Ikuti Kami

Bahasa Hati Menjadi Jembatan: Dokter PDI Perjuangan Dibantu Penerjemah Minang Layani Warga Terisolasi Pesisir Selatan

Keterbatasan komunikasi menjadi tantangan tersendiri bagi para dokter. Mendengar keluhan pasien secara tepat: kunci diagnosis yang akurat

Bahasa Hati Menjadi Jembatan: Dokter PDI Perjuangan Dibantu Penerjemah Minang Layani Warga Terisolasi Pesisir Selatan
Dokter Diaspora Indonesia dr. Ika bersama relawan dari PDI Perjuangan Sumatera Barat membantu menerjemahkan warga Pesisir Selatan yang sedang berobat gratis - Foto: PDI Perjuangan Sumbar

Pesisir Selatan, Gesuri.id – Sejak diturunkan oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan pada 29 Desember lalu, Tim Medis PDI Perjuangan tak henti bergerak menyusuri wilayah terdampak bencana di Sumatera Barat, bahkan hingga ke pelosok desa yang masih terisolasi. Di tengah akses jalan yang sulit dan keterbatasan fasilitas, misi kemanusiaan itu dijalankan dengan satu tekad: memastikan rakyat tetap mendapatkan layanan kesehatan.

Rombongan yang dipimpin Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kesehatan dr. Ribka Tjiptaning hadir membawa 30 unit ambulans lengkap dengan dokter, perawat, serta tenaga kesehatan. Mereka berpindah dari satu titik ke titik lain, membuka posko kesehatan darurat bagi warga yang sejak bencana melanda harus bertahan dalam kondisi serba terbatas.

Salah satu tim kesehatan DPP PDI Perjuangan berangkat menuju Kecamatan IV Nagari Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan, sejak Minggu (4/1). Wilayah ini termasuk daerah terujung yang hingga kini masih terisolasi. Di sebuah desa yang hanya bisa dijangkau dengan usaha ekstra, dr. Ika Putri MBBS bersama rekan-rekannya membuka layanan pengobatan gratis bagi warga.

Di posko kesehatan sederhana itu, cerita-cerita kemanusiaan mengalir. Warga datang satu per satu, membawa keluhan sakit yang selama berhari-hari mereka pendam. Namun, ada satu tantangan yang sempat muncul: bahasa. Sebagian besar masyarakat, terutama kalangan usia lanjut, menyampaikan keluhannya dengan bahasa Minang, bahasa yang paling akrab bagi mereka dalam keseharian.

Keterbatasan komunikasi menjadi tantangan tersendiri bagi para dokter. Mendengar keluhan pasien secara tepat adalah kunci diagnosis yang akurat. Menyadari hal tersebut, dr. Ika meminta bantuan kader PDI Perjuangan Sumatera Barat yang tergabung dalam tim untuk mendampingi sebagai penerjemah.

“Hanya sedikit kendala di awal, tapi sudah kami atasi dibantu kawan-kawan dari Sumatera Barat,” ujar dr. Ika, dokter lulusan Tiongkok itu, sambil terus melayani pasien yang antre dengan sabar.

Kehadiran penerjemah bahasa Minang bukan sekadar membantu menerjemahkan kata demi kata, tetapi juga menjembatani rasa. Warga merasa lebih nyaman, lebih didengar, dan lebih dipahami. Bahasa ibu yang mereka gunakan menjadi jalan untuk menyampaikan rasa sakit, kecemasan, sekaligus harapan.

Salah seorang kader PDI Perjuangan Sumatera Barat, Aswendi, menjelaskan bahwa kondisi ini memang lazim terjadi di daerahnya. “Ibu dan bapak masyarakat kita sebenarnya mengerti Bahasa Indonesia, tapi ketika berbicara memang sedikit kesulitan. Dengan bahasa Minang, mereka jadi lebih leluasa menyampaikan keluhannya,” tuturnya.

Di tengah keterisolasian, bahasa pun menjadi bagian dari ikhtiar kemanusiaan. Tak hanya obat dan peralatan medis yang dibawa, tetapi juga kepedulian untuk memahami rakyat dari cara mereka berbicara dan bercerita. Bagi warga Pesisir Selatan, kehadiran dokter PDI Perjuangan yang mau mendengar dengan bahasa hati menjadi penguat di tengah masa sulit.

Misi kemanusiaan ini kembali menegaskan bahwa pelayanan kesehatan bukan semata soal tindakan medis, tetapi juga soal empati, kedekatan, dan kesediaan untuk hadir sepenuh hati bersama rakyat.

Quote