Ikuti Kami

Budi Leksono Soroti Keberadaan Reklami di Taman Median Jalan Kota Surabaya

Buleks menjelaskan, sejak awal konsep pemanfaatan dan keberadaan taman mediaan jalan di kota Surabaya.

Budi Leksono Soroti Keberadaan Reklami di Taman Median Jalan Kota Surabaya
Anggota Komisi B DPRD Surabaya, Budi Leksono.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi B DPRD Surabaya, Budi Leksono kembali menyoroti keberadaan reklame di taman median jalan Kota Surabaya.

Budi Leksono yang akrab disapa Buleks ini menilai adanya pemasangan reklame di ruang terbuka hijau, hal ini tidak bisa semata-mata dilihat dari sisi peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) tapi harus mengedepankan aspek estetika dan fungsi taman sebagai ruang publik.

Buleks menjelaskan, sejak awal konsep pemanfaatan dan keberadaan taman mediaan jalan di kota Surabaya itu untuk aktivitas ekonomi memang dimungkinkan sebagai upaya mencari sumber pendapatan baru bagi daerah (pemkot). 

Baca: Ganjar Pranowo Tekankan Pentingnya Kritik

“Tapi jangan lupa, kontribusi tersebut seharusnya tetap sejalan dengan tujuan utama taman, yakni menjaga keindahan kota dan memberikan ruang nyaman bagi masyarakat” sebut Buleks saat bincang-bincang dengan awak media.

“Jika ada unsur ekonomi dan ada benda baru,  misalnya bermuatan reklame yang masuk ke taman, maka konteks estetika dan edukasinya harus menjadi pertimbangan utama,” kata anggota dewan dari PDI Perjuangan Surabaya ini, Rabu (4/2/2026).

Sorotan Buleks, adanya kondisi dimana munculnya beberapa reklame justru tampak lebih dominan dibandingkan elemen taman itu sendiri. Situasi tersebut bisa berpotensi menghilangkan nilai estetika dan merusak identitas taman yang selama ini dibangun dengan perjuangan panjang, tutur Ketua Fraksi PDI Perjuangan Kota Surabaya ini.

“Jangan sampai dapat banyak pendapatan, tetapi merusak keberadaan taman, khususnya di median jalan yang lebih menonjol iklan dab reklamenya, maka hal itu sudah jauh dari harapan masyarakat Surabaya,” ujarnya.

Budi Leksono juga menekankan pentingnya transparansi dan kejelasan perhitungan pendapatan dari reklame tersebut dengan merusak keindahan tata kota.

Baca: Ganjar Pranowo Tak Ambil Pusing Elektabilitas Ditempel Ketat

Pertimbangkan perhitungan dari nilai kontribusi ekonomi dengan durasi pemasangan jumlah reklame, dengan nilai estetika kota ya harus dihitung secara adil dan terbuka agar benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat kota.

Selain itu masih Budi Leksono, penataan reklame, termasuk videotron yang dinilai perlu dievaluasi secara menyeluruh. Bukan hanya soal boleh atau tidaknya reklame tersebar ke taman, melainkan bagaimana bentuk, ukuran, penempatan, serta konten reklame agar tetap selaras dengan estetika taman.

“Evaluasi pola penempatannya penting. Jangan sampai demi kepentingan ekonomi, fungsi dan keindahan taman justru dikorbankan,” katanya dilansir dari media Lentera.

Quote