Ikuti Kami

PAC PDI Perjuangan Ciracas Gelar Diskusi 30 Tahun Kudatuli: Hadirkan Adian Napitupulu, William Yani dan Seno Bagaskoro

PDI Perjuangan Tidak Serta-merta Lahir dari Gegap Gempita Euforia Politik

PAC PDI Perjuangan Ciracas Gelar Diskusi 30 Tahun Kudatuli: Hadirkan Adian Napitupulu, William Yani dan Seno Bagaskoro
PAC PDI Perjuangan Ciracas gelar Diskusi 30 Tahun Peristiwa Kudatuli - Foto: PAC PDI Perjuangan Ciracas

Jakarta, Gesuri.id – Menyambut peringatan 30 tahun Tragedi Kudatuli, Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan Kecamatan Ciracas menggelar Diskusi sekaligus penayangan film pendek bertajuk "30 Tahun Tragedi 27 Juli 1996: PDI Perjuangan Tidak Serta-merta Lahir dari Gegap Gempita Euforia Politik" di Aula SMK Sahid Jakarta, Sabtu (25/7/2026) malam.

Hadir sebagai narasumber Wakil Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Adian Napitupulu, tokoh PDI Perjuangan DKI Jakarta William Yani Wea, serta Juru Bicara PDI Perjuangan Aryo Seno Bagaskoro.

Turut hadir sejumlah jajaran DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta, Ketua DPC PDI Perjuangan Jakarta Timur Dwi Rio Sambodo yang juga akan memberikan sambutan serta keynote speech, dan Sekretaris DPC PDI Perjuangan Jakarta Timur Lukman Hakim serta ratusan kader PDI Perjuangan dari tingkat PAC dan ranting, Satgas Cakra Buana, kalangan pemuda, hingga tokoh masyarakat.

Ketua PAC PDI Perjuangan Ciracas Tri Bayu mengatakan, tiga dekade telah berlalu sejak Tragedi Kudatuli 27 Juli 1996, namun peristiwa tersebut tetap menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia.

Menurutnya, Kudatuli mengajarkan bahwa cita-cita demokrasi, kedaulatan rakyat, dan keberanian memperjuangkan kebenaran tidak pernah lahir secara instan, melainkan melalui pengorbanan, keberanian, dan keteguhan sikap.

"Sudah 30 tahun berlalu, tetapi semangat Kudatuli tidak pernah padam. Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa demokrasi dan kedaulatan rakyat dibangun melalui perjuangan yang panjang, bahkan dengan pengorbanan yang besar. Karena itu, generasi muda harus memahami sejarah ini agar tidak melupakan bagaimana demokrasi diperjuangkan," kata Tri Bayu dalam sambutannya.

Ia menegaskan, kegiatan tersebut bukan sekadar mengenang peristiwa sejarah, melainkan menjadi ruang edukasi politik bagi kader dan masyarakat, khususnya generasi muda yang tidak mengalami langsung dinamika perjuangan demokrasi pada era Orde Baru.

Dijelaskan Bewok, sapaan akrab Tri Bayu, Peristiwa Kudatuli merupakan tonggak sejarah lahirnya PDI Perjuangan sekaligus menjadi momentum penting dalam perjuangan demokrasi dan penegakan hak asasi manusia di Indonesia.

Ia kemudian mengulas perjalanan sejarah Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang lahir dari kebijakan fusi lima partai politik pada 10 Januari 1973, yakni Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai Katolik, Partai Murba, dan Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI).

Dalam perkembangannya, kata dia, PDI terus menghadapi berbagai tekanan politik dari rezim Orde Baru, terutama ketika Megawati Soekarnoputri memperoleh dukungan luas untuk memimpin partai.

"Puncak ketegangan terjadi saat Kongres Luar Biasa di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, pada 2 hingga 6 Desember 1993. Saat itu pemerintah tidak menghendaki Ibu Megawati memimpin PDI sehingga berbagai bentuk intervensi dilakukan terhadap proses demokrasi internal partai," ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris PAC PDI Perjuangan Ciracas Milchias Jacob menjelaskan, konflik tersebut kemudian mencapai puncaknya pada 27 Juli 1996 ketika Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro Nomor 58 Jakarta diserang oleh massa yang didukung aparat kekuasaan saat itu.

"Penyerangan terhadap kantor PDI bukan hanya serangan terhadap sebuah partai politik, tetapi juga menjadi simbol pembungkaman demokrasi dan hak rakyat untuk menentukan pilihan politiknya sendiri," katanya.

Ia menambahkan, dari peristiwa itulah lahir semangat perjuangan yang kemudian melahirkan PDI Perjuangan sebagai kekuatan politik yang memperjuangkan demokrasi, konstitusi, dan keberpihakan kepada rakyat kecil.

Karena itu, lanjut Milchias, peringatan 30 tahun Kudatuli harus dimaknai sebagai momentum refleksi bersama agar praktik penyalahgunaan kekuasaan dan kekerasan politik tidak pernah terulang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Melalui penayangan film pendek, diskusi, testimoni para pelaku sejarah, hingga persembahan lagu perjuangan, kami ingin menanamkan nilai bahwa PDI Perjuangan tidak lahir dari gegap gempita euforia politik. Partai ini lahir dari penderitaan, pengorbanan, dan keberanian melawan ketidakadilan," tegasnya.

Ia berharap seluruh kader, terutama generasi muda PDI Perjuangan, terus menjaga semangat perjuangan para pendahulu serta menjadikan Tragedi Kudatuli sebagai pengingat bahwa demokrasi hanya dapat bertahan apabila terus dirawat dengan keberanian, persatuan, dan keberpihakan kepada rakyat.

"Semoga semangat Kudatuli tetap hidup dalam setiap langkah perjuangan kita untuk menjaga demokrasi, keadilan, dan kedaulatan rakyat Indonesia," pungkas Milchias.

Quote