Metro, Gesuri.id - Masyarakat Kota Metro kini harus menghadapi ancaman ganda. Di tengah krisis air bersih akibat kemarau panjang, warga setempat juga dikepung paparan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).
Merespons kondisi darurat tersebut, DPC PDI Perjuangan Kota Metro menyalurkan bantuan berupa masker dan air bersih kepada warga yang terdampak, Selasa (8/9/2026).
Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Metro, A. Cahyadi Lamnunyai—mewakili Ketua DPC Ancilla Hernani—menjelaskan bahwa aksi sosial ini merupakan instruksi langsung dari Ketua DPD PDI Perjuangan Lampung agar seluruh kader bergotong royong membantu masyarakat.
Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda

"Pembagian masker ini difokuskan pada wilayah terdampak guna mengantisipasi bahaya abu vulkanik terhadap saluran pernapasan. Sementara itu, distribusi air bersih ditujukan bagi warga yang sumurnya mulai mengering akibat kemarau panjang," ujar Cahyadi kepada awak media.
Berdasarkan data BMKG per 7 September 2026, analisis citra satelit Himawari-9 bersama laporan PVMBG dan VAAC Darwin mengonfirmasi adanya dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang meluas hingga ke Kota Metro.
Dampak buruk kualitas udara ini memaksa pemerintah daerah mengambil langkah pencegahan, seperti mengimbau warga mengurangi aktivitas luar ruangan hingga mengalihkan kegiatan belajar mengajar ke sistem dalam jaringan (daring).
Pria yang juga menjabat sebagai Anggota DPRD Dapil Metro Barat dan Metro Selatan itu menambahkan, krisis lingkungan di Kota Metro makin kompleks lantaran tingginya defisit kebutuhan air bersih.
Data BPBD Kota Metro per pertengahan Agustus 2026 mencatat, estimasi kebutuhan air bersih di wilayah terdampak mencapai 42.000 liter per hari. Namun, penyaluran darurat oleh BPBD baru mencapai 35.000 liter yang menjangkau 56 kepala keluarga (306 jiwa). Kondisi serupa dilaporkan terjadi di Kelurahan Purwosari, Metro Utara, di mana warga kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan harian.

Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
Pria yang akrab disapa Kanjeng Yadi ini menegaskan bahwa kemarau panjang tidak boleh sekadar dipandang sebagai persoalan cuaca, melainkan isu ketahanan masyarakat yang memerlukan penanganan sistematis.
"Bantuan ini adalah respons darurat. Namun, untuk jangka panjang, pemerintah dan seluruh pihak harus memperkuat pemetaan wilayah rawan kekeringan, pembangunan sumur bor, embung, serta optimalisasi sistem penyimpanan air," tegasnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, disiplin menghemat air, dan selalu mengenakan masker saat harus beraktivitas di luar rumah.

















































































