Ikuti Kami

Bonnie Triyana: Bung Karno adalah Mujtahid yang Mengontekstualkan Islam dengan Zaman

Bonnie menegaskan bahwa Sang Proklamator bukan sekadar pemikir, melainkan seorang mujtahid yang berani melakukan ijtihad sosial.

Bonnie Triyana: Bung Karno adalah Mujtahid yang Mengontekstualkan Islam dengan Zaman
Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Bonnie Triyana,

Rangkasbitung, Gesuri.id – Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Bonnie Triyana, membedah kedalaman pemikiran Islam Soekarno dalam diskusi bertajuk "Bedah Pemikiran Islam Bung Karno" di Museum Multatuli, Rangkasbitung, Jumat (6/3).

Bonnie menegaskan bahwa Sang Proklamator bukan sekadar pemikir, melainkan seorang mujtahid yang berani melakukan ijtihad sosial.

Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur

Menurut Bonnie, akar pemikiran Islam Bung Karno terbentuk melalui persinggungan budaya yang kaya. Dimulai dari bimbingan H.O.S. Cokroaminoto di Surabaya, hingga pendalaman literatur Al-Qur'an dan debat intelektual bersama tokoh Persis, Ahmad Hassan, saat masa pengasingan.

"Bung Karno adalah produk campuran kebudayaan yang dibesarkan dalam tradisi sinkretis, sehingga ia dengan mudah merangkul berbagai kalangan," ujar sejarawan yang juga pendiri Historia.id tersebut.

Bonnie mencontohkan keberanian Bung Karno dalam mendobrak kekakuan tafsir pada masanya. Salah satunya adalah saat Bung Karno membolehkan penggunaan sabun (kreolin) untuk menggantikan air tanah dalam menyucikan najis, serta mengizinkan transfusi darah dari non-muslim untuk kemanusiaan pada 1938.

Baca: Perjalanan Hidup Ganjar Pranowo Lengkap dengan Rekam Jejak

Namun, Bonnie menilai semangat independensi pemikiran Bung Karno kini terancam oleh posisi diplomatik Indonesia. Ia mengkritik keras keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace (BOP) di tengah eskalasi serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran.

"Keanggotaan ini menyeret Indonesia ke dalam blok yang dipimpin Amerika, bertentangan dengan prinsip bebas aktif. Ini saat yang tepat untuk menjalankan opsi strategis: keluar dari Board of Peace dan kembali ke khittah diplomatik kita," tegas Bonnie.

Quote