Sikka, Gesuri.id – Sejumlah warga Kampung Watuliwung, Desa Watuliwung, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, hingga kini masih bertahan di lokasi pengungsian pascagempa bumi tektonik.
Merespons kondisi tersebut, PDI Perjuangan menyalurkan bantuan logistik untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi pada Senin (24/8/2026) malam.
Bantuan diserahkan secara langsung oleh Lusia Adinda Lebu Raya dan Emanuel Kolfidus, didampingi oleh Pengurus DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sikka, Tesa Nurak. Paket bantuan yang disalurkan meliputi beras, telur ayam, popok bayi, hingga pembalut wanita. Pasokan ini ditujukan untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus menyasar kebutuhan spesifik kelompok rentan.
Baca: Ini Resep Ganjar Pranowo Yang Selalu Fit dan Bugar
Selain menyerahkan logistik, PDI Perjuangan menyoroti pentingnya percepatan pelayanan kesehatan bagi para korban, terutama warga yang mengalami luka berat. Emanuel Kolfidus menegaskan bahwa penanganan medis harus menjadi prioritas utama yang didukung oleh fasilitas dan tenaga medis yang memadai.
"Prioritas utama saat ini adalah aspek kesehatan. Saudara-saudara kita yang mengalami luka berat harus mendapatkan pengobatan terbaik dan ditangani secara cepat," tegas Emanuel.
Emanuel juga mendesak otoritas terkait untuk memastikan ketersediaan peralatan medis serta mengerahkan dokter dan tenaga kesehatan dalam jumlah yang mencukupi. Menurutnya, kecepatan tindakan sangat krusial agar tidak ada korban luka berat yang terlambat mendapatkan perawatan.
Kehadiran bantuan berupa popok bayi dan pembalut menjadi penegas bahwa kebutuhan penanganan bencana tidak terbatas pada bahan pangan semata.
Kelompok rentan—seperti bayi, perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas—memerlukan dukungan spesifik yang disesuaikan dengan kondisi mereka.
Baca: Ganjar Bangga dengan Kualitas Bahan Aspal Karya Anak Bangsa
Oleh karena itu, distribusi bantuan hendaknya disertai dengan pemutakhiran data pengungsi dan pemetaan kebutuhan secara akurat di setiap titik pengungsian. Langkah ini penting agar penyaluran bantuan tepat sasaran dan benar-benar menjawab kebutuhan riil warga di lapangan.
Bagi warga Watuliwung, bantuan ini menjadi penopang hidup di tengah masa-masa sulit pengungsian. Namun, pemenuhan kebutuhan pengungsi tentu tidak berhenti pada satu kali penyaluran mengingat proses pemulihan pascabencana masih terus berlangsung.
Selama warga belum bisa kembali ke rumah mereka dengan aman, pemenuhan logistik dasar, layanan kesehatan, dan perlindungan bagi kelompok rentan harus terus dipantau secara berkelanjutan.

















































































