Jakarta Gesuri.id -Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran generasi muda termasuk Perempuan, khususnya dalam membangun kesadaran kebangsaan, mengorganisasi gerakan, dan merumuskan cita-cita politik bersama.
Gedung Indonesische Clubgebouw, adalah saksi Sejarah yang saat ini menjadi Museum Sumpah Pemuda di Jalan Kramat Raya No. 106, Jakarta Pusat.
Tempat itulah ikrar Sumpah Pemuda dibacakan dalam Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928 yang dihadiri sekitar 700an anak muda, peristiwa tersebut merupakan salah satu momentum penting dalam proses pembentukan identitas nasional Indonesia.
Dari rangkaian pertemuan itu lahirlah ikrar yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda, yakni pengakuan atas satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan yakni Indonesia. Peristiwa ini bukan sekadar tonggak sejarah, melainkan juga contoh kerja politik generasi muda dalam membangun kesepakatan bersama di tengah perbedaan suku, ras, etnis, agama dan sosial budaya 98 tahun yang lalu.
Generasi Muda dan Kerja Politik Kebangsaan
Kerja politik anak muda yang yang hadir dalam kongres tersebut tidak berlangsung secara spontan. Persatuan dibangun melalui pertemuan, pertukaran gagasan, pidato, perdebatan, dan perumusan kesepakatan. Mohammad Yamin berkontribusi dalam merumuskan ikrar, sedangkan Soegondo Djojopoespito memimpin jalannya kongres.
Proses ini menunjukkan bahwa politik tidak selalu berarti perebutan kekuasaan melalui lembaga formal. Politik juga dapat berupa kerja kolektif untuk membangun kesadaran, memperjuangkan kepentingan bersama, dan menyusun arah masa depan bangsa.
Menemukan landasan dan tujuan bersama bagi cita-cita Indonesia Merdeka merupakan salah satu aspek penting dari Kongres Pemuda II yang berlangsing 28 Oktober 1928. Para peserta yang berasal dari berbagai organisasi antara lain Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Minahasa, Jong Islamieten Bond, dan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) bersatu merumuskan gerak langkah perjuangan.
Yang menarik dan mengagumkan adalah usia peserta dalam kongres tersebut baru berkisar 20-25 tahun, usia yang masih relative sangat muda untuk ukurang pergerakan arah odiuanga
perjuangan kemerdekaan sebuah bangsa besar, Bangsa Indonesia.
Dengan latar belakang dan pengalaman organisasi yang berbeda-beda, mereka memiliki satu tujuan yakni mewujudkan Indonesia Merdeka, karena bagi keyakinan mereka, kemerdekaan dari segala bentuk penjajahan adalah pintu gerbang menuju Masyarakat Indonesia yang adil Makmur dan Sejahtera.
Peran Perempuan dalam Kongres Pemuda
Keterlibatan perempuan merupakan bagian penting yang perlu mendapat perhatian dalam pembacaan sejarah Sumpah Pemuda.
Di tengah struktur sosial kolonial dan keterbatasan akses perempuan terhadap pendidikan serta ruang publik, sejumlah perempuan mengambil bagian dalam pergerakan kebangsaan.
Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa gagasan tentang Indonesia tidak hanya dibicarakan oleh laki-laki, tetapi juga oleh perempuan yang memperjuangkan pendidikan, kesetaraan, dan keterlibatan dalam kehidupan masyarakat.
Salah satu tokoh yang menonjol adalah Siti Sundari. Dalam Kongres Pemuda II, ia menyampaikan pandangan mengenai pentingnya menanamkan rasa cinta tanah air sejak usia dini, termasuk kepada anak perempuan.
Gagasannya memperluas pemahaman tentang nasionalisme, kecintaan kepada tanah air bukan semata-mata tanggung jawab laki-laki atau kelompok yang terlibat langsung dalam perjuangan fisik, melainkan juga perlu dibangun melalui pendidikan dan pengasuhan dalam keluarga di kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Tokoh lainnya adalah Emma Poeradiredja, yang mendorong perempuan agar tidak berhenti pada pembicaraan, tetapi turut mewujudkan gagasan melalui tindakan nyata. Ada pula Pornomowoelan, seorang guru yang menaruh perhatian pada pendidikan dan pembentukan karakter kebangsaan.
Sementara itu, Johanna Masdani Tumbuan, yang juga dikenal sebagai Johanna Nanap Tumbuan, merupakan peserta muda dari lingkungan pergerakan pemuda Minahasa dan dikenal sebagai pembaca ikrar Sumpah Pemuda. Ia masih berusia 17 tahun dan Athia Salim (putri Haji Agus Salim) yang menjadi penyanyi pertama lagu Indonesia Raya berusia 15 tahun ketika kongres berlangsung pada Oktober 1928.
Keterlibatan para perempuan tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan kebangsaan memiliki dimensi yang Pendidikan, organisasi, penyampaian gagasan, dan partisipasi dalam forum publik merupakan bagian dari kerja politik.
Meski jumlah perempuan yang tercatat relatif sedikit dibandingkan keseluruhan peserta, kehadiran dan kontribusi mereka penting untuk memahami bahwa pembentukan bangsa Indonesia juga melibatkan perjuangan perempuan dalam memperoleh ruang untuk berbicara, bertindak dan berdampak dalam mewujudkan cita-cita politik kebangsaan menuju Indonesia Merdeka.
Pemuda dan Tanggung Jawab Masa Depan Refleksi Sumpah Pemuda tahun 2026, menghadirkan pertanyaan seperti apa yang sedang dipikirkan oleh generasi muda Indonesia yang berusia 20-25 tahun saat ini? Persoalan apa yang mereka perjuangkan, siapa yang memperoleh manfaat dari kerja mereka, dan bagaimana mereka menggunakan
pengetahuan, kreativitas, serta ruang partisipasi yang tersedia untuk menjawab tantangan masyarakat?
Bagaimana anak muda saat ini meramu keberagaman suku, bahasa, agama, dan organisasi kedaerahan, agar terwujud kesepahaman dalam kerja politik kebangsaan sebagai landasan perjuangan dalam mengisi kemerdekaan dan memajukan bangsa sebagaimana cita-cita proklamasi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk membandingkan generasi masa kini secara sederhana dengan pemuda tahun 1928. Setiap generasi hidup dalam situasi sosial, ekonomi, dan politik yang berbeda. Namun, semangat yang dapat dipelajari tetap relevan. Kemampuan mengenali persoalan bersama, membangun solidaritas lintas perbedaan, mengembangkan gagasan, dan menerjemahkannya menjadi tindakan nyata adalah landasan bergerak yang akan memberikan dampak untuk masa depan berbangsa dan bernegara.
Generasi muda hari ini menghadapi tantangan yang beragam, mulai dari ketimpangan sosial, akses pendidikan dan pekerjaan, perubahan teknologi, demokrasi yang buruk, hukum yang timpang, persoalan kerusakan lingkungan, hingga kualitas partisipasi publik. Menghadapi tantangan tersebut membutuhkan lebih dari sekadar simbolisme kebangsaan.
Diperlukan ruang dialog, organisasi yang terbuka, literasi sejarah, serta kesempatan bagi anak muda dan perempuan untuk ikut menentukan keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka.
Sumpah Pemuda menunjukkan bahwa persatuan Indonesia dibangun melalui proses perjumpaan, pertukaran gagasan, dar kerja politik generasi muda. Keterlbatan perempuan dalam kongres tersebut sekaligus mengingatkan bahwa sejarah perjuangan bangsa tidak dapat dipahami secara utuh tanpa mengakui kontribusi mereka.
Dari Kongres Pemuda II hingga Kongres Perempuan Indonesia, tampak bahwa cita-cita kebangsaan dapat terwujud melalui partisipasi berbagai kelompok, etnis, suku dan agama yang memperjuangkan ruang, pengakuan, tujuan dan masa depan bersama.
Peringatan Sumpah Pemuda tahun 2026 menjadi kesempatan untuk menghidupkan kembali semangat tersebut secara kritis kontekstual. Pertanyaan mendasarnya bukan hanya
bagaimana generasi mengenang perjuangan pendahulunya, melainkan juga bagaimana mereka bekerja untuk kepentingan publik hari ini.
Sebab, cinta tanah air tidak cukup dinyatakan melalui slogan, ia perlu diwujudkan melalui pengetahuan, kepedulian, keberanian menyampaikan gagasan, dan tindakan kolektif yang memperluas keadilan serta partisipasi yang berdampak langus untuk kesejahteraan masyarakat. Di situlah politik generasi muda menemukan makna dan tanggung jawab masa depan, yakni sebagai kerja berkelanjutan untuk membangun Indonesia yang lebih inklusif demokratis dan berdampak
Jakarta, 28 Oktober 2026

















































































