Surabaya, Gesuri.id – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, Eko Yunianto, mendesak pemerintah mengoptimalkan posko darurat dan pemenuhan logistik bagi warga terdampak banjir lahar hujan Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan keselamatan masyarakat, terutama di tengah potensi banjir lahar susulan akibat cuaca ekstrem.
Eko meminta penanganan bencana tidak hanya diarahkan pada perbaikan infrastruktur yang rusak. Pemerintah juga perlu memastikan ketersediaan kebutuhan pokok, kesiapan lokasi pengungsian, serta kelancaran distribusi bantuan bagi masyarakat di kawasan rawan bencana.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
Ia mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah kabupaten, dan aparat setempat meningkatkan koordinasi serta mempercepat pemantauan di sejumlah titik rawan. Perbaikan darurat terhadap infrastruktur terdampak dan penyediaan jalur alternatif bagi warga juga harus segera dilakukan.
“Kami meminta kepada BPBD bersama aparat setempat untuk bergerak cepat memantau titik-titik rawan, melakukan perbaikan darurat pada infrastruktur yang rusak seperti tanggul jebol, serta memastikan jalur alternatif bagi warga segera berfungsi agar mobilitas tidak lumpuh total,” kata Eko, Selasa (3/11/2026).
Banjir lahar hujan yang terjadi pada Senin (2/11/2026) pagi mengakibatkan tanggul di Desa Pororejo, Kecamatan Tempursari, jebol. Luapan material vulkanik di Daerah Aliran Sungai (DAS) Glidik juga menyebabkan akses jalan dari Pororejo menuju Dusun Tamansari, Desa Kaliwuling, terputus.
Kondisi tersebut berpotensi menghambat aktivitas masyarakat, termasuk proses evakuasi dan penyaluran bantuan. Oleh karena itu, pembukaan jalur alternatif menjadi salah satu langkah yang perlu diprioritaskan dalam penanganan dampak bencana.
Selain penanganan darurat, Eko menekankan pentingnya mitigasi bencana secara berkelanjutan. Menurutnya, pengawasan terhadap kawasan rawan dan jalur aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru perlu diperketat, khususnya saat cuaca ekstrem meningkatkan risiko banjir lahar.
Baca: Kisah Perjuangan Ganjar dari Mahasiswa Sampai Jadi Capres
“Keselamatan warga adalah prioritas utama. Mitigasi dan pemantauan di jalur aliran sungai yang berhulu di Semeru harus terus diperketat agar potensi risiko korban maupun kerugian yang lebih besar dapat diminimalisasi,” tegasnya.
Sementara itu, aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih terpantau melalui sejumlah aktivitas kegempaan. Berdasarkan data Pos Pengamatan Gunung Semeru untuk periode Senin (2/11/2026) pukul 00.00–06.00 WIB, tercatat satu kali gempa getaran banjir dengan durasi enam jam.
Pada periode pengamatan yang sama, tercatat pula satu kali gempa guguran dengan amplitudo 6 milimeter dan durasi 115 detik. Selain itu, terjadi 14 kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 10–25 milimeter dan durasi 31–153 detik.
Data aktivitas tersebut menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana di kawasan Gunung Semeru. Eko berharap koordinasi lintas instansi terus diperkuat agar proses penyelamatan warga, distribusi bantuan, dan penanganan dampak bencana dapat berjalan cepat serta terukur.

















































































