Ikuti Kami

Megawati Instruksikan Kader PDIP Jadi ‘Pandu Ibu Pertiwi’: Wajib Jaga Alam dan Lawan Keserakahan

HUT ke-53 PDI Perjuangan: Megawati Larang Kader Terlibat Perusakan Lingkungan dan Kebijakan Eksploitatif

Megawati Instruksikan Kader PDIP Jadi ‘Pandu Ibu Pertiwi’: Wajib Jaga Alam dan Lawan Keserakahan
Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam Rakernas I PDI Perjuangan Tahun 2026 & HUT ke-53 PDI Perjuangan - Foto: DPP PDI Perjuangan

Jakarta, Gesuri.id – Dalam momentum peringatan HUT ke-53 PDI Perjuangan Ketua Umum Prof. Dr. Megawati Soekarnoputri memberikan instruksi ideologis yang sangat tegas kepada seluruh kader partai di Indonesia. Megawati memerintahkan transformasi peran kader untuk menjadi 'Pandu Ibu Pertiwi' yang bertugas menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian ekologi.

Berbicara pada pembukaan Rakernas I Tahun 2026 di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2026), Megawati menekankan bahwa identitas sebagai kader bukan sekadar mengenakan atribut partai. Ia menuntut adanya tanggung jawab sejarah dalam setiap langkah politik yang diambil oleh para anggotanya.

"Kader PDI Perjuangan harus menjadi Pandu Ibu Pertiwi. Pandu adalah penunjuk jalan. Pandu adalah penjaga arah," tegas Megawati di hadapan ribuan peserta Rakernas. 

Ia menambahkan bahwa kader harus menjadi sosok yang "berjalan paling depan saat jalan gelap, dan paling belakang saat rakyat harus dilindungi".

Instruksi ini dibarengi dengan peringatan keras mengenai etika dan moralitas dalam berpolitik. Megawati melarang keras kader partai menjadi bagian dari sistem yang merusak alam demi kepentingan sesaat.

"Kader tidak boleh menjadi bagian dari kerusakan alam dan penderitaan rakyat," ucapnya. 

"Menjadi Pandu Ibu Pertiwi berarti menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, antara kekuasaan dan moral, antara pembangunan dan keadilan. Berani mengatakan tidak pada kebijakan yang merusak bumi. Berani melawan keserakahan yang mengorbankan rakyat".

Guna memperkuat basis ideologis tersebut, Megawati mengaitkan instruksi ini dengan nilai-nilai kearifan lokal seperti Tri Hita Karana dari Bali dan Memayu Hayuning Bawana dari Jawa. Ia menekankan bahwa politik harus kembali menjadi alat pengabdian yang menghormati bumi sebagai satu ekosistem kehidupan.

"Anak-anakku, jangan pernah takut pada kebenaran. Kebenaran adalah api yang menyucikan," pesan Megawati.

"Sejarah tidak akan bertanya berapa jabatan yang pernah kalian duduki. Sejarah akan bertanya: di pihak siapa kalian berdiri ketika kebenaran diuji?"

Quote