Ikuti Kami

Puan Maharani: Peran Besar Perempuan Dalam Isu Keberlanjutan, Bukan Tiba-Tiba

Peran besar perempuan dalam keberlanjutan, tidak hadir tiba-tiba.

Puan Maharani: Peran Besar Perempuan Dalam Isu Keberlanjutan, Bukan Tiba-Tiba
Ketua DPR RI Puan Maharani.

Jakarta, Gesuri.id - Ketua DPR RI Puan Maharani menegaskan peran besar perempuan dalam isu keberlanjutan bukanlah sesuatu yang hadir secara tiba-tiba, melainkan lahir dari pengalaman hidup, tanggung jawab sosial, serta kedekatan perempuan dengan sumber-sumber kehidupan. 

Hal tersebut disampaikan Puan saat menekankan pentingnya keterlibatan aktif perempuan dalam memperjuangkan keberlanjutan alam dan kehidupan masyarakat Indonesia.

“Peran besar perempuan dalam keberlanjutan, tidak hadir tiba-tiba. Ia lahir dari pengalaman hidup, tanggung jawab sosial, dan kedekatan perempuan dengan sumber-sumber kehidupan. Sebagai perempuan sudah menjadi kodrat kita, menjadi tempat lahirnya kehidupan seorang manusia,” kata Puan, dikutip pada Selasa (6/1/2026).

Menurut Puan, mayoritas perempuan berada di garis depan dalam membesarkan dan merawat anak-anak di dalam keluarga. Kondisi tersebut membentuk perspektif perempuan yang kuat terhadap keberlangsungan hidup generasi mendatang. Karena itu, perempuan tidak hanya memiliki kepentingan, tetapi juga tanggung jawab moral untuk terlibat aktif dalam isu-isu keberlanjutan.

“Mayoritas perempuan berada di garis depan dalam membesarkan dan merawat anak-anak di dalam sebuah keluarga. Maka, kita perempuan memiliki perspektif yang kuat, dan harus mau aktif terlibat dalam memperjuangkan isu-isu keberlanjutan,” tuturnya.

Puan menekankan bahwa perspektif perempuan bukan untuk menggantikan peran laki-laki, melainkan untuk saling melengkapi. Ia menilai, perbedaan pengalaman hidup antara perempuan dan laki-laki justru menjadi kekuatan dalam merumuskan kebijakan yang lebih adil dan inklusif.

“Harus dipahami bahwa perspektif perempuan bukanlah untuk menggantikan perspektif laki-laki, melainkan untuk saling melengkapi. Karena perempuan memiliki kebutuhan dan pengalaman hidup yang berbeda dari laki-laki, maka diperlukan kebijakan yang bernafaskan keadilan gender,” ucapnya.

Lebih lanjut, Puan mengingatkan bahwa hampir setengah dari jumlah penduduk Indonesia adalah perempuan. Oleh karena itu, memasukkan perspektif perempuan dalam setiap perumusan kebijakan berarti memastikan kebutuhan sebagian besar rakyat Indonesia benar-benar diperhatikan oleh negara.

“Apalagi secara jumlah, bahwa hampir setengah dari jumlah penduduk Indonesia saat ini adalah perempuan. Yang artinya, memasukkan perspektif perempuan dalam perumusan setiap kebijakan adalah memastikan bahwa hampir dari setengah jumlah penduduk Indonesia akan diperhatikan kebutuhannya,” ujarnya.

Puan juga menegaskan bahwa suara perempuan tidak boleh lagi dihalang-halangi. Ia mendorong perempuan Indonesia untuk tidak berdiam diri dan terus memperjuangkan ruang partisipasi, khususnya dalam pengambilan keputusan yang berdampak pada keberlanjutan alam dan kehidupan rakyat.

“Maka, suara perempuan tidak bisa lagi dihalang-halangi, dan perempuan sendiri saat ini sudah tidak boleh berdiam diri. Kita, perempuan, harus mendorong makin banyak perempuan turut terlibat dalam pengambilan keputusan yang dapat mempengaruhi keberlanjutan alam dan hidup rakyat Indonesia,” pungkasnya.

Quote