Ikuti Kami

Banyu Biru Djarot Apresiasi Kinerja Industri Nasional

Banyu Biru menekankan dua hal utama, yakni apresiasi atas capaian industri nasional serta penguatan kebijakan strategis ke depan.

Banyu Biru Djarot Apresiasi Kinerja Industri Nasional
Anggota Komisi VII DPR RI, Banyu Biru Djarot.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi VII DPR RI, Banyu Biru Djarot, menyampaikan apresiasi terhadap kinerja industri nasional dalam Rapat Kerja Komisi VII DPR RI bersama Menteri Perindustrian. 

Dalam rapat tersebut, Banyu Biru menekankan dua hal utama, yakni apresiasi atas capaian industri nasional serta penguatan kebijakan strategis ke depan.

Menurutnya, sektor industri nasional menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Ia menilai Indeks Produksi Industri Manufaktur (IPNM) tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Selain itu, Indonesia juga menempati peringkat pertama manufacturing value added di kawasan ASEAN pada 2024.

Baca: Ganjar Pranowo Tegaskan PDI Perjuangan Tak Bisa Didikte

“Saya ingin menyampaikan dua hal, pertama apresiasi dan kedua penguatan. Apresiasi atas pertumbuhan IPNM yang di atas ekonomi nasional, capaian manufacturing value added nomor satu di ASEAN, serta respons cepat pemerintah dalam menangani dampak bencana dengan menghidupkan kembali industri kecil di Sumatera,” kata Banyu Biru, melalui keterangan tertulisnya, Selasa, 27 Januari 2026.

Pada aspek penguatan, Banyu Biru menyoroti pengenalan Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC) oleh Menteri Perindustrian sebagai langkah strategis dalam pembangunan industri masa depan. Ia menilai, pengembangan ICDEC perlu didukung dengan kebijakan insentif yang tepat, khususnya untuk sektor industri berteknologi tinggi.

“Penguatan diarahkan pada ICDEC, dengan penekanan pada insentif industri semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), infrastruktur cloud, serta pengembangan hilirisasi logam tanah jarang,” ujarnya.

Banyu Biru menilai arah kebijakan industri nasional saat ini sudah berada di jalur yang tepat, dari ekonomi digital menuju ekonomi berbasis kecerdasan. “Menurut saya, arahnya sudah sangat bagus, dari digital economy ke intelligence economy,” ucapnya.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan perguruan tinggi dalam pengembangan ICDEC. Tercatat, sebanyak 16 kampus terlibat dalam program tersebut. “Mengacu data Kementerian Ekonomi Kreatif 2025, investasi dan dukungan anggaran untuk pengembangan aplikasi sudah mencapai lebih dari Rp40 triliun. Potensinya sangat besar,” katanya.

Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar 

Selain itu, Banyu Biru mendorong Indonesia untuk belajar dari praktik global, seperti pengembangan industri semikonduktor di Taiwan, China, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. “Jika Indonesia mampu mengadopsi praktik seperti TSMC di Taiwan, SMIC di China, Samsung, atau Intel, hasilnya akan sangat luar biasa,” ujarnya.

Ia menegaskan pentingnya perancangan insentif fiskal dan nonfiskal yang selektif dan strategis agar pembangunan industri berjalan berkelanjutan dari hulu hingga hilir. “Insentif harus dirancang secara tepat, tidak hanya untuk menarik investasi, tetapi juga membangun ekosistem industri yang berorientasi nilai tambah dan keberlanjutan lingkungan,” katanya.

Menutup pernyataannya, Banyu Biru menyampaikan apresiasi atas inisiatif pengembangan ICDEC. “ICDEC ini keren dan paten,” ucapnya.

Quote