Ikuti Kami

Patung Bung Karno di Sanga-Sanga Diresmikan, Ananda Moeis: Pengingat Sejarah Bangsa

Patung Bung Karno idealnya menjadi pengingat kolektif sekaligus ruang edukasi publik tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Patung Bung Karno di Sanga-Sanga Diresmikan, Ananda Moeis: Pengingat Sejarah Bangsa
Suasana di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Sangasanga, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaliantan Timur, tampak lebih hidup pada Selasa (27/1/2026). Warga berkumpul untuk menyaksikan momen bersejarah dan peresmian Patung Ir. Soekarno yang menjulang gagah setinggi 12,5 meter.

Jakarta, Gesuri.id - Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur, Ananda Emira Moeis, menyampaikan harapannya agar peresmian patung Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno di kawasan Sanga-Sanga, Kabupaten Kutai Kartanegara, tidak berhenti sebagai seremoni dan simbol fisik semata, melainkan menjadi ruang hidup yang menghidupkan kembali kesadaran sejarah, khususnya bagi generasi muda.

“Saya memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara yang sudah memperjuangkan sampai hari ini kita bisa meresmikan patung Bung Karno, Ir Soekarno, Bapak Bangsa dan tokoh proklamator kita,” kata Ananda, dikutip Kamis (29/1).

Menurut Ananda, apresiasi terhadap peresmian monumen tersebut harus diikuti dengan pemanfaatan yang jelas dan berkelanjutan. Ia menilai patung Bung Karno idealnya menjadi pengingat kolektif sekaligus ruang edukasi publik tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

“Harapannya bisa menjadi pengingat untuk anak-anak muda di Kalimantan Timur, khususnya di Kutai Kartanegara, mengingat akan sejarah bangsa. Supaya bisa juga mempelajari, dan bisa mewarisi serta meneladani apa yang beliau lakukan untuk Bangsa Indonesia,” ucap Ananda.

Nanda, sapaan akrabnya yang juga menjabat Sekretaris DPD PDI Perjuangan Kalimantan Timur, menilai tantangan generasi muda saat ini bukan terletak pada keterbatasan akses fisik terhadap simbol sejarah, melainkan pada minimnya ruang dialog dan pembelajaran mengenai nilai-nilai perjuangan bangsa. Oleh karena itu, monumen sejarah perlu dihidupkan melalui aktivitas nyata yang melibatkan publik.

Ia juga menyoroti bahwa patung Bung Karno di Sanga-Sanga tercatat sebagai patung Bung Karno tertinggi di luar Pulau Jawa. 

Meski demikian, Ananda mengingatkan bahwa nilai sebuah monumen tidak diukur dari ukuran fisiknya, melainkan dari manfaat sosial yang dihadirkannya bagi masyarakat.

“Sekali lagi, luar biasa salut untuk Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara karena ini patung Bung Karno tertinggi di luar Pulau Jawa. Tapi harapannya nanti sesuai yang disampaikan, ada banyak kegiatan untuk anak-anak muda di sini, sehingga ruang terbuka ini benar-benar membawa manfaat,” ujarnya.

Ananda berharap kawasan patung Bung Karno tidak menjadi ruang mati setelah peresmian selesai. Ia menekankan pentingnya pengisian ruang publik tersebut dengan kegiatan kreatif, edukatif, dan partisipatif agar nilai-nilai perjuangan Bung Karno dapat terus hidup dan diwariskan kepada generasi muda.

“Kalau hanya berdiri sebagai patung, nilainya akan terbatas. Tapi kalau ruangnya hidup, anak muda datang, berdiskusi, belajar, berkegiatan, maka di situ nilai Bung Karno benar-benar hadir,” pungkasnya.

Quote