Oleh : Yogen Sogen*
Jakarta, Gesuri.id - Senin pagi, 29 Desember 2025, suasana di Sekolah Partai PDI Perjuangan, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, tidak seperti hari-hari biasanya.
Tidak ada deretan kursi untuk kuliah kader, diskusi atau perdebatan teori politik.
Halaman sekolah itu berubah menjelma barisan kesiapsiagaan. Tiga puluh (30) ambulans berjajar rapi, didampingi puluhan tenaga medis yang siap bertaruh raga.
Di sinilah, di bawah komando Ketua Umum Megawati Soekarnoputri, politik menemukan rohnya, bukan sebagai instrumen kekuasaan, melainkan sebagai alat pengabdian kemanusiaan yang paling murni.
Pengerahan jajaran partai ke wilayah bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat ini merupakan tamparan bagi mereka yang menganggap politik hanyalah urusan perebutan kursi di musim politik.
Bagi PDI Perjuangan, politik memiliki wajah yang jauh lebih sakral: Kemanusiaan.
Instruksi Megawati yang disampaikan melalui Sekjen Hasto Kristiyanto agar bantuan tak pandang bulu siapa yang jadi korban adalah sebuah manifesto bahwa Sekolah Partai bukan sekadar tempat mencetak politisi, melainkan kawah candradimuka untuk meneguhkan rasa kemanusiaan.
Keputusan ini adalah manifestasi dari ajaran Bung Karno tentang Socio-Humanisme. Putra Sang Fajar pernah menegaskan bahwa nasionalisme kita bukanlah nasionalisme yang menyendiri, melainkan nasionalisme yang tumbuh dalam taman sarinya internasionalisme dan kemanusiaan.
Pelepasan bantuan dari Lenteng Agung ini adalah bukti bahwa garis koordinat partai tidak pernah bergeser dari titik nadir penderitaan rakyat.
Menangis dan Tertawa Bersama Rakyat

Doktrin "menangis dan tertawa bersama rakyat" bukan sekadar jargon yang bergetar di atas podium .
Di Lenteng Agung, kalimat itu berdenyut nyata. Megawati Soekarnoputri, dengan wawasannya yang luas sebagai mantan Presiden dan Wakil Presiden dan Ketua Umum PDI Perjuangan, secara detail menyusun daftar kebutuhan "bencana basah" merupakan sebuah sentuhan kepemimpinan yang maternal sekaligus teknokratis.
Ia memastikan bahwa rakyat yang tengah dirundung duka dan kegamangan panjang di tenda pengungsian Sumatera tidak merasa sendirian.
Sebanyak 30 dokter dan 60 paramedis yang diberangkatkan bukan sekadar tenaga bayaran, melainkan relawan lintas daerah (Jawa Timur, Banten hingga Lampung) yang dipersatukan oleh satu rasa solidaritas.
Di sinilah letak keajaiban Gotong Royong. PDI Perjuangan sedang mempraktikkan apa yang disebut Bung Karno sebagai "pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama."
Sopir-sopir ambulans yang diberangkatkan pun disebut sebagai sosok yang "militan". Mereka telah dilatih bukan hanya untuk mengemudi, tapi untuk menjadi garda terdepan pertolongan pertama. Inilah esensi dari "tertawa dan menangis": merasakan getirnya evakuasi di tengah bencana agar kelak bisa kembali tertawa bersama saat pemulihan telah tiba.
Melampaui Sekat Geografis dan Logistik
PDI Perjuangan memahami bahwa bencana tidak bisa dihadapi dengan cara-cara yang biasa dan sendiri-sendiri. Oleh karena itu, strategi yang dijalankan perlu kematangan dan terukur.
Selain ambulans dari Lenteng Agung, Kapal Laksamana Malahayati dan armada motor trail juga telah dikerahkan untuk menembus titik-titik yang sulit dijangkau kendaraan roda empat.
Ini adalah politik yang penuh ketelitian; politik yang mengerti topografi dan penderitaan rakyat di pelosok.
Di sisi lain, keterlibatan dokter diaspora yang kembali ke Tanah Air menunjukkan bahwa panggilan kemanusiaan yang dikumandangkan partai mampu menggetarkan nurani anak bangsa lintas benua.
Lebih luar biasa lagi, seluruh pendanaan aksi gotong royong ini, termasuk sumbangan pribadi Megawati Soekarnoputri sebesar Rp 3,2 miliar, berasal dari Yayasan Mega Gotong Royong.
Ini adalah pembuktian bahwa partai ini secara mandiri dan ekonomi mampu menjawabi tangisan rakyat yang berduka.
Ketajaman pikiran Megawati dalam menalar kebatinan rakyat yang terdampak dengan mengarahkan bantuan logistik agar tepat sasaran di Lampung, Banten, hingga Aceh menunjukkan bahwa kepemimpinannya adalah kepemimpinan yang berbasis pada data lapangan dan empati yang mendalam.
Di sini, partai hadir sebagai "obor" di tengah kegelapan bencana, memastikan bahwa negara hadir melalui tangan-tangan kader yang bekerja tanpa pamrih.

Keadilan Sosial sebagai Takdir Perjuangan
Segala upaya yang dilepas dari Sekolah Partai Lenteng Agung itu harus dibaca dalam satu tarikan napas: peneguhan jalan Marhaenis.
Membantu korban bencana tanpa pandang bulu adalah implementasi dari sila kelima Pancasila, "Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia."
PDI Perjuangan menegaskan bahwa ketika bencana datang, identitas politik harus lebur dalam identitas kemanusiaan.
Komitmen tim yang akan bertugas selama satu bulan atau hingga situasi kondusif membuktikan bahwa aksi ini bukan gimmick politik sesaat.
Ini adalah kerja panjang yang meruntuhkan ego politik. Bagi PDI Perjuangan, memberikan bantuan medis bukan hanya soal mengobati luka fisik, tetapi tentang menjaga harapan rakyat agar tidak padam.
Pada akhirnya, sejarah akan mencatat bahwa di saat Sumatera berduka, ada sebuah kekuatan politik yang tidak sibuk berhitung untung-rugi elektoral.
Namun, mereka sibuk mengemas obat-obatan, menyiapkan ambulans, dan menyatu dalam duka dan air mata korban.
Inilah sejatinya politik sebagai alat perjuangan. Politik adalah kemanusiaan, dan kemanusiaan adalah detak jantung PDI Perjuangan.
Sebagaimana pesan Bung Karno, "Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin," dan di sanalah PDI Perjuangan hadir dan melebur dalam dalam pelayanan bagi sesama.
*Penulis adalah kader muda PDI Perjuangan


















































































