Jakarta, Gesuri.id – Anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana, mengajak masyarakat Belanda untuk berani meninjau ulang perspektif sejarah kolonial mereka.
Dalam diskusi terbuka di Amsterdam, Bonnie menegaskan bahwa era Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) bukanlah sekadar masa kejayaan ekonomi, melainkan lembaran hitam yang penuh kekerasan dan eksploitasi terhadap bangsa Indonesia.
Diskusi yang diinisiasi oleh Omroep ZWART dan OBA Next Lab ini digelar di Perpustakaan Umum Kraaiennest, Amsterdam Zuidoost, Senin (4/5).
Baca: Jangkar Baja Nilai Ganjar Pranowo Sosok Yang Otentik & Konsisten
Momentum ini terasa krusial karena bertepatan dengan peringatan berakhirnya Perang Dunia II di Belanda. Bonnie hadir sebagai pembicara utama bersama sejarawan Belanda, Lara Nuberg.
Dalam paparannya, Bonnie menekankan pentingnya "dekolonisasi pikiran" sebagai fondasi untuk membangun hubungan yang lebih sehat antara Indonesia dan Belanda di masa depan. Menurutnya, pemahaman sejarah yang jujur adalah obat bagi trauma masa lalu.
"Pelajaran sejarah harus mampu membebaskan diri dari belenggu trauma, sekaligus memutus rantai kekerasan yang masih sering terjadi di masyarakat, terutama dalam dunia pendidikan," ujar politisi PDI Perjuangan tersebut di hadapan audiens yang terdiri dari warga keturunan Indonesia, Suriname, hingga Afrika.
Bonnie juga menyoroti bagaimana pola eksploitasi kolonial bertransformasi ke bentuk modern. Ia menarik garis merah antara perebutan rempah-rempah di masa lampau dengan perebutan sumber daya alam saat ini.
"Jika dahulu Indonesia menjadi incaran karena rempahnya, kini pola yang sama terjadi pada sektor pertambangan, terutama nikel. Ketidakadilan ekonomi global ini adalah sisa-sisa pola kolonial yang harus kita waspadai," tegasnya.
Selain isu ekonomi, Bonnie menguliti warisan feodalisme dan pembungkaman suara yang diwariskan era kolonial. Ia mencontohkan kisah pengasingan Ki Hadjar Dewantara sebagai bukti betapa represifnya otoritas kala itu terhadap kritik.
Menanggapi pertanyaan warga keturunan Jawa-Suriname terkait minimnya literasi mengenai kuli kontrak dalam kurikulum di Indonesia,
Baca: Ganjar Membuktikan Dirinya Sebagai Sosok Yang Inklusif
Bonnie mengakui bahwa historiografi nasional masih cenderung elitis. Ia berkomitmen mendorong narasi "orang-orang kecil" atau sejarah akar rumput agar mendapatkan porsi lebih besar dalam materi pengajaran di sekolah.
"Kolonialisme secara fisik mungkin berakhir setelah Perang Dunia II. Namun, 'kolonialitas' sebagai mentalitas yang melanggengkan diskriminasi dan rasisme masih sering kita temui hingga hari ini," pungkas Bonnie.
Sebagai bagian dari rangkaian kunjungannya, Bonnie Triyana dijadwalkan kembali mengisi dialog publik mengenai sejarah kolonialisme dan hubungan bilateral di gedung pusat kebudayaan De Balie, Amsterdam, pada Rabu (6/5).

















































































