Jakarta, Gesuri.id - Anggota DPR RI yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Solo, Aria Bima, menegaskan pemilihan Wayang Kampung Sebelah (WKS) dalam rangka mangayubagyo HUT ke-53 PDI Perjuangan, DPC PDI Perjuangan Kota Solo, bukan tanpa alasan.
Menurutnya, WKS menghadirkan narasi membumi yang merefleksikan persoalan nyata masyarakat, mulai dari isu kesehatan, pendidikan, kebutuhan pokok, hingga daya beli.
“Wayang Kampung Sebelah menyuarakan narasi rakyat kecil, bukan narasi elite. Ini menjadi bahan masukan bagi kami, apakah ke depan PDI Perjuangan sebagai partai wong cilik masih bisa mewujudkan keinginan rakyat lewat berbagai kegiatannya,” jelas Aria Bima di sela acara.
Suasana Sasana Krida Mangkubumen, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, tampak lebih meriah pada Sabtu (31/1/2026) malam. Ratusan warga Solo turut mangayubagyo HUT ke-53 PDI Perjuangan, DPC PDI Perjuangan Kota Solo menggelar pagelaran Wayang Kampung Sebelah (WKS) yang dipentaskan dalang Ki Jlitheng Suparman.
Pagelaran wayang ini menjadi puncak perayaan HUT partai berlambang banteng moncong putih tersebut. Berbeda dari seremoni formal, acara dikemas tanpa sekat antar pengurus partai. Para petinggi partai, legislator, pejabat kota, hingga aparat TNI-Polri duduk berdampingan dengan masyarakat umum, menyatu menikmati lakon yang menyuarakan kehidupan rakyat kecil.
Aria Bima menyebut peringatan 53 tahun PDI Perjuangan menjadi momentum refleksi bagi partai, khususnya kiprah PDI Perjuangan di Kota Solo. Ia juga menegaskan komitmen PDI Perjuangan untuk tetap menjadi mitra strategis Pemerintah Kota Solo.
“Hampir lima periode kami memikirkan Kota Solo di setiap Pilkada. Pada Pilkada keenam ini, PDI Perjuangan tetap akan menjadi mitra Pemkot Solo. Kami akan terus mendukung kegiatan-kegiatan yang bersifat kerakyatan dalam narasi kebinekaan dan multikulturalisme,” tandasnya.
Aria Bima menyampaikan kemasan budaya merupakan pilihan paling tepat dalam penyelenggaraan acara di Kota Solo. Ia menyebut seni adalah medium paling jujur untuk mendengar suara arus bawah.
“Mahabarata luar biasa, tapi kali ini kami ingin mendengarkan narasi rakyat. Ki Jlitheng mengekspresikan suara wong cilik tentang MCK, kesehatan, hingga daya beli. Kami ingin lebih banyak mendengar daripada berbicara,” imbuhnya.
Perayaan HUT ke-53 PDI Perjuangan Solo juga menghadirkan dampak ekonomi langsung bagi warga. Sebanyak 24 pelaku UMKM lokal yang rutin berjualan di kawasan Sasana Krida dilibatkan secara aktif.
Panitia membagikan 1.000 kupon jajan gratis kepada masyarakat dan kader, yang dapat ditukarkan di lapak UMKM tanpa atribut partai.
Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Solo, YF Sukasno, menyebut langkah tersebut merupakan instruksi untuk menghidupkan ekonomi kerakyatan sekaligus memberi hiburan yang inklusif.
“Di sini ada 24 UMKM yang rutin berjualan. Maka kami bagikan 1.000 voucer agar dagangan mereka bisa laris dan memberi manfaat langsung bagi warga,” terangnya.
Acara tersebut turut dihadiri jajaran struktural DPC PDI Perjuangan Solo, sejumlah anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Solo seperti Suharsono, Roro Indradi Sarwo Indah, Rheo Yuliana Fernandez, Joni Sofyan Erwandi, Ekya Sih Hananto, Baruna Wasita Aji, dan Sagita Puspita Wiranata. Bendahara DPC PDI Perjuangan Solo, Bambang “Gage” Nugroho, juga tampak hadir, disusul Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani yang turut datang.
Dengan pagelaran Wayang Kampung Sebelah dan pelibatan UMKM, HUT ke-53 PDI Perjuangan Solo tak sekadar menjadi perayaan usia, melainkan momentum kembali ke akar rumput—mendengar suara rakyat lewat bahasa budaya.

















































































