Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi V DPR RI Dapil Jambi, Edi Purwanto, optimistis persoalan banjir yang selama ini menjadi salah satu pekerjaan rumah terbesar Kota Jambi dapat dituntaskan secara bertahap dalam lima tahun ke depan. Optimisme itu disampaikannya setelah meninjau langsung progres pembangunan kolam retensi bersama Wali Kota Jambi Maulana, Wakil Wali Kota Jambi Diza, dan Kepala Balai.
“Sekarang kita punya input control, bagaimana menyelesaikan banjir di Kota Jambi. Ada beberapa strategi yang kita coba bereskan dulu. Mudah-mudahan dalam waktu lima tahun ini Kota Jambi akan terbebas dari banjir,” kata Edi, dikutip Selasa (8/9/2026).
Dalam peninjauan tersebut, Edi melihat progres pembangunan kolam retensi di lapangan sudah cukup menggembirakan. Sejumlah pekerjaan, termasuk pemasangan tiang pancang dan aktivitas alat berat, terus berjalan sebagai bagian dari upaya pengendalian banjir di Kota Jambi.
Menurut Edi, penyelesaian persoalan banjir tidak dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan satu program. Diperlukan strategi yang saling terhubung, mulai dari pembangunan infrastruktur pengendali banjir hingga penataan kawasan.
Karena itu, kolam retensi yang tengah dikerjakan diharapkan tidak sekadar menjadi bangunan penampung air, tetapi menjadi bagian dari solusi jangka panjang untuk mengurangi risiko banjir yang selama ini menghantui sejumlah kawasan di Kota Jambi.
Edi menyebut pembangunan kolam retensi tersebut ditargetkan selesai pada 20 September 2026. Ia mengapresiasi komitmen jajaran Balai yang memastikan pekerjaan dapat diselesaikan sesuai target.
“Insyaallah nanti 20 September 2026 selesai pengerjaan kolam retensi ini. Pak Kepala Balai sudah berkomitmen untuk menyelesaikannya,” sebutnya.
Namun, Edi menegaskan pekerjaan tidak berhenti setelah pembangunan kolam retensi rampung. Ia justru melihat kawasan tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi ruang publik baru yang dapat dimanfaatkan masyarakat Kota Jambi.
“Nanti tinggal aksesori dan sebagainya, bagaimana kota mempercantik, sehingga kolam retensi menjadi destinasi wisata orang-orang kota untuk jogging, untuk berkumpul, untuk kuliner dan sebagainya,” ujarnya.
Dengan konsep tersebut, kawasan kolam retensi nantinya diharapkan tidak hanya berfungsi ketika hujan turun, tetapi juga dapat hidup setiap hari sebagai ruang interaksi masyarakat.
Edi bahkan membayangkan kawasan tersebut dapat dimanfaatkan mahasiswa, organisasi kepemudaan, serta berbagai kelompok masyarakat sebagai ruang berdiskusi dan membahas persoalan pembangunan Kota Jambi.
“Bisa saja nanti ada adik-adik mahasiswa, adik-adik OKP dan macam-macam menggunakan tempat ini untuk diskusi, menggali persoalan-persoalan Jambi, menggali persoalan yang memang bisa diuraikan secara bersama-sama,” jelasnya.
Selain fungsi pengendalian banjir dan ruang publik, Edi memiliki gagasan lain untuk membuat kawasan kolam retensi semakin menarik. Setelah melihat kondisi air yang dinilainya cukup jernih, ia mengusulkan agar kolam tersebut nantinya diisi ikan dalam jumlah besar.
“Kalau airnya jernih, saya punya usul nanti masukkan ikan kurang lebih 200 sampai 300 ribu ikan. Tidak boleh dipancing, biarkan saja lima, enam tahun sampai besar,” imbuhnya.
Menurut Edi, konsep tersebut dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan ekosistem baru sekaligus mempercantik kawasan kolam retensi. Keberadaan ikan juga diharapkan dapat menjadi daya tarik tambahan bagi masyarakat yang nantinya beraktivitas di kawasan tersebut.
Untuk merealisasikan gagasan itu, Edi menyebut diperlukan sistem pengelolaan yang baik, mulai dari penyediaan pakan hingga pengamanan kawasan.
“Pakannya kita siapkan, penjaga parkirnya kita siapkan. Nanti kita coba diskusikan dengan Pak Wali Kota,” katanya.
Edi berharap pembangunan kolam retensi dapat berjalan sesuai target dan menjadi salah satu bagian penting dari strategi pengendalian banjir Kota Jambi. Di sisi lain, pengembangan kawasan sebagai ruang publik diharapkan memberikan manfaat tambahan bagi masyarakat, sehingga infrastruktur pengendali banjir tersebut memiliki fungsi sosial dan ekonomi yang lebih luas.

















































































