Jakarta, Gesuri.id - Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di dunia pendidikan harus disikapi secara bijak oleh sivitas akademika.
Anggota Komisi VIII DPR RI, Ina Ammania, mengingatkan mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) agar tidak menjadikan AI sebagai jalan pintas instan dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik.
Menurut Ina, teknologi AI memang dapat membantu mencari informasi dan mengembangkan gagasan. Namun, proses berpikir kritis melalui membaca buku dan memverifikasi sumber konvensional tetap tidak boleh ditinggalkan.
Baca: Perjalanan Hidup Ganjar Pranowo Lengkap dengan Rekam Jejak
"Ketika membuat skripsi, AI membantu memberikan informasi, tetapi tetap harus diawasi. Jangan sampai ada plagiasi. Tugas mahasiswa itu belajar dan membaca buku, bukan plagiat," ujar Ina dalam acara Ngobrol Pendidikan Agama Islam (Ngopi) di Grand Padis Hotel, Jember, Jawa Timur, Selasa (22/9).
Politikus Fraksi PDI Perjuangan ini juga mendorong para dosen untuk ikut meningkatkan literasi digital agar dapat mengimbangi pesatnya adopsi teknologi oleh mahasiswa.
"Dosen berkewajiban untuk terus belajar juga, tidak boleh gagap teknologi (gaptek) agar bisa mengawasi proses akademik secara optimal," tegasnya.
Di tengah gempuran teknologi, Ina menekankan pentingnya penguatan karakter khas pesantren—seperti kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian sosial—sebagai nilai tambah mahasiswa PTKI di dunia kerja. Nilai-nilai tersebut perlu dipadukan dengan wawasan global, penguasaan bahasa asing, riset, serta kemampuan beradaptasi.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya menciptakan iklim kompetisi yang sehat dan bebas dari praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) dalam penyerapan tenaga kerja.
"Kesempatan kerja harus didasarkan pada prestasi dan kompetensi, bukan hubungan pribadi. Kalau berprestasi, kenapa tidak? Makanya dasar utamanya harus kompetensi," tambah Ina.
Senada dengan Ina, Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN KHAS Jember, Abdul Mu’is, menilai AI berisiko membuat mahasiswa menyelesaikan tugas tanpa memahami substansinya.
Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
"Sekarang membuat tugas cukup dua menit selesai. Namun, apakah mahasiswa itu paham dengan isi tugasnya? Belum tentu," kata Abdul Mu’is.
Ia menegaskan bahwa kecerdasan buatan tidak akan pernah bisa menggantikan peran pendidik secara utuh. Sebab, fungsi guru atau dosen bukan sekadar menyalurkan ilmu pengetahuan, melainkan memberikan teladan, motivasi, serta bimbingan moral.
"Ilmunya mungkin bisa disediakan oleh AI, tetapi fungsi guru sebagai pengayom dan teladan tidak bisa digantikan oleh teknologi," pungkasnya.
Forum Ngopi bertema "Membentuk Generasi PTKI Unggul: Berkarakter Pesantren, Berwawasan Global, dan Responsif Terhadap Zaman" ini diikuti oleh sekitar 500 mahasiswa dari tujuh perguruan tinggi di Jember dan sekitarnya.

















































































