Jakarta Timur, Gesuri.id - Anggota MPR RI sekaligus Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Jakarta Timur, Putra Nababan, mengajak para tokoh masyarakat untuk mengambil peran lebih besar dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda sekaligus menumbuhkan kepedulian mereka terhadap lingkungan sosial.
Hal tersebut disampaikan Putra Nababan dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang dihadiri para tokoh masyarakat di Jakarta Timur, Jumat (7/8/2026). Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog untuk membahas peran masyarakat dalam menjaga persatuan sekaligus memastikan nilai-nilai kebangsaan tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dalam pertemuan tersebut, Putra menekankan tokoh masyarakat memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan warga dan memahami kondisi lingkungan masing-masing. Kehadiran tokoh masyarakat tidak hanya dibutuhkan ketika muncul persoalan, tetapi juga dalam membangun kebersamaan, memberikan keteladanan, dan mengajak generasi muda terlibat dalam kehidupan sosial.
"Tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini berbeda dengan generasi sebelumnya. Perkembangan teknologi dan media sosial membuat informasi bergerak sangat cepat. Karena itu, penanaman nilai Pancasila juga perlu dilakukan dengan cara yang dekat dengan kehidupan mereka dan tidak hanya berhenti pada penyampaian teori," katanya.

Nilai Pancasila dapat diperkenalkan melalui kegiatan sederhana di lingkungan masyarakat. Anak-anak muda dapat diberikan kesempatan untuk terlibat dalam kerja bakti, kegiatan sosial, Karang Taruna, olahraga, seni, kegiatan lingkungan maupun aktivitas kemasyarakatan lainnya.
"Keterlibatan tersebut penting agar generasi muda merasakan secara langsung arti gotong royong, kepedulian, musyawarah, toleransi, dan kebersamaan. Dengan demikian, Pancasila tidak hanya dipahami sebagai sesuatu yang dipelajari, tetapi menjadi nilai yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," ungkapnya.
Putra menilai pendekatan melalui keteladanan juga menjadi salah satu cara penting dalam menanamkan nilai kebangsaan. Generasi muda akan lebih mudah memahami arti gotong royong ketika melihat para tokoh dan warga saling membantu. Mereka juga akan memahami toleransi ketika melihat masyarakat mampu hidup rukun meskipun memiliki latar belakang dan pandangan yang berbeda.
Dalam konteks kehidupan masyarakat Jakarta Timur yang beragam, semangat Bhinneka Tunggal Ika menjadi semakin penting. Keberagaman suku, agama, budaya, maupun pandangan harus dikelola menjadi kekuatan untuk membangun lingkungan yang guyub, bukan menjadi alasan untuk saling menjauh.
Putra juga mengingatkan pentingnya peran tokoh masyarakat dalam mengajak warga, termasuk generasi muda, menggunakan media sosial secara bijak. Informasi yang belum diketahui kebenarannya tidak seharusnya langsung disebarkan, terlebih apabila berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan perpecahan di tengah masyarakat.

















































































