Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi lll DPR RI sekaligus Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Tenaga Kerja dan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (TKP2MI), Mercy Chriesty Barends, ST, mengajak generasi muda di Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah, mengambil peran dalam membangkitkan kembali kejayaan rempah Maluku melalui inovasi, penguatan budidaya, dan pemasaran berbasis digital.
"Di Negeri Alang ada anak-anak muda yang melakukan terobosan luar biasa. Hasil panennya mampu memberikan skala ekonomi yang tinggi. Karena itu, petani rempah yang sudah berusia lanjut harus dikombinasikan dengan semangat dan kreativitas generasi muda," kata Mercy.
Ajakan tersebut disampaikan Mercy usai menggelar Diskusi Publik dan Jaring Aspirasi bersama petani cengkeh, pala, serta penangkar bibit rempah dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno 2026 bertema "Cengkeh, Pala, dan Petani Rempah: Merawat Warisan Leluhur, Menggerakkan Ekonomi Kepulauan di Maluku" di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Leihitu Barat, Negeri Lilibooy, dikutip Jumat (24/7/2026).
Menurut Mercy, kebangkitan sektor rempah tidak cukup hanya mengandalkan petani yang selama ini mengelola kebun secara tradisional. Ia menilai regenerasi petani harus diperkuat dengan melibatkan generasi muda yang memiliki kemampuan berinovasi serta menguasai perkembangan teknologi.
Ia juga mendorong pemerintah negeri bersama Balai Penyuluhan Pertanian berperan sebagai fasilitator dengan menghimpun generasi muda di setiap desa untuk bersama-sama mengembangkan potensi ekonomi berbasis komoditas unggulan.
"Anak-anak muda harus turun gunung. Mereka harus mulai menata dan mempromosikan hasil-hasil produksi unggulan melalui digital marketing," ujarnya.
Mercy menilai strategi digitalisasi menjadi kebutuhan agar hasil pertanian tidak lagi bergantung pada pemasaran konvensional, tetapi mampu menjangkau pasar yang lebih luas hingga tingkat nasional maupun internasional.
"Produk-produk unggulan jangan hanya dijual melalui pasar fisik. Produk dari Hatu, Lilibooy, Alang dan desa-desa lainnya harus dikenal masyarakat di luar Maluku bahkan dunia melalui pasar digital," terangnya.
Ia menambahkan, setiap desa memiliki potensi unggulan yang berbeda sehingga strategi pengembangannya harus disesuaikan dengan karakteristik komoditas masing-masing, baik rempah maupun sektor lainnya.
"Di sini ada cengkeh dan pala. Di daerah lain mungkin perikanan, teripang, udang, sagu atau kopra. Semua memiliki peluang besar apabila dipasarkan secara cerdas," ujarnya.
Mercy juga menyinggung kondisi masyarakat yang saat ini harus bertahan di tengah kebijakan efisiensi anggaran. Menurutnya, situasi tersebut tidak boleh mematahkan semangat masyarakat untuk terus mengembangkan sektor-sektor produktif.
"Rakyat hari ini berusaha bertahan dengan kemampuan mereka sendiri. Sebagai anggota DPR RI, saya merasa berkewajiban hadir bersama masyarakat, memberikan gagasan, solusi dan dukungan agar mereka tetap mampu berkembang," paparnya.
Mercy mengungkapkan bahwa komitmennya terhadap pengembangan komoditas rempah telah dilakukan sejak menjadi anggota DPRD Provinsi Maluku hingga tiga periode menjabat sebagai anggota DPR RI. Selama itu pula, ia secara rutin membeli puluhan ribu bibit cengkeh dan pala untuk dibagikan kepada petani di berbagai daerah di Maluku.
"Saya sudah bertahun-tahun membeli bibit untuk dibagikan kepada masyarakat. Bahkan ribuan bibit pernah kami kirim ke Kabupaten Maluku Barat Daya agar rempah terus berkembang," ujarnya.
Selain itu, Mercy mengajak masyarakat memanfaatkan setiap lahan produktif sebagai sumber pendapatan keluarga. Ia juga mendorong penyuluh pertanian mendampingi petani dalam menghitung nilai ekonomi lahan yang mereka kelola agar pengembangan usaha dapat dilakukan secara lebih terencana.
"Jangan biarkan lahan produktif menganggur. Masyarakat harus mulai melihat aset yang dimiliki sebagai sumber pendapatan keluarga yang memiliki nilai ekonomi tinggi," ungkapnya.
Menurut Mercy, pemerintah negeri bersama Balai Penyuluhan Pertanian juga perlu menyusun peta jalan pengembangan kawasan unggulan berbasis rempah di Leihitu Barat agar tercipta rantai nilai dari produksi hingga pengolahan.
"Kalau Lilibooy, Hatu dan Alang unggul di cengkeh dan pala, maka kawasan ini harus ditata menjadi sentra rempah. Selanjutnya dibangun rantai nilai, mulai dari produksi hingga pengolahan sehingga memberi nilai tambah bagi masyarakat," tegasnya.
Ia menegaskan pembangunan ekonomi desa membutuhkan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah negeri, penyuluh pertanian, dan generasi muda agar mampu menciptakan terobosan yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Yang harus kita bangun adalah cara berpikir yang lebih maju. Masyarakat bukan hanya membutuhkan bantuan, tetapi juga gagasan dan motivasi agar mampu melakukan terobosan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka," jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, para petani juga menyampaikan berbagai aspirasi mengenai pengembangan komoditas rempah, peningkatan produktivitas, hingga harapan adanya dukungan pemerintah bagi kesejahteraan petani di Maluku. Usai diskusi publik, Mercy menyerahkan bantuan 3.000 bibit cengkeh dan pala kepada para petani Leihitu Barat sebagai upaya memperkuat pengembangan komoditas unggulan daerah sekaligus meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.
















































































