Garut, Gesuri id – Tingginya angka perceraian di Kabupaten Garut yang dilaporkan menembus angka 5.000 kasus memicu perhatian serius dari DPC PDI Perjuangan Kabupaten Garut.
Sebagai langkah konkret pengentasan kemiskinan, partai berlambang banteng moncong putih tersebut mendorong lahirnya program padat karya berbasis koperasi yang menyasar para orang tua tunggal (single mother).
Gagasan strategis ini mencuat dalam Focus Group Discussion (FGD) bersama perwakilan single mother di Sekretariat DPC PDI Perjuangan Garut, Jalan Otto Iskandardinata, Tarogong Kidul, Kamis (16/7).
Forum tersebut menjadi ruang serap aspirasi sekaligus pencarian solusi atas jeratan ekonomi yang dialami perempuan pascaperceraian.
Baca: Ini Cerita Ganjar Yang Pernah Tinggal di Kontrakan
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Garut, Ilham Faturahman, menegaskan bahwa partainya memiliki tanggung jawab moral untuk mengintervensi persoalan sosial ini melalui tawaran kebijakan yang konkret. Menurutnya, pembentukan koperasi menjadi model paling efektif untuk mengonsolidasikan potensi para single mother.
"Salah satu konsep yang kami dorong adalah program padat karya berbasis koperasi untuk pengentasan kemiskinan. Koperasi ini nantinya dapat menciptakan lapangan pekerjaan dengan mengakses dukungan pelatihan, permodalan alat produksi, hingga ceruk pasar dari belanja daerah," ujar Ilham.
Ilham memaparkan, program ini dirancang sebagai sebuah ekosistem pemberdayaan yang berkelanjutan, bukan sekadar bantuan sesaat. Bagi para anggota yang belum memiliki keahlian, mereka akan dibekali keterampilan terarah melalui kerja sama dengan Balai Latihan Kerja (BLK).
Sebagai percontohan awal, unit usaha yang dibidik adalah sektor konveksi. Setelah para ibu dilatih menjahit dan disokong bantuan mesin produksi, hasil kerajinan mereka ditargetkan mampu menyerap pasar lokal, khususnya kebutuhan pemerintah daerah.
"Kami ingin membangun sebuah ekosistem pemberdayaan. Jika para ibu belum memiliki keterampilan, mereka akan diberikan pelatihan melalui BLK. Setelah itu, koperasi akan memiliki unit usaha yang mampu menyerap tenaga kerja anggotanya. Misalnya usaha konveksi; para ibu dilatih menjahit, mesin produksi dibantu, lalu produknya—seperti seragam sekolah—bisa diserap melalui belanja daerah," jelas Ilham.
Lebih lanjut, Ilham menekankan pentingnya keberpihakan politik anggaran (affirmative policy) dari Pemerintah Kabupaten Garut agar ekosistem ini berjalan optimal dan mandiri dalam jangka panjang.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
"Kalau pemerintah daerah bisa membuat kebijakan afirmatif untuk mengarahkan sebagian belanja daerah menyerap produk mereka, maka akan tercipta lapangan pekerjaan yang berkelanjutan bagi para single mother," tambahnya.
Guna merealisasikan peta jalan tersebut, DPC PDI Perjuangan Garut berencana segera membangun komunikasi dengan jajaran eksekutif di Pemerintah Kabupaten Garut agar konsep padat karya ini mendapatkan legalitas regulasi serta sokongan program yang masif.
Sebelumnya, Wakil Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak DPC PDI Perjuangan Garut, Hj. Lina Rochhayati, mengungkapkan bahwa mayoritas pemicu perceraian di wilayahnya berakar dari persoalan ekonomi.
Berdasarkan hasil serap pendapat, jeratan utang rentenir, dampak judi online, hingga ketidakpastian penghasilan menjadi faktor dominan yang memaksa para ibu berjuang sendirian sebagai tulang punggung keluarga.

















































































