Surabaya, Gesuri.id - Balai Kreasi Media Pintar Perjuangan (MPP) PDI Perjuangan Surabaya terus bergerak memajukan UMKM lokal. Tak hanya bergerak di ekonomi, project yang diresmikan oleh DPP PDI Perjuangan pada 10 November 2025 tersebut juga mewujudkan ekonomi inklusif.
Terhitung, sudah puluhan UMKM difasilitasi. Mereka dibebaskan memasarkan berbagai produk di aplikasi MPP milik PDI Perjuangan, mulai dari makanan, minuman, snack, hingga tas, kriya dan baju.
Salah kelompok binaannya adalah Kedaidibilitas. Kelompok ini merangkul UMKM disabilitas untuk ikut mempromosikan produk-produknya, memberdayakan sekaligus mendorong kemandirian ekonomi.
Salah satu pengurus Balai Kreasi MPP PDI Perjuangan Surabaya, Khusnul Khotimah, mengatakan bahwa hingga kini sudah ada sekira 45 UMKM usulan PAC yang menjadi binaan mereka.
“Ada beberpa produk buatan disabilitas yang kita jual, seperti pembuatan wayang dan juga kripik,” ujarnya, Senin (22/12).
Wakabid Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga PDI Perjuangan Surabaya itu menyebut, dari jumlah yang ada akan terus dikembangkan secara luas. Pihaknya juga akan melakukan peningkatan kualitas UMKM dengan pelatihan.
“Targetnya penambahan UMKM yang akan kita libatkan secara luas, melakukan peningkatan kapasitas bagi pelaku UMKM dengan melakukan pelatihan,” jelasnya.
Hal serupa disampaikan Bendahara DPC PDI Perjuangan Surabaya, Agatha Retnosari. Menurutnya, langkah ini menjadi salah satu perwujudan semboyan mereka, yakni “Lokal Lebih Total”.
Seluruh keuntungan penjualan, tambah Agatha, langsung masuk ke produsen. Pun dengan karya teman-teman disabilitas.
Agatha menjelaskan, di Balai Kreasi MPP PDI Perjuangan, UMKM tak hanya difasilitasi namun juga dibimbing untuk meningkatkan daya saing dan memperluas akses pembiayaan. Mereka akan dibina sejak awal, pengurusan izin, merk, hingga pemasaran.
“Ada Kedaibilitas, sasarannya bukan hanya teman-teman saja, tapi kita berdayakan orang tuanya juga. Kami berdayakan mereka. Kita prioritaskan UMKM Surabaya, gak ada batasan produk juga untuk teman-teman difabel,” ujarnya.
Tentu, lanjut Agatha, gerakan mereka tak lepas dari berbagai tantangan. Namun pihaknya tak gentar. Dengan prinsip trisakti Bung Karno dengan kolaborasi tiga pilar, pihaknya akan terus berjuang bersama rakyat, termasuk memajukan ekonomi kerakyatan.
“Tantangannya di mindset. Biasanya mindset untuk disiplin dan mendorong mereka untuk bersemangat. Harapannya dengan komunikasi yang intens tentunya tidak sulit untuk dikembangkan,” jelasnya.
Selaras dengan hal tersebut, pembina Kedaibilitas, Andi Fuad Rachmadi, turut membagikan pengalamannya. Ia mengaku bersyulur bisa berkolaborasi dengan Balai Kreasi MPP PDI Perjuangan.
Sejak bergabung tiga-empat bulan yang lalu, penjualan produk-produk disabilitas mereka meningkat sekira 40 persen.
“Kami terbantu banget karena memang kendala kami rata rata bagian pemasaran. Peningkatan sekira 40 persen dari sebelum bergabung,” ungkapnya.

















































































