Jakarta, Gesuri.id - PDI Perjuangan Jawa Tengah memperkuat konsolidasi internal partai dengan melakukan roadshow ke berbagai daerah.
Hal ini dilakukan untuk memastikan agar mesin partai tetap solid dan janji-janji kampanye yang telah disampaikan dapat terwujud dengan nyata.
Ketua DPD PDI Perjuangan Jateng, Dolfie Othniel Frederic Palit, menegaskan bahwa partainya memilih untuk fokus pada agenda internal dan penyelesaian janji kampanye ketimbang terlibat dalam urusan partai lain, terutama terkait pernyataan Ketua PSI, Kaesang Pangarep, yang menyebut akan mengubah Jateng dari ‘kendang banteng’ menjadi ‘kendang gajah’.
Baca: Ganjar Pranowo Ungkap Masyarakat Takut dengan Pajak
“Kita fokus pada agenda partai kita sendiri. Mau menjadikan kandang apa, itu urusan partai lain,” ujar Dolfie dengan santai setelah rapat konsolidasi tertutup di Kantor DPC PDI Perjuangan Karanganyar, Senin (23/2).
Dolfie menegaskan bahwa bagi PDI Perjuangan yang lebih penting saat ini adalah memastikan konsolidasi internal berjalan dengan baik dan semua janji kampanye yang disampaikan oleh bupati, wali kota, dan anggota dewan PDIP bisa terealisasi.
“Kami hanya fokus pada kerja-kerja partai kami. Banyak tugas yang harus dipenuhi, janji-janji kampanye bupati kami, wali kota kami, anggota dewan kami,” tegasnya.
Rapat di Karanganyar tersebut merupakan bagian dari roadshow PDI Perjuangan Jateng ke 35 kabupaten/kota. Sejak kepengurusan baru terbentuk, Dolfie melakukan perjalanan ke berbagai daerah untuk memeriksa kondisi organisasi dan memastikan bahwa partai tetap solid menjelang pemilu mendatang.
“Kami ingin tahu perkembangan konsolidasi di setiap cabang. Intinya arah konsolidasi partai ini mau ke mana,” tambahnya.
Baca: Ganjar Tekankan Kepemimpinan Strategis yang Berani Ambil
Meskipun PDI Perjuangan mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi Pemilu 2029, Dolfie menegaskan bahwa fokus utama partainya tetap pada kerja nyata.
“Janji-janji kampanye yang disampaikan oleh bupati dan anggota DPRD dari PDI Perjuangan harus direalisasikan. Itu yang lebih penting bagi kami,” tegasnya. Bagi Dolfie, kepercayaan publik harus dibangun bukan dari slogan, melainkan dari program yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Dolfie juga menyinggung tantangan klasik yang dihadapi pemerintah daerah, yakni keterbatasan anggaran. “Banyak daerah di Jawa Tengah masih bergantung pada transfer pemerintah pusat. Bahkan porsinya bisa mencapai 80 persen dari APBD. Kepala daerah harus pintar menentukan prioritas, dengan kebutuhan dasar seperti pangan, kesehatan, dan pendidikan menjadi yang utama,” jelasnya

















































































