Ikuti Kami

Adian Napitupulu: Represi Pasca-Kudatuli Justru Menyebarkan Perlawanan ke Berbagai Kampus

Kami tidak punya uang untuk tinggal di hotel. Akhirnya tidur dari kampus ke kampus, dari satu kota ke kota lain.

Adian Napitupulu: Represi Pasca-Kudatuli Justru Menyebarkan Perlawanan ke Berbagai Kampus
PAC PDI Perjuangan Ciracas gelar Diskusi 30 Tahun Peristiwa Kudatuli - Foto: Nurdin/Gesuri.id

Jakarta, Gesuri.id – Wasekjen DPP PDI Perjuangan Bidang Komunikasi Adian Napitupulu mengungkapkan bahwa operasi penangkapan aktivis setelah Peristiwa Kudatuli justru membuat gerakan perlawanan terhadap Orde Baru semakin meluas ke berbagai kampus.

Adian mengatakan, setelah 27 Juli 1996 dirinya bersama banyak aktivis tidak lagi berani pulang ke rumah maupun kembali ke kampus asal karena khawatir ditangkap aparat.

"Waktu itu saya sudah semester enam dan sedang menyusun skripsi. Pilihannya hanya dua, kembali kuliah lalu ditangkap, atau meninggalkan semuanya agar bisa terus bergerak," katanya dalam Diskusi Tapak Tilas 30 Tahun Tragedi Kudatuli yang digelar PAC PDI Perjuangan Ciracas di Jakarta Timur, Sabtu (25/7).

Ia memilih hidup berpindah-pindah dari satu kampus ke kampus lainnya bersama rekan-rekan aktivis. Mereka menumpang menginap di kampus maupun rumah jaringan mahasiswa selama satu atau dua malam sebelum berpindah ke lokasi lain.

"Kami tidak punya uang untuk tinggal di hotel. Akhirnya tidur dari kampus ke kampus, dari satu kota ke kota lain. Ternyata tanpa disadari perlawanan justru menyebar," ujar Adian.

Menurutnya, aparat mengira pengejaran terhadap aktivis akan menghentikan gerakan. Namun yang terjadi justru sebaliknya, jaringan mahasiswa di berbagai daerah semakin terhubung karena para aktivis saling bertemu dan bertukar pengalaman.

Adian juga menceritakan dirinya bersama sejumlah rekannya mendirikan Lembaga Bantuan Hukum Nusantara (LBHN) Jakarta sebagai tempat berlindung sekaligus pusat koordinasi aktivis yang sedang diburu aparat.

"Kantor itu menjadi tempat transit teman-teman yang datang dari berbagai daerah. Ada yang menginap semalam lalu melanjutkan perjalanan ke kota lain," katanya.

Namun keberadaan kantor tersebut beberapa kali digerebek aparat. Setelah tiga kali penggerebekan, Adian memilih membawa stempel dan kop surat organisasi untuk memastikan aktivitas pendampingan hukum tetap berjalan meski harus berpindah-pindah tempat.

"Yang mereka pikir gerakan sudah selesai ternyata tidak. Justru karena kami berpindah-pindah kampus, perlawanan semakin menyebar. Dari situ kemudian lahir jaringan-jaringan gerakan mahasiswa yang lebih luas," tutur Adian.

Ia menilai pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa tekanan politik tidak selalu mampu mematahkan gerakan demokrasi. Dalam banyak kasus, represi justru memperluas solidaritas dan memperkuat jaringan perjuangan.

#30tahunkudatuli
#Diponegoro58
#PDIPerjuangan
#MegawatiSoekarnoPutri

Quote