Jakarta, Gesuri.id - Wasekjen DPP PDI Perjuangan Bidang Komunikasi, Adian Napitupulu, angkat bicara dalam teror yang diterima Ketua BEM UGM Tiyo Ardiyanto.
Adian menegaskan bahwa tindakan teror tidak lagi relevan dalam kehidupan berbangsa saat ini.
Menurutnya, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dan seharusnya diselesaikan melalui dialog yang santun.
Baca: Ganjar Pranowo Tak Ambil Pusing Elektabilitas Ditempel Ketat
“Teror itu sudah nggak laku ya, sudah bukan zamannya. Kalau kita hidup di zaman sekarang, kita harus lebih beradab. Perbedaan pendapat itu sesuatu yang biasa. Duduk di meja sama-sama, sampaikan argumentasi masing-masing, dan biarkan rakyat menjadi jurinya,” ujar Adian.
Ia menekankan bahwa tindakan teror dalam segala bentuk justru membawa kemunduran, bukan kemajuan.
Untuk itu, ia meminta teror tersebut dihentikan apabila ingin Indonesia lebih beradab.
“Dibandingkan teror-teror, menurut saya pelaku teror itu sudahlah, hentikan kalau kalian mau Indonesia menjadi semakin lebih beradab,” tambahnya.
Adian menekankan pentingnya menyelesaikan perbedaan pandangan dengan cara-cara yang sehat.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
"Singkatnya begini, kata lawan kata, data lawan data, buku lawan buku. Jangan kata, data, buku dilawan dengan teror, intimidasi, dan sebagainya. Nggak boleh. Itu membuat kita menjadi bangsa yang secara keberadaban mundur,” tegasnya.
Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto membagikan bukti-bukti bagaimana teror tak hanya terjadi kepadanya usai dirinya mengkritik Presiden Prabowo Subianto dan Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi juga pada ibunya.
Dengan berani, Tiyo menunjukkan bukti-bukti kalau ibunya mendapat seran

















































































