Badung, Gesuri.id – Komisi VII DPR RI memberikan apresiasi tinggi terhadap sistem pengolahan limbah cair yang diterapkan PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC) di kawasan Nusa Dua, Bali.
Inovasi ini dinilai memiliki potensi besar untuk diadopsi secara nasional sebagai strategi konservasi sumber daya air, terutama di wilayah destinasi pariwisata yang kerap terkendala akses air bersih.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, menegaskan bahwa model pengelolaan air sirkular ini dapat menjadi jawaban nyata bagi tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
Dalam kunjungan kerja reses di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Selasa (5/5/2026), Evita menyoroti kontradiksi antara kekayaan alam Indonesia dengan keterbatasan infrastruktur dasar di daerah terpencil.
"Indonesia sangat kaya dengan pantai dan wisata bahari, namun kenyataannya di pulau-pulau kecil kita sering mengalami kesulitan air bersih. Inovasi pengolahan limbah ini bisa menjadi solusi konkret untuk masalah tersebut," ujar Evita Nursanty.
Politisi senior ini menambahkan bahwa implementasi teknologi pengolahan limbah cair menjadi air bersih harus dilakukan secara adaptif. Menurutnya, tiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga skala pengembangan dan alokasi anggarannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan lokal.
"Langkah ini sangat sejalan dengan upaya pemerintah dalam menekan polusi limbah dan sampah di kawasan wisata. Kita ingin pariwisata kita tidak hanya indah, tapi juga berkelanjutan secara ekologis," tuturnya.
Delegasi DPR RI berkesempatan meninjau langsung kawasan Lagoon Nusa Dua seluas 16 hektare yang dikelola oleh anak usaha ITDC, Nusantara Utilitas.
Fasilitas ini mengintegrasikan limbah cair dari 21 hotel bintang lima dan vila melalui jaringan pipa bawah tanah, yang kemudian disaring menjadi air untuk kebutuhan irigasi dan suplai air bersih.
Plt Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar, menjelaskan bahwa sistem ini mampu memproduksi rata-rata 4.000 meter kubik air bersih dan 1.800 meter kubik air irigasi per hari. Selain limbah cair, ITDC juga menggunakan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO).
Sea Water Reverse Osmosis adalah proses pemisahan kandungan garam dari air laut menggunakan tekanan osmotik melalui membran khusus, sehingga menghasilkan air yang layak konsumsi. Fasilitas di Nusa Dua ini mampu memproduksi hingga 1,31 juta meter kubik air per tahun.
Baca: Perjalanan Hidup Ganjar Pranowo Lengkap dengan Rekam Jejak
Proyek sirkular yang menelan investasi sekitar Rp120 miliar melalui skema kemitraan ini terbukti memberikan dampak ekonomi positif bagi pelaku industri.
"Air hasil olahan ini sudah digunakan secara luas oleh perhotelan di kawasan ini. Menariknya, harga yang ditawarkan justru lebih rendah dibandingkan sumber air konvensional," ungkap Ahmad Fajar.
Melalui dukungan Komisi VII DPR RI, diharapkan model "Nusa Dua" ini dapat segera direplikasi di destinasi pariwisata prioritas lainnya di Indonesia guna mewujudkan kemandirian air bersih nasional.

















































































