Ikuti Kami

Edi Purwanto Dorong Pembangunan Irigasi Tersier Libatkan Partisipasi Langsung Masyarakat

“Ini padat karya. Kelompok tani yang mengerjakan sendiri, uangnya masuk ke kelompok,” kata Edi.

Edi Purwanto Dorong Pembangunan Irigasi Tersier Libatkan Partisipasi Langsung Masyarakat
Anggota Komisi V DPR RI dari daerah pemilihan Jambi, Edi Purwanto.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi V DPR RI dari daerah pemilihan Jambi, Edi Purwanto, mendorong percepatan pembangunan infrastruktur pertanian di Provinsi Jambi, khususnya melalui program pembangunan irigasi tersier yang melibatkan partisipasi langsung masyarakat.

Program tersebut dinilai penting untuk memperkuat sektor pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di daerah.

“Ini padat karya. Kelompok tani yang mengerjakan sendiri, uangnya masuk ke kelompok,” kata Edi, dikutip Senin (9/3/2026).

Edi menjelaskan, program pembangunan irigasi tersier tersebut dilaksanakan melalui skema padat karya dengan melibatkan kelompok tani sebagai pelaksana utama di lapangan. Melalui pola tersebut, para petani tidak hanya mendapatkan manfaat dari pembangunan infrastruktur pertanian, tetapi juga memperoleh tambahan pendapatan dari kegiatan pengerjaan proyek tersebut.

Menurutnya, hingga saat ini terdapat sekitar 200 program pembangunan irigasi tersier yang dijalankan dengan skema padat karya di berbagai wilayah. Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan ketersediaan air bagi lahan pertanian sekaligus memperkuat produktivitas sektor pertanian di daerah.

Ia menilai, keterlibatan langsung kelompok tani dalam pelaksanaan program menjadi salah satu kunci keberhasilan pembangunan irigasi. Dengan model tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembangunan yang berlangsung di lingkungan mereka sendiri.

Selain pembangunan infrastruktur pertanian, Edi juga menyoroti pentingnya pembangunan fasilitas sanitasi bagi masyarakat. Ia mengatakan pemerintah turut menjalankan program pembangunan sanitasi dan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) komunal melalui skema Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas).

“Anggarannya sekitar Rp400 juta. Asumsinya satu rumah sekitar Rp 16 juta,” ujarnya.

Program Sanimas tersebut, kata Edi, dirancang untuk meningkatkan kualitas sanitasi masyarakat sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Pembangunan fasilitas sanitasi komunal dinilai penting terutama di wilayah yang masih memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak.

Ia menambahkan, dalam pelaksanaannya program tersebut juga sangat mengandalkan semangat gotong royong masyarakat. Dengan adanya partisipasi aktif dari warga, jumlah penerima manfaat bahkan bisa melebihi perencanaan awal yang telah ditetapkan.

“Kadang yang seharusnya 24 rumah bisa sampai 27 rumah,” ucapnya.

Edi berharap berbagai program pembangunan berbasis masyarakat tersebut dapat terus diperluas agar manfaatnya semakin dirasakan oleh masyarakat luas. 

Menurutnya, pendekatan pembangunan yang melibatkan masyarakat secara langsung tidak hanya mempercepat realisasi program, tetapi juga memperkuat rasa memiliki terhadap hasil pembangunan yang telah dilakukan.

Ia juga menekankan pentingnya pengawasan bersama dalam pelaksanaan berbagai program tersebut agar seluruh bantuan yang disalurkan pemerintah benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan serta dapat dimanfaatkan secara optimal.

Quote