinyanyikan adalah bait stanza pertama.

Tahun ini, “Indonesia Raya” tiga stanza turut menjadi ilham bagi PDI Perjuangan yang sedang merayakan ulang tahun ke-53 pada 10 Januari 2026. Tak banyak partai politik di Indonesia yang bisa melewati usia setengah abad. PDI Perjuangan adalah satu dari yang sedikit itu. 

Baja memang keras, tapi dunia politik di Indonesia lebih keras lagi. Dan PDI Perjuangan berhasil mengarungi gelombang sejarah yang kasar lagi brutal: penyerangan kantor, stigma, kekerasan negara, kooptasi kekuasaan, hingga godaan pragmatism politik.

Baca: Ganjar Pranowo Tegaskan PDI Perjuangan Tak Bisa Didikte

Dan sudah 53 tahun PDI Perjuangan masih tetap bisa dengan setia di sisi rakyat kecil, kaum marhaen, wong cilik, di tengah dunia politik  Indonesia yang makin mahal, transaksional, dan mempertunjukkan degradasi moral.

Tahun ini, paduan tema yang sangat menarik dipilih untuk menandai ulang tahun PDI Perjuangan: ”Satyam Eva Jayate” (Kebenaran Pasti akan Menang), dengan subtema “Di Sanalah Aku Berdiri, untuk Selama-lamanya”. ”Di sanalah aku berdiri, untuk selama-lamanya” diambil dari lagu sakral yang menjadi penanda sejarah kelahiran bangsa: ”Indonesia Raya” versi tiga stanza.

Tiga Stanza dan Sebuah Sikap

Lirik “di sanalah aku berdiri, untuk selama-lamanya” diambil dari stanza kedua “Indonesia Raya”. Berbeda dengan stanza pertama yang relatif lebih berupa seruan untuk bersatu dan membangun, stanza kedua adalah ajakan reflektif. 

”Indonesia tanah yang mulia, tanah kita yang kaya. Di sanalah aku berdiri, untuk selama-lamanya.”

Kalimat itu menarik karena ia tak lahir dari ruang hampa. Ia justru menjadi sangat bermakna karena menunjukkan cinta yang keras kepala, keberpihakan, kesetiaan, dan kerelaan menambatkan diri pada sesuatu, yang ketika lagu itu ditulis, masih terasa abstrak dan jauh: Indonesia.

W.R. Supratman menggubah lagu itu sebagai tindakan politik, sebagai keberanian, sebagai perlawanan yang lembut tapi tegas. Dia memang tak sempat menyaksikan Indonesia merdeka karena mangkat pada 17 Agustus 1938 di usia yang terlampau muda, 35 tahun. Tetapi musiknya abadi. Seperti bangsa yang ia bayangkan: yang mungkin ada kelemahan, tapi keras kepala, punya resiliensi, dan kokoh secara batin.

”Di sanalah aku berdiri, untuk selama-lamanya.”

Kalimat ini terasa relevan justru ketika Indonesia sedang menghadapi ujian besar dan tantangan kompleks hari-hari ini.  “Indonesia Raya” selalu mengingatkan bahwa bangsa ini dibangun dengan kesadaran. Bahwa kemerdekaan bukan hadiah, tetapi hasil dari pilihan-pilihan sulit. Bahwa berdiri di garis kebenaran sering kali berarti berdiri lebih lama dari yang kita bayangkan.

Dalam situasi seperti ini, tema Satyam Eva Jayate (kebenaran pasti menang) sama seperti larik-larik yang ditulis oleh WR Supratman. Ia menegaskan pilihan dan keberpihakan. Juga kesetiaan pada cita-cita mulia, meski harus bersabar dan penuh liku untuk mencapainya.

Sejarah Indonesia mengajarkan itu. Penjajahan tampak abadi, tapi toh akhirnya runtuh. Semasa Orde Baru, kekuasaan antidemokrasi terasa begitu kuat dan seperti susah untuk digoyang. Namun pada suatu hari toh ia doyong lalu ambruk. 

PDI Perjuangan lahir dari sejarah itu. Ia bukan partai yang muncul dari deal-deal politik di balik meja. Ia lahir dari luka. Dari pembungkaman. Dari kekerasan negara. Dari upaya sistematis untuk menghapus ingatan. Dari upaya masif de-Soekarnoisasi. Maka ketika partai ini memilih subtema ulang tahun dengan larik ”di sanalah aku berdiri untuk selama-lamanya”, itu adalah sikap sekaligus pengingat atas asal-usul.

Pertanyaan paling krusial: berdiri di mana?

Di pihak yang percaya bahwa Indonesia bukan milik segelintir orang. Di pihak yang percaya bahwa negara tidak boleh tunduk sepenuhnya pada pasar. Di pihak yang percaya bahwa politik bukan soal urusan menang pemilu, melainkan jalan ikhtiar untuk keadilan sosial. Di pihak yang percaya bahwa demokrasi dan kedaulatan rakyat tak boleh lagi dipukul mundur, seperti lewat wacana Pilkada oleh DPRD.

Sebuah Ajakan Becermin

”Indonesia, tanah pusaka, pusaka kita semuanya, marilah kita mendoa, Indonesia bahagia. Suburlah tanahnya, Suburlah jiwanya, Bangsanya, Rakyatnya, semuanya, Sadarlah hatinya, Sadarlah budinya, untuk Indonesia Raya.” 

Itu adalah kelanjutan dari lirik stanza kedua ”Indonesia Raya” setelah kalimat ”di sanalah aku berdiri, untuk selama-lamanya”. Selain meminta kita untuk berdoa, larik-larik itu juga mengajak kita becermin: sudahkah hati dan budi kita sadar untuk Indonesia Raya?

Baca: Ganjar Pranowo Tegaskan PDI Perjuangan Tak Bisa Didikte

Bangsa kita hari ini memang menghadapi ujuan yang kompleks. Tetapi, ujian terbesar bangsa bukanlah krisis ekonomi atau konflik politik. Ujian terbesar adalah kehilangan orientasi moral kebangsaan, kehilangan kesetiaan pada ideologi bangsa. Kehilangan hati dan budi adalah sesuatu yang mungkin tidak pernah dibayangkan oleh WR Supratman saat menulis lagu kebangsaaan.

Sang Maestro itu memang tidak pernah melihat Indonesia merdeka. Tetapi ia percaya pada masa depan yang belum ia saksikan. Dia menulis lagu bukan untuk tepuk tangan dan dansa-dansi, melainkan untuk hari-hari panjang yang belum tiba. Keyakinan semacam itu hanya mungkin lahir dari keberanian moral serta keteguhan atas sikap dan posisi yang dia pilih: ”di sanalah aku berdiri, untuk selama-lamanya”.

”Di sanalah aku berdiri, untuk selama-lamanya” adalah sebuah sikap untuk berani teguh meski terluka, berani membersamai rakyat meski coba ditaklukkan lewat godaan pragmatism politik. Ya, ini ”maraton ideologis”, bukan sprint. Menjalani telatah ini dibutuhkan loyalitas serta keberanian untuk menyuarakan kebenaran walau risikonya adalah tidak populer, dirundung, atau dibungkam.

Membaca ulang lirik “Indonesia Raya” akan membuat kita paham kenapa larik “di sanalah aku berdiri, untuk selama-lamanya” dipilih sebagai tema ulang tahun ke 53 PDI Perjuangan. 

Sebab dalam titimangsa lebih dari lima dekade ini, lirik itu berhasil dengan tepat menggambarkan keberhasilan PDI Perjuangan dalam menunjukkan keberanian moral, keteguhan pada ideologi, keberanian menjaga konstitusi, serta loyalitas atas sikap dan posisi yang dipilih sejak awal partai ini berdiri. Dan semoga selamanya selalu seperti itu.

Dirgahayu, PDI Perjuangan! Satyam Eva Jayate!

Quote