Sukabumi, Gesuri.id – Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kesehatan, Ribka Tjiptaning turut menghadiri peresmian kembali Klinik Waluya Sejati Abadi yang berlokasi di Jalan Tipar Gede, Kota Sukabumi, Minggu (25/1) oleh Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto.
Peresmian kembali klinik ini sekaligus menjadi momentum refleksi perjuangan panjang PDI Perjuangan dalam menghadirkan layanan kesehatan yang berpihak kepada rakyat kecil. Dalam sambutannya, Ribka menyampaikan bahwa klinik tersebut memiliki sejarah panjang perjuangan sosial.
Ia mengingatkan bahwa fasilitas kesehatan ini pertama kali diresmikan oleh Ketua Umum PDI Perjuangan sekaligus Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, pada tahun 2011 dengan nama Rumah Sakit Pelita Rakyat (RSPR).
“Saya menangis kepada Mbak Mega, saya bilang, 'Mbak kok lucu, ya, mau berbuat baik sama rakyat saja kok susah. Khan tidak diminta uang?' Terus ibu ketua umum cuma sederhana menjawab: 'Ning, kamu lihat ya cucumu belajar berjalan. Pasti dia saat langkah pertama itu dia akan terjatuh dan terluka, tergores, tapi kalau cucumu tidak ada keberanian melangkah pertama, dia tidak akan ada seribu langkah berikutnya, karena langkah pertama itu menentukan arah dan tujuan’,” ujar Ribka menirukan pesan Megawati.
Ia mengaku haru melihat klinik tersebut kembali melayani rakyat dengan biaya Rp25.000 untuk berobat jalan dan Rp50.000 untuk persalinan hingga pulang. “Kalau dia tidak punya uang, yang bayar DPC PDI Perjuangan. Di sini semua dilayani dengan senyum tanpa diskriminasi,” ucapnya.
“Dulu dibiayai uang reses saya. Karena setiap ke Dapil, daripada pusing-pusing ketemu rakyat. Dari awal berdiri, prinsipnya sederhana: pasien tidak pernah ditanya siapa dia, yang penting dilayani dengan senyum dan tanpa diskriminasi,” tegas Ribka di hadapan Sekjen PDI Perjuangan, jajaran DPP, DPD Jawa Barat dan Banten, DPC Kota dan Kabupaten Sukabumi, serta masyarakat.
Ribka mengungkapkan, klinik ini sempat menghadapi berbagai tantangan perizinan dan keterbatasan sarana. Namun, berkat semangat gotong royong kader partai lintas daerah serta dukungan tokoh-tokoh lintas partai dan tenaga medis diaspora, Klinik Waluya Sejati Abadi kini kembali beroperasi dengan fasilitas yang lebih layak.
“Ini bukti bahwa gotong royong masih hidup. Ada yang menyumbang Rp500 ribu, 1 Juta, 10 Juta, 20 Juta, ada yang Rp50 juta, temannya Bu Mega sumbang sprei, bahkan ada laboratorium senilai 700 Juta Rupiah dan genset besar seharga Rp 500 Juta. Pesan Ibu Mega: sekecil apapun dicatat, Ning. Itu bentuk gotong royong. Semua untuk rakyat,” ujarnya.
Ke depan, klinik ini akan mulai beroperasi secara bertahap, termasuk layanan rawat inap dengan kapasitas awal 20 tempat tidur, sembari menunggu penyempurnaan perizinan dan kerja sama dengan BPJS Kesehatan.

















































































