Jakarta, Gesuri.id - Di tengah riuhnya dinamika politik nasional dan isu elektoral yang mengemuka, sosok politisi muda PDI Perjuangan, Lusia Rosalina, tampil menyuarakan pesan berbeda dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan peringatan HUT ke-53 PDI Perjuangan.
Melalui keterlibatannya di Komisi Komunikasi Politik Rakernas, Lusia menegaskan pentingnya mengembalikan politik pada nilai dasarnya: kemanusiaan dan keberpihakan kepada rakyat.
Sebagai Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Kalbar, Lusia menilai arahan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam Rakernas merupakan penegasan ideologis yang sangat relevan dengan kondisi bangsa saat ini.
Menurutnya, Megawati secara tegas mengingatkan bahwa perubahan iklim dan bencana alam bukan lagi isu abstrak, melainkan realitas yang dirasakan langsung oleh masyarakat di berbagai daerah.
“Di saat banyak pihak masih sibuk membicarakan pemilu dan kekuasaan, Ibu Megawati justru mengajak kader untuk melihat rakyat yang sedang tertimpa bencana. Ini menunjukkan bahwa politik harus berpijak pada empati dan kemanusiaan,” ujar Lusia.
Lusia menilai, pesan tersebut menjadi pedoman penting bagi politisi muda PDI Perjuangan untuk tidak terjebak pada politik pragmatis.
Menurutnya, Rakernas kali ini mengingatkan bahwa kehadiran partai harus nyata di tengah penderitaan rakyat, khususnya saat masyarakat menghadapi banjir, longsor, kekeringan, dan dampak krisis iklim yang kian meluas.
Sebagai bagian dari Komisi Komunikasi Politik, Lusia menekankan bahwa arah komunikasi partai ke depan harus dibangun dengan narasi yang menyejukkan, edukatif, dan berorientasi pada solusi.
Ia menolak pendekatan komunikasi politik yang menjadikan bencana sebagai komoditas atau alat eksploitasi kepentingan sesaat.
“Politik komunikasi kita harus menghadirkan harapan, bukan ketakutan. Bencana tidak boleh dijadikan panggung pencitraan, melainkan momentum untuk menguatkan solidaritas dan kehadiran negara,” tegasnya.
Menurut Lusia, peringatan HUT ke-53 PDI Perjuangan yang dirangkai dengan Rakernas juga menjadi ruang refleksi bagi kader muda untuk memahami bahwa perjuangan partai tidak berhenti pada kontestasi elektoral.
Lebih dari itu, perjuangan politik harus menyentuh persoalan nyata rakyat, terutama isu lingkungan dan keberlanjutan.
Ia menilai, konsistensi PDI Perjuangan dalam mengedepankan nilai kemanusiaan dan keadilan sosial menjadi fondasi penting dalam membangun politik jangka panjang yang berakar kuat di masyarakat.
Hal ini sekaligus menjadi pembeda antara politik yang berorientasi kekuasaan semata dengan politik ideologis yang berorientasi pada masa depan bangsa.
“Sebagai politisi muda, kami dituntut tidak hanya piawai berpolitik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan keberanian moral. Itulah pesan besar Rakernas kali ini,” ungkapnya.
Melalui pernyataannya, Lusia Rosalina mencerminkan wajah generasi muda PDI Perjuangan yang tidak hanya melek politik, tetapi juga sadar akan tanggung jawab kemanusiaan.
Rakernas dan HUT ke-53 PDI Perjuangan pun menjadi penanda bahwa estafet perjuangan partai terus berjalan, dengan politisi muda yang siap menjaga nilai ideologi, keberlanjutan lingkungan, dan keberpihakan kepada rakyat.

















































































